Globalisasi dan Dampak Desain Serta Relasinya Terhadap Industri Kreatif

 

1

 

Globalisasi dan Dampak Desain Serta Relasinya Terhadap Industri Kreatif

Arief Johari Magister Desain ITB 27111006

 

Abstract

Indonesia is a big country wich rich of natural resources, but the development of science and technology is left behind from the other countries, not be surprised when this issue raises worried for various fields of science. The social, economic political instability has exacerbated public sensitivity to all aspects of life, such as lack of government attention to the discovery and intellectual property rights not a sign of develop science and national cultural. The new ideas are considered as a trash. Whether this mentality that produced as aristocracy since hundreds of years ago, so now we life in the civilization that haven’t caracter and personality. Why we are more amenable to the invention by the other nations rather than our idea? Instead of issues in the design such global economic crisis has given the self-awareness to be able to creative passion to create, and innovate in generating ideas and new work, especially the development of product design to evoke the creative industries are expected to breaking the problem perception/ mind set of products, and other peoples idea. Ergonomic problems have been demanded product colaborate between sciences and design so that it becomes a serious concern in the development of all forms of product design. Will this be realized to develop the economy and character of a civilized nation that can compete at the international level.

Keywords: Globalization, Creative Industry, Ergonomics, Product Design

                                          

 

 

 

2

 

Pendahuluan

Peradaban manusia/ humancivilization tidak lepas dari berbagai persoalan, mulai kebutuhan pokok/ basic needs sampai yang sifatnya rohaniah. Dalam kaitannya dengan kebudayaan, science memberikan makna dan mampu menggerakan dinamika serta mentalitas manusia. Semuanya berjalan atas dasar kemampuan berfikir manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, dari keragaman sumber daya alam inilah sehingga melahirkan barbagai suku bangsa dan budaya. Tentu kekayaan ini merupakan modal besar dalam memenuhi khasanah peradaban manusia, sebagai bangsa yang besar seyogyanya kita mampu menguasai segala aspek dan unsur pengetahuan namun inilah yang tidak terjadi semenjak jaman Majapahit hingga sekarang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi jauh tertinggal oleh negara lain yang tidak sebesar bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, dalam menerima segala perubahan, penemuan ide dan gagasan baru, terkadang kita sulit mengapresiasi dan bahkan mempertanyakannya pula.

Perkembangan sains dan teknologi secara global telah jauh meninggalkan masyarakat kita, akibatnya berbagai penemuan dalam sains dan teknologi yang menyerbu masyarakat kita belum sepenuhnya diapresiasi oleh masyarakat dengan baik. (Zainuddin, 2010, p140)  

Carut-marutnya perkembangan sosial, politik ekonomi seperti telah memperuncing sensitifitas masyarakat terhadap penemuan ide dan gagasan baru. Yang terjadi malah memunculkan sifat apriori terhadap berbagai kemampuan anak bangsa. Namun sebaliknya mengapa kita jauh bisa lebih menerima penemuan atau ide yang dilotarkan oleh bangsa lain, mungkinkah ini disebabkan oleh karena bangsa kita terlalu lama dijajah? sehingga memunculkan mind set bahwa mereka jauh lebih maju dan berkembang dibanding bangsa yang dijajahnya. Premis ini berimplikasi pula pada dunia seni dan desain di Indonesia. Gaya desain yang cenderung mengacu pada gaya moderen misalnya lebih menonjolkan karakter material, menghilangkan ornamen, hilangnya bentuk-bentuk dekoratif, penyederhanaan bentuk sehingga telah mengubah perkembangan wacana desain yang tidak hanya pada bentuk namun pada konsep.

 

3

 

3

 

Munculnya babak baru telah menimbulkan kegelisahan terutama lahirnya globalisasi dan world free trade, sehingga menjadi sebuah bordeles1. Moderenisme berfikir bahwa  budaya tradisi dianggap seni yang adiluhung dan tidak akan mampu bersaing dengan seni modern, ini berdampak pada perubahan mind setdalam memahami seni tradisi yang akhirnya seni tradisi tidak lagi menjadi kebanggaan bangsa. Melihat hal ini post-modernisme berusaha untuk membangun kembali tradisi sebagai modal, amunisi, spirit dalam mewujudkan kembali seni yang mampu bersaing dalam arus globalisasi.

Krisis global/ Globalcrisis berkepanjangan, tanpa disadari  telah membangunkan semangat anak bangsa dalam mengelola sumber daya alam khususnya di Indonesia. Semangat untuk mencipta, berkreasi dan berinovasi mampu memunculkan ide-ide serta karya baru khususnya produk desain/ craft. Hal ini pula telah memicu tumbuhnya industri kreatif di Nusantara, berbagai riset dunia akademisi turut pula memberikan warna dalam pemberdayaan budaya lokal. Namun keberhasilan ini belum mampu mendongkrak Indonesia dari keterpurukan ekonomi secara makro, salah satu faktor penyebabnya adalah “management problem”. Berfikir sempit dalam pengelolaan pemasaran produk telah membangun persepsi bahwa produk desain yang diciptakan hanya untuk konsumsi dalam negeri, inilah yang mengakibatkan produk kita kalah tampil di dunia internasional. Hal ini pula yang menjadikan kategorisasi negara Indonesia dimata dunia sebagai negara konsumtif paling potensial.

 

 

 
 

1 Nampak adanya kegelisahan atau dilema, disatu pihak globalisasi diletakan pada posisi antagonis, sedangkan budaya tradisi sebagai prontagonis. Sebagai antagonis, keterbukaan atau bordeless (Drucker akan berdapak luas terhadap masalah nilai dan merupakan tantangan bagi si protagonis yang tiada lain adalah budaya tradisi yang dipercayai telah mencapai tingkatan adiluhung

 

 

 

 

4

 

 Desain dan Relasinya Terhadap Industri Kreatif

Pemahaman desain kian berkembang berelasi, saling terkait dengan bidang lain terutama sains dan teknologi,  tidak hanya itu  relasi antar manusia dengan manusia bahkan manusia dengan produk desain merupakan bagian yang tak luput dari kajian desain, baik yang sifatnya buatan maupun lingkungan yang sesungguhnya, berbagai relasi menjadi sebuah konsep bahwa desain modern berkembang tentu didasarkan pada perkembangan teknologi dan segala bentuk perilaku manusia modern. Desain tidak hanya bentuk dan konsep persepsi tentang keindahan namun merupakan produksi meaning andvalue yang mampu melahirkan makna serta isme baru dalam human civilization. Desain produk, desain komunikasi visual, desain interior merupakan wujud bahwa desain adalah sebuah narasi yang didalamnya banyak terdapat disiplin sehingga mampu memberikan dampak terhadap sebuah peradaban. Industri kreatif merupakan sebuah fenomena yang tengah hangat dan tidak pernah berhenti diperbincangkan,  karena kemajuan sains dan teknologi pula industri kreatif berkembang tidak hanya menyangkut craft/ kerajianan, musik, desain (desain produk, desain komunikasi visual, desain interior ) art, periklanan, broadcast namun telah menjelajah ke bidang lain seperti engenering termasuk didalamnya pengembangan sarana transportasi dan inovasi sumber energi alternatif. Dalam bidang cyber media pun mengalami perkembangan yang sama, diperlihatkan dengan banyaknya bermunculan perusahaan cyber media yang tidak hanya menawarkan solusi namun barang dan jasa sehingga merupakan salah satu faktor tumbuhnya industri kreatif.

Perkembangan industri kreatif telah banyak menarik perhatian berbagai disiplin ilmu, misalnya dalam bidang desain masalah ergonomi menjadi perhatian yang sangat serius. Desain tidak lagi terpaku pada bentuk yang baru dan unik namun kenyamanan dan keamanan merupakan tujuan utama dari sebuah produk desain, sehingga value dan self-satisfactiondapat ditemukan dalam sebuah produk.  Maka tak heran ketika ilmu komunikasi menjadi penting dalam merancang atau menciptakan sebuah produk desain, dan banyak ilmu sosial lainnya lainnya seperti psikologi, antropologi dan sebagainya. Berkaitan dengan ergonomi desain telah banyak riset yang mengkaji komunikasi manusia dengan produk desain. Seperti yang dilakukan University of Birmingham Inggris meneliti bagaimana packaging sebuah kemasan mudah dan nyaman digunakan manula, penelitian ini dilakukan karena banyak manula yang merasa kesulitan ketika berkomunikasi dengan benda/ produk desain yang tidak ada di zamannya. Menurutnya mempelajari kemampuan untuk membuka sebuah kemasan adalah penting karena ia akan memberikan kontribusi langsung terhadap kemampuan pengguna untuk  mengakses isinya. Tidak hanya bentuk tiga dimensi namun tampilan visual pun termasuk tulisan  memiliki hal serupa yaitu harus aman, nyaman terutama dampaknya terhadap indra penglihatan yang memiliki peranan utama. Dalam jurnal lain Lin (2010) menyebutkan bahwa isyarat pesan akan mempengaruhi memori pengguna merek akan terpengaruhi oleh visual/ nama-nama merek. Ini tentu sangat berkaitan dengan pengelolaan pemasaran produk, banyaknya jurnal internasional yang mengkaji masalah desain tentu merupakan salah satu jawaban terhadap kemajuan perekonomian suatu bangsa.

 

5

 

Indonesia merupakan gudang industri kreatif namun secara umum belum mampu bersaing dalam tataran ekonomi global, merupakan sebuah persoalan besar ketika suatu bangsa mampu memproduksi berbagai produk namun tidak mampu mengelola pemasaran produknya ini akan berakibat pada kehancuran produktifitas perusahaan karena industri kreatif tidak cukup hanya dengan tenaga ahli yang memadai. Anas mengatakan bahwa memang Industri kreatif merupakan industri yang berbasis pada kreativitas individu, keterampilan dan talenta yang memiliki potensi peningkatan kesejahteraan serta pencipta tenaga kerja dengan cara menciptakan dan mengeksploitasi sumberdaya  kreatif dengan HaKI menjadi prasyaratnya. Melihat pengertian industri kreatif maka peran pemerintah dan birokrat merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam mempengaruhi keberhasilan dan berkembangnya industri kreatif Nasional. 

 

6

 

 

Desain dan mind set

Konsumtifisme merupakan bagian dari budaya yang dibangun oleh produk desain, bagaimana masyarakat melihat brand sebuah produk, mereka sangat mempercayai bahkan tidak jarang diantara mereka membeli sebuah produk hanya karna brand yang menempel pada produk tersebut,  ini memperlihatkan masih labilnya intelektualitas masyarakat dalam menerima laju perkembangan jaman. Dari tujuan semula desain yakni memecahkan segala persoalan hidup manusia seperti tidak relevan dengan kenyataan dimasyarakat. Bagi kalangan masyarakat tertentu justru desain menjadi persoalan hidup, misalnya demi mengejar status sosial seseorang rela menghabiskan hartanya untuk mendapatkan kendaraan merek tertentu dengan desain terbaru atau seorang anak bisa menghilangkan nyawa orang tuanya hanya karena tidak dibelikan speda motor dengan desain terbaru dengan merek terkenal. Fenomena ini merupakan sebuah gambaran bahwa produk desain telah memberikan pengaruh yang sangat luar biasa terhadap pola pikir, pendirian, kepribadian seseorang. Lebih dahsyatnya produk desain seolah lebih berharga dibanding pribadinya. Tidak salah ketika isyu dalam desain bahwa kedepannya tidak akan ada produk yang tahan lama karena manusia tidak lagi mementingkan kualitas produk, melainkan value dan taste menjadi penentu.

 

Kesimpulan

Meleburnya desain, teknologi dan sains merupakan sebuah pemahaman bahwa terdapat sebuah damage space, menyamarkan budaya lokal yang semestinya dibangun, dipelihara diperbaiki bukan hanya dijadikan spion. Upaya modernisme dalam menglobalkan/ menduniakan segala pemahaman menjadikan manusia lupa akan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya yang tanpa disadari modernisme telah mengkonstruksi pemahaman bahwa dunia barat merupakan kiblat segala ilmu pengetahuan. Seperti apa yang diungkapkan oleh Agus Sahari dalam bukunya bahwa manusia Indonesia tengah mengalami rekonstruksi menjadi kloning kebudayaan barat. Ini akan berakibat pada kemunduran tatanan kehidupan manusia terlebih kredibilitas masyarakat tidak mencerminkan kepribadian sebagai bangsa yang besar. Terbuktikan dengan banyaknya tenaga ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun hanya sedikit yang memahami  dan memiliki kepribadian, manajemen diri dan pengelolaan produk merupakan salah satu kunci kelemahan bangsa kedepan. Fenomena ini tentu merupakan pekerjaan besar, semua bidang ilmu pengetahuan harus berlomba guna mewujudkan sebuah bangsa yang memiliki sikap dan kepribadian. Ilmu desai tentu merupakan salah satu jalan yang mampu memberikan pengaruh keberhasilan industri dalam segala bidang dari mulai makanan, fashion, otomotif, hingga teknologi informasi dan komunikasi. yang pada akhirnya sampai pada terbentuknya spirit dan rasa percaya diri dalam menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Sebagai bagian dari bangsa besar kita tidak boleh merasa inferior, jika lebih cermat maka akan terlihat masih banyak celah ruang yang bisa dieksplorasi dalam membangun bangsa hingga mampu bersaing di dunia global pada masa yang akan datang.

 

7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

 

Referensi

Anas, Biranul (2012, April) Industri Kreatif Ekonomi Kreatif. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Chavalkul, Y.,  Saxon A. Jerrard  R.N (2011) Combining 2D and 3D Design for Novel Packaging for Older People. International Journal of Design. Vol.5 (1).

Dormer, P. (2008) Makna Desain Modern. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.

Haswanto, Naomi (2012, Mei) Tipologi Vernakular. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Karana E. & Hekkert P. (2010) User-Material-Product Interrelationships in Attributing Meanings. International Journal of Design. International Journal of Design Vol. 4(3).

Lin, P. & Yang, C. (2010) Impact of Product Pictures and Brand Names on Memory of Chinese Metaphorical Advertisements. International Journal of Design. Vol 4 (1).

Nababan, Edward B.M. (2012, April) Desain & Politik. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Nugraha, Hadi (2012, April) Desain, Sains & Teknologi. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Riyanto, Budi (2012, April) Urban Architectural. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Sachari, Agus (2001) Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi Budaya. Bandung: Penerbit ITB

 

9

 

Sriwarno, Andar B. (2012, April) Dari Invensi Hingga Proteksi: Aplikasi sistem suspensi dalam tas punggung untuk mengurangi beban kerja otot. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Riyanto, Budi (2012, April) Urban Architectural. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Walker, A.J (2010) Desain, Sejarah, Budaya. Sebuah Pengantar Komprehensif., Yogyakarta:Jalasutra.

Zaenudin, B.I. (2010) Wacana desain. Bandung: ITB.

Advertisements

Metoda Penelitian Desain

1. Meaning of design research

Desain modern Indonesia selalu terkait dengan perubahan sosial dan memuat konteks-konteks Ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan.

Widagdo mengatakan bahwa desain adalah produk kebudayaan  hasil dari dinamika sosial, teknologi, ekonomi, kepercayaan, perilaku dan nilai-nilai tangible dan intangible yang ada dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bersandar pada pengertian desain dan dengan melihat fenomena yang ada betapa pentingnya penelitian desain (design research) karena perkembangan desain moden di Indonesa mengalami perjalanan yang cukup panjang baik dalam segi bentuk maupun konsep, terlebih diera milenium ini perkembangan desain makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak! Karena di Bandung saja 10 tahu terakhir banyak bermunculan institusi yang membuka program desain terutama desain komunikasi visual (DKV). Dengan beragamnya bentuk desain modern terkadang memunculkan kebingungan dimasyarakat (masyarakat awam) ambil contoh logo misalnya, disamping tampilan bentuknya yang minimalis dan kurang jelas dalam memperlihatkan identitas,  memiliki harga yang cukup mahal seperti  logo Pertamina, PT.Telkom Indonesia dengan harga yang pantastis (3,2M) dengan bentuk yang sangat minimalis/sederhana bahkan sulit untuk dimengerti. Namun mengapa fenomena ini terjadi?, Disisnalh design research  memiliki peranan penting untuk bisa membongkar  makna dibalik berbagai bentuk karya desain. Supaya bisa menjembatani tingkat apresiasi masyarakat terhadap karya desain modern. Karena jika tidak masyarakat akan bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Efektivitas tampilan visual terhadap daya jual produk

Kemasan yang awalnya berfungsi hanya sebagai wadah/pelindung prodak sekarang dengan ditambahkan dengan visual telah menjadi sesuatu yang seolah-olah menentukan tingkat keberhasilan  penjualan suatu produk, ini telah mendorong banyak riset tentang tampilan kemasan suatu produk dan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat / konsumen.

Berkaitan dengan topik riset dalam penelitian ini maka yang harus kita lakukan adalah menentukan:

  • Topik penelitian

Evektifitas Tampilan Visual Terhadap Daya Jual Produk

Evektifitas       : Kita harus mencarai literatur yang ada hubungannya dengan                                   efektifitas termasuk pengertian efektifitas itu sendiri

Visual              : Hendaknya kita tentukan terlebih dahulu visual yang dimaksud?

Misalnya: bentuk, warna,

Produk                        : harus dijelaskan produk yang akan menjadi topik penelitian artinya                         fokus penelitian kita untuk kemasan apa? Makanan atau benda                                pakai?

 

  • Metoda/pisau yang akan dipakai dalam mengupas masalah

Kita harus bisa menentukan metoda yang akan kita pakai jenis penelitian kualitatif atau kuantitatif? Saya pikir dalam penelitIan ini lebih condong dengan menggunakan metoda penelitian kualitatif

  • Literatur

Dengan melihat topik penelitian sudah sangat jelas literatur yang kita perlukan yang berhubungan dengan efektifvitas, visual dan produk, ini bisa kita dapatkan dari; jurnal, buku, tesis, website, seminar, dan wawancara atau kuis

  • Kajian informasi,

Informasi yang telah kita dapatkan baik dari studi literatur, internet maupun wawancara dan kuis hendaknya dikaji ulang apakah informasi yang didapatkan sudah terjamin validitasnya, dalam hal ini hendaknya kita lebih hati-hati

  • Waktu penelitian

Dalam dunia akademisi waktu merupakan soal penting yang harus diperhatikan karena dengan tidak memperhatikan waktu penelitian kita bisa ter seok-seok.

Misalnya sebagai berikut:

No

Kegiatan

Waktu Pelaksanaan (Bulan Ke-)

1-2

3

4

5

6

7

1

Pengajuan dan pengesahan proposal penelitian serta perizinan

X

2

Pencarian bahan refensi

X

X

X

X

X

3

Bimbingan Bab I, II, III dan revisi

X

X

4

Wawancara penelitian

X

X

X

X

X

5

Pengolahan data dan informasi

X

X

X

6

Bimbingan bab IV dan revisi

X

7

Bimbingan bab V dan revisi

X

X

8

Bimbingan keseluruhan

X

X

9

Pengesahan hasil penelitian

X

10

Ujian sidang

X

  • Evalusi

Kita urai kembali permasalahan yang ada guna meminimalisir jika terdapat kesalahan baik dari segi penulisan, kutipan, referensi dan daftar pustaka

 

.

Anotasi Bibliografi

Tinarbuko, Sumbo. 2010. Semiotika komunikasi visual. Yogyakarta: Jalasutra

Buku ini mengupas semiotika komunikasi visual berdasarkan atas pemahaman beberapa teori semiotika dengan meminjam Teori Peirce yaitu melihat tanda pada karya desain komunikasi visual (ikon, indeks dan simbol); Teori Barthes yaitu melihat dari sisi hermenetik, semantik, simbolik, narasi dan kebudayaan serta Teori Saussure yang melihat makna-makna denotatif dan konotatif. Ketiga teori ini digunakan untuk mengupas beberapa media komunikasi visual dianataranya poster, t-shirt, sign system, dan logo. Pengarang berupaya untuk menjelaskan bagaimana makna yang terdapat dalam komunikasi visual tersebut.

 

Beberapa argumen dalam mengupas makna terkesan hambar ini telihat pada paparan pada pembahasan logo (halaman. 100). Pada bahasan tersebut hanya mengupas bentuk , visual, teks, dari permukaannya saja.

Diungkapkan:

…. Lingkaran merupakan representasi alam benda di dunia ini. Makna konotasi yang muncul dari ikon lingkaran adalah bahwa segala sesuatu yang diwakili dari sebuah lingkaran perwujudannya lebih dinamis, bersahabat, tahan lama, senantiasa kuat bila diuji oleh ruang dan waktu. Makna konotasi tersebut dipertajam lagi dengan pemanfaatan kode semantik. Yakni sebuah kode arahan Barthes (1974:106) yang mengandung konotasi pada level penanda. Semestinya kode semantik berdasarkan teori  Barthes tersebut dipaparkan secara lebih mendalam. Visual lain dalam logo tersebut seperti lingkaran, pengarang hanya menyebutkan lingkaran sebagai representasi alam benda di dunia ini tanpa memastikan wujud asal objek lingkaran yang dimaksud, seharusnya lebih dispesifikan kembali lingkaran tersebut apakah merupakan bola, roda atau benda lainnya sehingga muncul makna ganda dalam penafsiran logo tersebut.

 

 

 

 

 Danesi, Marcel. 2010. Pengantar memahami semiotika media. Yogyakarta: Jalasutra

Tanda dan makna dalam berbagai media dikupas secara mendetail dalam buku ini walau hanya sebatas permukaannya saja. Dari mulai media cetak seperti majalah, poster, logo, serta media digital seperti film, iklan termasuk media jejaring sosial. Marcel Danesi melalui buku ini memberikan sebuah panduan yaitu bagaimana kita memahami semiotika.       Dalam memahami semiotika visual (logo) Marcel memberikan beberapa contoh bagaimana cara kita meninjau logo, misalnya ‘logo Apple’ yang digunakan oleh Apple Computer Company Marcel memandang logo hanya berangkat dari mitos ……buah apel sebagai buah terlarang dalam Al-kitab bangsa Yahudi. Menariknya dalam buku ini tidak hanya memaparkan semiotika visual akan tetapi dilengkapi dengan cara memahami semiotika audio (musik), seperti Pop,Rock, Punk, hip hop dan lainnya.

Dalam memaknai logo pengarang hanya memberikan contoh semiotika berdasarkan pandangan Sausure yang hanya memaparkan makna konotatif dari bentuk logo tersebut. Seharusnya penulis juga mengupas semiotik berdasarkan pandangan Pierce atau tokoh semiotik lain yaitu memaparkan bagaimana kajian pemaknaan dibalik bentuk dan visual logo.

 

 

 

 Sobur, Drs. Alex. 2003. Semiotika komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Buku setebal 333 halaman ini memparkan secara jelas bagaimana kita bisa memahami semiotik, bagaimana teori semiotik, bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap tanda-tanda visual maupun verbal dari berbagai pandangan tokoh-tokoh semiotik seperti Ferdiand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roman Jacobson, Louis Hjelmslev, Roland Bartheus. Umberto Eco, Julia Kristeva, Michael Riffaterre dan Jacquest Derrida. Dalam bukunya, Alex lebih berkonsentrasi pada semiotika komunikasi, tentunya tidak hanya komunikasi verbal melainkan komunikasi bentuk dan visual. Misalnya media masa, Alex dalam pandangannya …mempelajari media adalah mempelajari makna darimana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya,  bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita…. didalam buku ini pula disebutkan bagaimana kita memaknai  media dari segi politik, perekonomian, organisasi/birokrasi dan cultural. Walaupun dalam buku ini tidak terdapat contoh bagaimana mengkaji sebuah bentuk verbal dan non-verbal, namun memberikan uraian bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan penelitian melalui kajian semiotik.

 

 

 

 Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Bartheus. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Diantara beberapa tokoh semiotika dunia, penulis memilih Bartheus beserta teorinya untuk dipaparkan. Buku ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan Roland Bartheus terhadap tokoh semiotika seperti Saussure dan Peirce yang disebutkan lebih spesifik pada halaman 21 …. Carles Sanders Peirce (1939-1914) dikenal karena uraiannya yang relatif rinci tentang klasifikasi tanda. Berbeda dengan Saussure, Peirce lebih melihat kedekatan tanda dengan logika bahkan menyamakan logika dengan ilmu tanda itu sendiri (Lechthe, 1994:145). Kurniawan memandangnya orientasi semiologi lebih pada Saussure dan orientasi semiotika lebih pada Peirce (van zoest, 1992:2)  Dalam melihat petanda dan penanda, sintagma dan sistem, denotasi dan konotasi, Bartheus lebih banyak bersandar pada pemahaman Saussure bahkan Bartheus sendiri menggunkan Saussure sebagai modelnya dalam hal linguistik.  Pandangan Barheus terhadap petanda bukanlah merupakan “benda” tetapi representasi mental dari “benda“. Hal ini senada dengan pandangan Saussure, yaitu pasangan petanda dan penanda untuk mengerti yang satu maka harus mengerti yang lainnya.

Dalam buku ini pengarang tampak berusaha untuk memetakan antara semiologi dengan semiotika.

 

 

 

 

 Kajian teoritis semiotika media dan pilpres. Tatag Handaka. Jurnal Semiotika. Vol.2 Hal 45-53. Juni 2008

Menurut penulis media adalah sebuah ruang dimana institusi, komunikasi, kesatuan primordial, dan kepentingan mempresentasikan aktor politik pemilu. Pesan-pesan dalam media adalah ruang dimana gambar, narasi yang diucapkan, tulisan atau teks didesain sedemikian rupa sehingga makna yang dilahirkan bisa diprediksikan sesuai dengan kepentingan aktor politik pemilu. Dari sekian banyak media yang ada, seperti media cetak yaitu; poster, baligho, dan digital yakni; iklan, berita, talk shows, debat capres, dialog dan sebagainya.

Penulis membedah media pemilu pilpres ini melalui pandangan semiotika Saussure, Bartheus, serta Aart van Zoest. Berdasar pada pandangan tokoh semiotika tersebut berujung pada simpulan penulis yang dikatakan bahwa …iklan politik dalam media memang objek yang kaya akan intensitas, tetapi yang penuh gebyar untuk mengejar popularitas. Intensitas pajangan media atas calon pilpres merupakan simulasi politik, berhamburan namun tak satupun berkaitan dengan realitas publik.

Terlihat bahwa penulis mengkaji media pemilu ini sebatas permukaannya saja, karena di dalam penulisan tersebut tidak dibahas secara spesifik dari media yang ada dengan menggunakan pisau pembedah/ teori semiotik yang tepat. Berkaitan dengan media tentu tidak hanya media verbal  dalam hal ini mungkin penulis lupa karena diantara beberapa media pemilu banyak pula media yang sifatnya non-verbal misalnya poster, baligho, termasuk logo partai politik itu sendiri. Dari beberapa teori yang ada, penulis tidak memaparkan pemahaman semiotika menurut Peirce. Padahal melalui pandangan Peirce kita akan dapat memaknai media-media yang sifatnya non-verbal.


Pengaruh Barat Terhadap Desain Modern Indonesia

arief johari

Magister Desain FSRD-ITB 2011

Implikasi Dunia Barat terhadap Desain Modern Indonesia

1.        Teori Zaman Poros (Achsenzeit) Karl Jaspers

Sulit ditebaknya peradaban manusia telah menimbulkan berbagai macam teori dan asumsi yang berbeda bahkan bertentangan. bagaimana tidak! Adanya tanggapan perbedaan  peradaban antara barat  dan timur telah menanamkan ideologi bahkan gerakan anti barat. Namun hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang telah mendorong banyak lahirnya ilmu dan pengetahuan teknologi,  seni dan budaya berkembang hingga sekarang

Tidak salah kalau terbentuk premis bahwa  “dunia baratlah yang membentuk peradaban manusia modern” dalam berbagai sektor ilmu pengetahuan, teknologi , seni dan desain. Yang akhirnya semua ini memperlihatkan bahwa khasanah desain modern di Indonesia berada dalam pengaruh barat (Eropa dan Amerika)

Karl Jaspers telah membagi sejarah dunia dengan memecahnya menjadi beberapa periode hal ini telah memberikan pencerahan yang sampai saat ini belum ada teori yang menyanggahnya. Teori ini memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir dari barat.

mari kita lihat.

Dalam  buku desain kebudayaan (Widagdo,2005:5-14)

Pada periode kesatu dikatakan bahwa Jasper sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya ia mengatakan bahwa “postulat ini bersifat sementara karena secara ilmiah asal-usul manusia belum terungkap secara tuntas”

… manusia prasejarah dalam menghadapi situasi kehidupan sudah menunjukkan pola kognitif tertentu, misalnya dalam menghadapi ancaman bahaya. Dalam upayanya mengatasi rasa takut mereka membuat berbagai alat bantu, atau dalam situasi yang demikian, daya pikirnya tergugah untuk menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan bertahannya. Selain itu, terbentuk berbagai pola perilaku, misalnya dalam hubungan antarjenis kelamin yang menghasilkan berbagai“aturan main” yang kemudian disepakati bersama, sikap terhadap kelahiran bayi dan kematian, serta sikap terhadap ayah dan ibu. Sikap dan cara manusia prasejarah telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya.(Widagdo,2005:5)

Pada masa ini manusia sudah  mengenal api dan ada usaha untuk mempertahankan hidup hal ini dibantu dengan adanya alat-alat seperti tongkat dan batu. Bahkan mulai mengenal bahasa verbal dan simbol-simbol tertentu artinya mereka telah sadar bahwa dirinya adalah manusia yang berbeda dengan makhluk lain.

Periode kedua peradaban manusia kian berkembang mengalami kemajuan dari periode sebelumnya karena mereka sudah mengenal budaya seperti kebudayaan Mesir dan Cina disamping itu kemajuan yang luar biasa manusia pada masa itu sudah mengenal dan berkembangnya organisasi, penemuan tulisan dan mulai mengenal /menggunakan transportasi (kuda) yang tak kalah penting pada periode ini terbentuknya bangsa-bangsa dan kerajaan.

Selanjutnya periode ketiga sangat luar biasa dengan otak dan nalarnya pada periode ini mampu melahirkan filsuf-filsuf, ini terjadi tidak hanya di barat dunia belahan timurpun mengalami hal yang sama seperti di Cina , Yunani, Iran ,India.

… bermunculan pemikir-pemikir besar dari tempat-tempat yang berbeda, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak saling mengetahui. Dipelopori oleh para filsuf besar tadi, manusia dibawa pada kesadaran baru akan kehadirannya, kesadaran akan jangkauan kemampuannya, dan mengetahui keterbatasannya. Manusia mulai mempertanyakan hakikat eksistensinya, dan dengan kemampuan akal budinya mencoba mencari jawaban dan memahami dunia riil dan alam transendensi. (Widagdo,2005:8).

Periode ini dianggap sebagai peta awal terbentuknya peradaban manusia modern bagaimana tidak! Masa ini banyak lahir pemikir yang memperlihatkan bahwa terbukanya cakrawala dalam melihat dunia  karena pada masa ini pula manusia menemukan, menentukan letak dasar ketuhanan.

…Yang sangat penting dalam periode ke-3 adalah peletakan dasar- dasar rohani dan intelektualitas yang sudah demikian maju dengan tingkat kearifan yang tinggi hingga nilai-nilai yang diwakilinya masih menjadi dasar berpikir dan ditimba hingga kini. (Widagdo,2005:7)

Periode keempat dipahami bahwa periode ini lah sebagai titik awal berkembangnya dunia barat ilmu pengetahuan dan teknologi menjalar dan berkembang dari belahan eropa,

Dalam kurun waktu 500 tahun, lahir berpuluh-puluh pemikir di segala bidang, bidang filsafat, sains, teknik, dan seni. Dari dunia filsafat lahir filsuf-filsuf besar, seperti Bacon, Descartes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, dan Einstein. Di bidang teknik lahir James Watt dan Gustav Eifell. Di bidang seni rupa dan arsitektur lahir Leonardo da Vinci, Rembrandt sampai Picasso, Brunelleschi sampai Corbusier. Di dunia musik lahir Bach, Beethoven, dan seterusnya. Tidak dapat dipungkiri lagi, pengaruh mereka telah mendunia. (Widagdo,2005:10)

ilmu pengetahuan berkembang sangat luar biasa terutama setelah ditemukannya mesian cetak dengan hadirnya mesin cetak telah menyebabkan sirkulasi perkembangan ilmu pengetahuan semakin tak terbendung yang anehnya ini hanya terjadi di barat. Berbeda yang terjadi dibelahan dunia timur seperti  Arab dan Cina ilmu pengetahuan seperti jalan di tempat padahal kita tahu arab dan Cina sudah jauh sejak 2000 tahun sebelum masehi mereka sudah mengalami peradaban yang cukup tinggi. Disinyalir dalam hal ini organisasi memiliki peranan besar barat yang lebih terbuka (demokratis) dalam segala hal terutama ilmu pengetahuan telah membuka dunia ini pada taraf yang lebih tinggi (modern) yang justru sebaliknya di Cina dan Arab karena ilmu pengetahuan hanya boleh di pelajari oleh kaum kerajaan maka hal inilah yang menyebabkan statisnya ilmu pengetahuan bahkan pada bangsa-bangsa tertentu di belahan dunia timur dianggap terdapat ada beberapa peradaban/kebudayaan yang hilang.

Dalam seni rupa, ditemukan ilmu perspektif, teknik menggambar ruang dan benda 3 dimensi di atas bidang datar dengan membuat manipulasi visual seolah-olah pada bidang 2 dimensi dapat digambarkan kedalaman ruang dan jarak. Untuk ini dikembangkan metode menggambar yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmu geometri. Menggambar dengan teknik perspektif adalah penerapan logika sains kedalam dunia kualitatif seni rupa. (Widagdo,2005:10)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong dunia barat untuk melakukan ekspansi ke negara-negara bagian timur termasuk Indonesia  ini merupakan benang merah yang sangat jelas bahwa teori poros Karl Jaspers telah membuktikan perkembangan IPTEKS khususnya di Indonesia sedikit besarnya telah banyak mendapat pengaruh barat. Ini bisa dilihat dari perkembangan pendidikan modern/formal di Indonesia

2.        Seni rupa dan desain di Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, kopi, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa dan desain.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, … di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. ….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni rupa Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia.

Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya:

 “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)

3.        Masa Pendidikan Tinggi

Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa dan desain di Indonesia, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan diantara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.(Ardiyanto, 1996)

Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.( A.D. Pirous, 2003: 164)

Ini merupakan titik tolak perkembangan seni rupa dan desain, yang ditandai dengan banyaknya kreasi para seniman pada masa itu yaitu merancang atau menciptakan objek-objek yang memiliki nilai guna seperti rancangan bangunan, dekorasi, poster, desain kemasan (packaging) desain pada kain (tekstil) kria keramik, logo ,furniture, potografi  dan dunia perfilman (movie). Ini telah mendorong munculnya berbagai karya seni rupa yang akibatnya seni rupa tidak hanya terkurung pada dunia gambar/lukis.

…perkembangan desain modern Indonesia didasarkan pada..objek desain… aspek sosial…aspek pendesain dan ..aspek pendidikan selain itu harus diperhatikan  konteks waktu antara tahun 1900 hingga tahun 1990an dasar pembahasan ini dipakai sebagai batasan karena padaterjadi  fase tersebut pergeseran dan perubahan penting, yaitu dimulainya program modernisasi terutama dalam kaitannya dengan peran para pendesain Belanda dan kebangkitan berfikir kaum pribumi (Agus Sachari, 2001:18)

Dirintisnya pendidikan modern oleh belanda telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir  rasional dan modern  tentu tidak hanya metodologi yang digunakan namun gaya yang dianutpun tentu sedikit besarnya baik disadari maupun tidak telah mendapat poengaruh barat. Terlebih banyak tenaga pengajar yang disekolahkan di negara-negara barat, Jerman, Francis, Belanda dan negara Eropa lainnya.

Referensi:

Sachari, Agus (2001) Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi                Budaya,Bandung:Penerbit ITB

Widagdo (2005) Desain dan Kebudayaan, Bandung:Penerbit ITB

Dormer, Peter (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra