Problem desain dan dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

Aside

Problem desain dan dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

arief johari (2012)

Abstract

Problems of design and product design has provided a clear picture that design has been present, fill out and assist the development of science and technology. Of the current issues and design paradigm, including its impact on social life, economic, politics and culture of design has made an own color in human civilization. Design is no longer underestimated, but has present and gave an extraordinary influence. Proved that the design has been able to boost of industry successful in all areas such as the food, fashion, automotive, information technology and communications that arrive at a point that design is the main value of a product, the product function is meaningless because in the end people will back to value and taste of the product.

Keywords: Design, Product design, science and technology, value and taste

Introduction

Desain dan Produk desain merupakan bagian dari peradaban manusia, keduanya lahir ibarat bayi kembar mungil, lucu dan menggemaskan, kemudian tumbuh dan berkembang sampai keduanya digandrungi  dan dipuja banyak orang, apapun yang dilakukannya  dianggap sebagai tolak ukur dan parameter gaya hidup masyarakat, sampai keduanya tua tetaplah menjadi pujaan semua orang, bahkan masyarakat tidak melihat lagi fisik melainkan value dan taste menjadi bobot dari keduanya.

 Dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

Desain modern telah memberi dampak luar biasa pada kehidupan dan peradaban manusia, ini tentu tidak lepas dari perkembangan industri yang kian tak terbendung. Moderenisme desain dan teknologi seperti telah menjadi cahaya dalam kehidupan hingga merubah pola pikir dan gaya hidup manusia yang beranggapan mampu menguasai dan menggenggam dunia. Desain dan teknologi bagaikan kulit dan daging keduanya tidak mungkin lagi dapat dipisahkan, saling mengisi dan membangun. Perkembangan desain tentu memiliki peranan besar bagi kemajuan industri, dari mulai industri makanan, fashion, otomotif, hingga teknologi informasi dan komunikasi. Desain memiliki peranan penting dalam membangun peradaban manusia modern hal ini telah banyak melahirkan berbagai riset yang disebabkan dari dampak desain modern, dari mulai tingkat social masyarakat, budaya dan gaya hidup bahkan untuk mencapai tujuan politik. Begitu juga dalam kehidupan masyarakat modern, desain telah menjadi kebutuhan pokok terlihat dari banyak diantara masyarakat yang lebih memilih mengenyampingkan kebutuhan primernya ketimbang tidak memiliki  smartphone/ i-pad keluaran terbaru, sungguh memprihatinkan.

Desain dan perilaku manusia

Beragam kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari telah mengkonstruksi terbentuknya pola hidup manusia dan lingkungannya. Ini terjadi tentu karena berkali-kali manusia telah di bom bardir produk desain. Koentjaraningrat (2002) dalam bukunya mengungkapkan ide dan gagasan manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat dan memberi jiwa kepada kelompok masyarakat itu sendiri. Gagasan dan pola pikir manusia tak lepas dari satu dan yang lainnya, melainkan merupakan sistem sosial mengenai tindakan manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas manusia dan interaksinya, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain. Pergaulan manusia modern tentu tidak sebatas antar manusia, melainkan pula dengan produk yang digunakannya, misalnya telepon genggam tidak bisa lepas dari kehidupan manusia begitu pula halnya dengan aksesories lainnya. Kebiasaan inilah yang disebut koentjaraningrat akan membentuk pola-pola dan kebiasaan tertentu sehingga menjadi adat dan tata kelakuan. Produk desain dengan segala kelebihannya telah membuat manusia seperti tak berdaya, desain telah membangun dan memupuk hasrat dan keinginan manusia untuk dapat memiliki produk “baru” hingga lahirlah kaum konsumtifisme yaitu orang-orang yang lebih mementingkan keinginan dibanding kebutuhan, mereka tidak lagi melihat fungsi dan kebutuhan melainkan rasa ingin memiliki sesuatu yang tujuannya hanya ingin menampilkan gaya dan kemewahan. John A. Walker (2010). Menyebutnya gaya hidup hanyalah menawarkan rasa dan identitas yaitu untuk mengurangi kecemasan karena terlalu banyaknya pilihan suatu barang (produk desain).

 Berbagai pandangan desain dan produk desain

Desain modern telah melahirkan berbagai macam pandangan, hal ini tak lepas dari berbagai persoalan dan masalahnya. Apa yang diungkapkan oleh Taaki Bando (2012) bahwa desain merupakan sebuah proses dari perubahan dari tidak sempurna/ tidak lengkap menuju ke kesempurnaan/ lengkap/ rapih dan teratur. Proses desain merupakan upaya penyempurnaan dari bentuk yang telah ada sebelumnya. “Peminjaman bentuk” merupakan hal lumrah dalam desain modern. Terlihat dari bangunan modern di Jepang yang “meminjam” bentuk-bentuk arsitektur tradisional. Berbeda dengan di Indonesia hampir semua bentuk bangunan modern tidak sama sekali berangkat dari tradisi masa lalu. Produk desain dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat, namun tidak serta merta melupakan tradisi masa lalu. Konsep form follows function merupakan bukti bahwa fungsi lebih menentukan bentuk produk dibanding wujud produk itu sendiri. Hal tersebut diungkapkan Firmansyah Saftari (2012) yang mengungkapkan pula bahwa produk desain haruslah sederhana, mudah, alami, dan aman untuk digunakan. Namun hal utama dari produk desain harus memiliki “nilai tambah (value)” seperti yang dipaparkan oleh Yannes Martinus Pasaribu (2012). Value yang dimaksud adalah bukan nilai materi dari sebuah produk desain, namun lebih kepada kebudayaan, tradisi, cita rasa dan kebutuhan batiniah.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tanpa disadari telah memposisikan desain menjadi penentu dalam seluruh sektor kehidupan. Sebuah teknologi termutakhir tidak akan dilirik oleh masyarakat jika tidak didukung oleh desain yang menarik. Desain tidak lagi merupakan sebuah cassing yang kemudian menjadi sesuatu yang tidak penting.

Anggapan yang sangat keliru bila unsur estetika itu laksana baju atau kulit yang menempel pada produk guna atau dalam lain perkataan buat fungsinya dulu, kemudian pengindahannya. Dalam membedakan mana yang indah dan mana yang jelek desainer memperhitungkan kaidah-kaidah social budaya; apakah sebuah desain akan menjerumuskan pemakainya menjadi masyarakat yang berselera konsumeristis? Apakah desain akan memberikan pengaruh negative terhadap system nilai dan budaya suatu masyarakat? Desainer juga memperhitungkan kaidah-kaidah social ekonomis seperti: daya beli dan selera masyarakat. (Buchori, 2010: 25)

Lebih lanjut Buchori mengemukakan bahwa desain hendaknya memperhatikan psikologis, memberikan motivasi hidup kepada pengguna, dan memberikan rasa nyaman terhadap pengguna dan masyarakat di lingkungannya, kemudian dari segi material produk desain hendaknya memiliki karakteristik fisis dan memiliki karakter sifat bawaan termasuk didalamnya kaidak teknologi bahwa desain itu harus memberikan dampak positif yaitu membawa kearah hidup manusia menjadi lebih baik.

Dari seluruh paparan mengenai desain dan produk desain memperlihatkan bahwa betapa kompleksnya ranah ilmu desain, seperti tidak akan ada habisnya karena semua berpangkal pada peradaban manusia. Satu hal yang perlu dikritisi, dari semua pandangan tidak memaparkan solusi kehidupan umat manusia kedepan, desain hendaknya menjadi pemecah persoalan global khususnya dalam mengemas dan menggandeng perkembangan sains dan teknologi, bukan malah pasrah, nerima, arus globalisasi, bukan pula berarti melawan arus. Terlebih isyu kontemporer menggembar-gemborkan bahwa desain kedepan akan menjadi kunci utama dalam mewadahi sains dan teknologi, serta menjadi satu-satunya penentu utama dalam pengembangan produk apapun, semua produk akan bergantung pada desain. Produk masa depan hadir dan hanya untuk satu kali pakai. Kedepan tidak akan ada produk yang tahan lama karena manusia tidak lagi mementingkan kualitas produk, melainkan value dan taste menjadi penentu. Desain tidak hanya mengedepankan bentuk produk yang bagus dan memiliki high value dan motivasi hidup manusia, namun desain harus mampu menggiring dan mendongkrak manusia untuk dekat dengan Tuhannya.

=====================================================================

….menyimbolkan kontinuitas….baik dalam bentuk dan dalam berbagai material  serta proses yang digunakan untuk membentuk desain, suatu pemahaman bahwa  objek yang bersangkutan memiliki dampak terhadap dunia. …semua perubahan hendaknya cermat, dan tidak didasarkan pada angan-angan tetapi pada pengetahuan terutama pengetahuan riset dan sains…

(Peter Dormer, 2008:227-228)

==================================================================

Referensi

Bando, T. (2012, Februari). Japanese Esthetics. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Dormer, P. (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.

Koentcaraningrat. ( 2002) Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Pasaribu, M.Y. (2012, Februari). cultural identity danparadigm shift in design.Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Saftari, F. (2012, Maret). Ergonomic Interface Design. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Walker, A.J (2010) Desain, Sejarah, Budaya. Sebuah Pengantar Komprehensif., Yogyakarta:Jalasutra.

Wardono, P. (2012, Maret). Social Dining Behavior. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Zaenudin, B.I. (2010) Wacana desain. Bandung: ITB.

Advertisements

Metoda Penelitian Desain

1. Meaning of design research

Desain modern Indonesia selalu terkait dengan perubahan sosial dan memuat konteks-konteks Ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan.

Widagdo mengatakan bahwa desain adalah produk kebudayaan  hasil dari dinamika sosial, teknologi, ekonomi, kepercayaan, perilaku dan nilai-nilai tangible dan intangible yang ada dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bersandar pada pengertian desain dan dengan melihat fenomena yang ada betapa pentingnya penelitian desain (design research) karena perkembangan desain moden di Indonesa mengalami perjalanan yang cukup panjang baik dalam segi bentuk maupun konsep, terlebih diera milenium ini perkembangan desain makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak! Karena di Bandung saja 10 tahu terakhir banyak bermunculan institusi yang membuka program desain terutama desain komunikasi visual (DKV). Dengan beragamnya bentuk desain modern terkadang memunculkan kebingungan dimasyarakat (masyarakat awam) ambil contoh logo misalnya, disamping tampilan bentuknya yang minimalis dan kurang jelas dalam memperlihatkan identitas,  memiliki harga yang cukup mahal seperti  logo Pertamina, PT.Telkom Indonesia dengan harga yang pantastis (3,2M) dengan bentuk yang sangat minimalis/sederhana bahkan sulit untuk dimengerti. Namun mengapa fenomena ini terjadi?, Disisnalh design research  memiliki peranan penting untuk bisa membongkar  makna dibalik berbagai bentuk karya desain. Supaya bisa menjembatani tingkat apresiasi masyarakat terhadap karya desain modern. Karena jika tidak masyarakat akan bingung.

  2. Efektivitas tampilan visual terhadap daya jual produk

Kemasan yang awalnya berfungsi hanya sebagai wadah/pelindung prodak sekarang dengan ditambahkan dengan visual telah menjadi sesuatu yang seolah-olah menentukan tingkat keberhasilan  penjualan suatu produk, ini telah mendorong banyak riset tentang tampilan kemasan suatu produk dan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat / konsumen.

Berkaitan dengan topik riset dalam penelitian ini maka yang harus kita lakukan adalah menentukan:

  • Topik penelitian

Evektifitas Tampilan Visual Terhadap Daya Jual Produk

Evektifitas       : Kita harus mencarai literatur yang ada hubungannya dengan                                                  efektifitas termasuk pengertian efektifitas itu sendiri

Visual              : Hendaknya kita tentukan terlebih dahulu visual yang dimaksud?

                           Misalnya: bentuk, warna,

Produk     : harus dijelaskan produk yang akan menjadi topik penelitian artinya                         fokus penelitian kita untuk kemasan apa? Makanan atau benda                                pakai?

 

  • Metoda/pisau yang akan dipakai dalam mengupas masalah

Kita harus bisa menentukan metoda yang akan kita pakai jenis penelitian kualitatif atau kuantitatif? Saya pikir dalam penelitIan ini lebih condong dengan menggunakan metoda penelitian kualitatif

  • Literatur

Dengan melihat topik penelitian sudah sangat jelas literatur yang kita perlukan yang berhubungan dengan efektifvitas, visual dan produk, ini bisa kita dapatkan dari; jurnal, buku, tesis, website, seminar, dan wawancara atau kuis

  • Kajian informasi,

Informasi yang telah kita dapatkan baik dari studi literatur, internet maupun wawancara dan kuis hendaknya dikaji ulang apakah informasi yang didapatkan sudah terjamin validitasnya, dalam hal ini hendaknya kita lebih hati-hati

  • Waktu penelitian

Dalam dunia akademisi waktu merupakan soal penting yang harus diperhatikan karena dengan tidak memperhatikan waktu penelitian kita bisa ter seok-seok.

Misalnya sebagai berikut:

No

Kegiatan

Waktu Pelaksanaan (Bulan Ke-)

1-2

3

4

5

6

7

1

Pengajuan dan pengesahan proposal penelitian serta perizinan

X

2

Pencarian bahan refensi

X

X

X

X

X

3

Bimbingan Bab I, II, III dan revisi

X

X

4

Wawancara penelitian

X

X

X

X

X

5

Pengolahan data dan informasi

X

X

X

6

Bimbingan bab IV dan revisi

X

7

Bimbingan bab V dan revisi

X

X

8

Bimbingan keseluruhan

X

X

9

Pengesahan hasil penelitian

X

10

Ujian sidang

X

  • Evalusi

Kita urai kembali permasalahan yang ada guna meminimalisir jika terdapat kesalahan baik dari segi penulisan, kutipan, referensi dan daftar pustaka

 

.

Anotasi Bibliografi

Tinarbuko, Sumbo. 2010. Semiotika komunikasi visual. Yogyakarta: Jalasutra

Buku ini mengupas semiotika komunikasi visual berdasarkan atas pemahaman beberapa teori semiotika dengan meminjam Teori Peirce yaitu melihat tanda pada karya desain komunikasi visual (ikon, indeks dan simbol); Teori Barthes yaitu melihat dari sisi hermenetik, semantik, simbolik, narasi dan kebudayaan serta Teori Saussure yang melihat makna-makna denotatif dan konotatif. Ketiga teori ini digunakan untuk mengupas beberapa media komunikasi visual dianataranya poster, t-shirt, sign system, dan logo. Pengarang berupaya untuk menjelaskan bagaimana makna yang terdapat dalam komunikasi visual tersebut.

 

Beberapa argumen dalam mengupas makna terkesan hambar ini telihat pada paparan pada pembahasan logo (halaman. 100). Pada bahasan tersebut hanya mengupas bentuk , visual, teks, dari permukaannya saja.

Diungkapkan:

…. Lingkaran merupakan representasi alam benda di dunia ini. Makna konotasi yang muncul dari ikon lingkaran adalah bahwa segala sesuatu yang diwakili dari sebuah lingkaran perwujudannya lebih dinamis, bersahabat, tahan lama, senantiasa kuat bila diuji oleh ruang dan waktu. Makna konotasi tersebut dipertajam lagi dengan pemanfaatan kode semantik. Yakni sebuah kode arahan Barthes (1974:106) yang mengandung konotasi pada level penanda. Semestinya kode semantik berdasarkan teori  Barthes tersebut dipaparkan secara lebih mendalam. Visual lain dalam logo tersebut seperti lingkaran, pengarang hanya menyebutkan lingkaran sebagai representasi alam benda di dunia ini tanpa memastikan wujud asal objek lingkaran yang dimaksud, seharusnya lebih dispesifikan kembali lingkaran tersebut apakah merupakan bola, roda atau benda lainnya sehingga muncul makna ganda dalam penafsiran logo tersebut.

 Danesi, Marcel. 2010. Pengantar memahami semiotika media. Yogyakarta: Jalasutra

Tanda dan makna dalam berbagai media dikupas secara mendetail dalam buku ini walau hanya sebatas permukaannya saja. Dari mulai media cetak seperti majalah, poster, logo, serta media digital seperti film, iklan termasuk media jejaring sosial. Marcel Danesi melalui buku ini memberikan sebuah panduan yaitu bagaimana kita memahami semiotika.       Dalam memahami semiotika visual (logo) Marcel memberikan beberapa contoh bagaimana cara kita meninjau logo, misalnya ‘logo Apple’ yang digunakan oleh Apple Computer Company Marcel memandang logo hanya berangkat dari mitos ……buah apel sebagai buah terlarang dalam Al-kitab bangsa Yahudi. Menariknya dalam buku ini tidak hanya memaparkan semiotika visual akan tetapi dilengkapi dengan cara memahami semiotika audio (musik), seperti Pop,Rock, Punk, hip hop dan lainnya.

Dalam memaknai logo pengarang hanya memberikan contoh semiotika berdasarkan pandangan Sausure yang hanya memaparkan makna konotatif dari bentuk logo tersebut. Seharusnya penulis juga mengupas semiotik berdasarkan pandangan Pierce atau tokoh semiotik lain yaitu memaparkan bagaimana kajian pemaknaan dibalik bentuk dan visual logo.

 Sobur, Drs. Alex. 2003. Semiotika komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Buku setebal 333 halaman ini memparkan secara jelas bagaimana kita bisa memahami semiotik, bagaimana teori semiotik, bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap tanda-tanda visual maupun verbal dari berbagai pandangan tokoh-tokoh semiotik seperti Ferdiand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roman Jacobson, Louis Hjelmslev, Roland Bartheus. Umberto Eco, Julia Kristeva, Michael Riffaterre dan Jacquest Derrida. Dalam bukunya, Alex lebih berkonsentrasi pada semiotika komunikasi, tentunya tidak hanya komunikasi verbal melainkan komunikasi bentuk dan visual. Misalnya media masa, Alex dalam pandangannya …mempelajari media adalah mempelajari makna darimana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya,  bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita…. didalam buku ini pula disebutkan bagaimana kita memaknai  media dari segi politik, perekonomian, organisasi/birokrasi dan cultural. Walaupun dalam buku ini tidak terdapat contoh bagaimana mengkaji sebuah bentuk verbal dan non-verbal, namun memberikan uraian bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan penelitian melalui kajian semiotik.

  Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Bartheus. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Diantara beberapa tokoh semiotika dunia, penulis memilih Bartheus beserta teorinya untuk dipaparkan. Buku ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan Roland Bartheus terhadap tokoh semiotika seperti Saussure dan Peirce yang disebutkan lebih spesifik pada halaman 21 …. Carles Sanders Peirce (1939-1914) dikenal karena uraiannya yang relatif rinci tentang klasifikasi tanda. Berbeda dengan Saussure, Peirce lebih melihat kedekatan tanda dengan logika bahkan menyamakan logika dengan ilmu tanda itu sendiri (Lechthe, 1994:145). Kurniawan memandangnya orientasi semiologi lebih pada Saussure dan orientasi semiotika lebih pada Peirce (van zoest, 1992:2)  Dalam melihat petanda dan penanda, sintagma dan sistem, denotasi dan konotasi, Bartheus lebih banyak bersandar pada pemahaman Saussure bahkan Bartheus sendiri menggunkan Saussure sebagai modelnya dalam hal linguistik.  Pandangan Barheus terhadap petanda bukanlah merupakan “benda” tetapi representasi mental dari “benda“. Hal ini senada dengan pandangan Saussure, yaitu pasangan petanda dan penanda untuk mengerti yang satu maka harus mengerti yang lainnya.

Dalam buku ini pengarang tampak berusaha untuk memetakan antara semiologi dengan semiotika.

  Kajian teoritis semiotika media dan pilpres. Tatag Handaka. Jurnal Semiotika. Vol.2 Hal 45-53. Juni 2008

Menurut penulis media adalah sebuah ruang dimana institusi, komunikasi, kesatuan primordial, dan kepentingan mempresentasikan aktor politik pemilu. Pesan-pesan dalam media adalah ruang dimana gambar, narasi yang diucapkan, tulisan atau teks didesain sedemikian rupa sehingga makna yang dilahirkan bisa diprediksikan sesuai dengan kepentingan aktor politik pemilu. Dari sekian banyak media yang ada, seperti media cetak yaitu; poster, baligho, dan digital yakni; iklan, berita, talk shows, debat capres, dialog dan sebagainya.

Penulis membedah media pemilu pilpres ini melalui pandangan semiotika Saussure, Bartheus, serta Aart van Zoest. Berdasar pada pandangan tokoh semiotika tersebut berujung pada simpulan penulis yang dikatakan bahwa …iklan politik dalam media memang objek yang kaya akan intensitas, tetapi yang penuh gebyar untuk mengejar popularitas. Intensitas pajangan media atas calon pilpres merupakan simulasi politik, berhamburan namun tak satupun berkaitan dengan realitas publik.

Terlihat bahwa penulis mengkaji media pemilu ini sebatas permukaannya saja, karena di dalam penulisan tersebut tidak dibahas secara spesifik dari media yang ada dengan menggunakan pisau pembedah/ teori semiotik yang tepat. Berkaitan dengan media tentu tidak hanya media verbal  dalam hal ini mungkin penulis lupa karena diantara beberapa media pemilu banyak pula media yang sifatnya non-verbal misalnya poster, baligho, termasuk logo partai politik itu sendiri. Dari beberapa teori yang ada, penulis tidak memaparkan pemahaman semiotika menurut Peirce. Padahal melalui pandangan Peirce kita akan dapat memaknai media-media yang sifatnya non-verbal.

 

Pengaruh Barat Terhadap Desain Modern Indonesia

arief johari

Implikasi Dunia Barat terhadap Desain Modern Indonesia

1.        Teori Zaman Poros (Achsenzeit) Karl Jaspers

Sulit ditebaknya peradaban manusia telah menimbulkan berbagai macam teori dan asumsi yang berbeda bahkan bertentangan. bagaimana tidak! Adanya tanggapan perbedaan  peradaban antara barat  dan timur telah menanamkan ideologi bahkan gerakan anti barat. Namun hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang telah mendorong banyak lahirnya ilmu dan pengetahuan teknologi,  seni dan budaya berkembang hingga sekarang

Tidak salah kalau terbentuk premis bahwa  “dunia baratlah yang membentuk peradaban manusia modern” dalam berbagai sektor ilmu pengetahuan, teknologi , seni dan desain. Yang akhirnya semua ini memperlihatkan bahwa khasanah desain modern di Indonesia berada dalam pengaruh barat (Eropa dan Amerika)

Karl Jaspers telah membagi sejarah dunia dengan memecahnya menjadi beberapa periode hal ini telah memberikan pencerahan yang sampai saat ini belum ada teori yang menyanggahnya. Teori ini memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir dari barat.

mari kita lihat.

Dalam  buku desain kebudayaan (Widagdo,2005:5-14)

Pada periode kesatu dikatakan bahwa Jasper sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya ia mengatakan bahwa “postulat ini bersifat sementara karena secara ilmiah asal-usul manusia belum terungkap secara tuntas”

… manusia prasejarah dalam menghadapi situasi kehidupan sudah menunjukkan pola kognitif tertentu, misalnya dalam menghadapi ancaman bahaya. Dalam upayanya mengatasi rasa takut mereka membuat berbagai alat bantu, atau dalam situasi yang demikian, daya pikirnya tergugah untuk menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan bertahannya. Selain itu, terbentuk berbagai pola perilaku, misalnya dalam hubungan antarjenis kelamin yang menghasilkan berbagai“aturan main” yang kemudian disepakati bersama, sikap terhadap kelahiran bayi dan kematian, serta sikap terhadap ayah dan ibu. Sikap dan cara manusia prasejarah telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya.(Widagdo,2005:5)

Pada masa ini manusia sudah  mengenal api dan ada usaha untuk mempertahankan hidup hal ini dibantu dengan adanya alat-alat seperti tongkat dan batu. Bahkan mulai mengenal bahasa verbal dan simbol-simbol tertentu artinya mereka telah sadar bahwa dirinya adalah manusia yang berbeda dengan makhluk lain.

Periode kedua peradaban manusia kian berkembang mengalami kemajuan dari periode sebelumnya karena mereka sudah mengenal budaya seperti kebudayaan Mesir dan Cina disamping itu kemajuan yang luar biasa manusia pada masa itu sudah mengenal dan berkembangnya organisasi, penemuan tulisan dan mulai mengenal /menggunakan transportasi (kuda) yang tak kalah penting pada periode ini terbentuknya bangsa-bangsa dan kerajaan.

Selanjutnya periode ketiga sangat luar biasa dengan otak dan nalarnya pada periode ini mampu melahirkan filsuf-filsuf, ini terjadi tidak hanya di barat dunia belahan timurpun mengalami hal yang sama seperti di Cina , Yunani, Iran ,India.

… bermunculan pemikir-pemikir besar dari tempat-tempat yang berbeda, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak saling mengetahui. Dipelopori oleh para filsuf besar tadi, manusia dibawa pada kesadaran baru akan kehadirannya, kesadaran akan jangkauan kemampuannya, dan mengetahui keterbatasannya. Manusia mulai mempertanyakan hakikat eksistensinya, dan dengan kemampuan akal budinya mencoba mencari jawaban dan memahami dunia riil dan alam transendensi. (Widagdo,2005:8).

Periode ini dianggap sebagai peta awal terbentuknya peradaban manusia modern bagaimana tidak! Masa ini banyak lahir pemikir yang memperlihatkan bahwa terbukanya cakrawala dalam melihat dunia  karena pada masa ini pula manusia menemukan, menentukan letak dasar ketuhanan.

…Yang sangat penting dalam periode ke-3 adalah peletakan dasar- dasar rohani dan intelektualitas yang sudah demikian maju dengan tingkat kearifan yang tinggi hingga nilai-nilai yang diwakilinya masih menjadi dasar berpikir dan ditimba hingga kini. (Widagdo,2005:7)

Periode keempat dipahami bahwa periode ini lah sebagai titik awal berkembangnya dunia barat ilmu pengetahuan dan teknologi menjalar dan berkembang dari belahan eropa,

Dalam kurun waktu 500 tahun, lahir berpuluh-puluh pemikir di segala bidang, bidang filsafat, sains, teknik, dan seni. Dari dunia filsafat lahir filsuf-filsuf besar, seperti Bacon, Descartes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, dan Einstein. Di bidang teknik lahir James Watt dan Gustav Eifell. Di bidang seni rupa dan arsitektur lahir Leonardo da Vinci, Rembrandt sampai Picasso, Brunelleschi sampai Corbusier. Di dunia musik lahir Bach, Beethoven, dan seterusnya. Tidak dapat dipungkiri lagi, pengaruh mereka telah mendunia. (Widagdo,2005:10)

ilmu pengetahuan berkembang sangat luar biasa terutama setelah ditemukannya mesian cetak dengan hadirnya mesin cetak telah menyebabkan sirkulasi perkembangan ilmu pengetahuan semakin tak terbendung yang anehnya ini hanya terjadi di barat. Berbeda yang terjadi dibelahan dunia timur seperti  Arab dan Cina ilmu pengetahuan seperti jalan di tempat padahal kita tahu arab dan Cina sudah jauh sejak 2000 tahun sebelum masehi mereka sudah mengalami peradaban yang cukup tinggi. Disinyalir dalam hal ini organisasi memiliki peranan besar barat yang lebih terbuka (demokratis) dalam segala hal terutama ilmu pengetahuan telah membuka dunia ini pada taraf yang lebih tinggi (modern) yang justru sebaliknya di Cina dan Arab karena ilmu pengetahuan hanya boleh di pelajari oleh kaum kerajaan maka hal inilah yang menyebabkan statisnya ilmu pengetahuan bahkan pada bangsa-bangsa tertentu di belahan dunia timur dianggap terdapat ada beberapa peradaban/kebudayaan yang hilang.

Dalam seni rupa, ditemukan ilmu perspektif, teknik menggambar ruang dan benda 3 dimensi di atas bidang datar dengan membuat manipulasi visual seolah-olah pada bidang 2 dimensi dapat digambarkan kedalaman ruang dan jarak. Untuk ini dikembangkan metode menggambar yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmu geometri. Menggambar dengan teknik perspektif adalah penerapan logika sains kedalam dunia kualitatif seni rupa. (Widagdo,2005:10)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong dunia barat untuk melakukan ekspansi ke negara-negara bagian timur termasuk Indonesia  ini merupakan benang merah yang sangat jelas bahwa teori poros Karl Jaspers telah membuktikan perkembangan IPTEKS khususnya di Indonesia sedikit besarnya telah banyak mendapat pengaruh barat. Ini bisa dilihat dari perkembangan pendidikan modern/formal di Indonesia

2.        Seni rupa dan desain di Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, kopi, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa dan desain.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, … di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. ….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni rupa Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia.

Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya:

 “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)

3.        Masa Pendidikan Tinggi

Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa dan desain di Indonesia, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan diantara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.(Ardiyanto, 1996)

Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.( A.D. Pirous, 2003: 164)

Ini merupakan titik tolak perkembangan seni rupa dan desain, yang ditandai dengan banyaknya kreasi para seniman pada masa itu yaitu merancang atau menciptakan objek-objek yang memiliki nilai guna seperti rancangan bangunan, dekorasi, poster, desain kemasan (packaging) desain pada kain (tekstil) kria keramik, logo ,furniture, potografi  dan dunia perfilman (movie). Ini telah mendorong munculnya berbagai karya seni rupa yang akibatnya seni rupa tidak hanya terkurung pada dunia gambar/lukis.

…perkembangan desain modern Indonesia didasarkan pada..objek desain… aspek sosial…aspek pendesain dan ..aspek pendidikan selain itu harus diperhatikan  konteks waktu antara tahun 1900 hingga tahun 1990an dasar pembahasan ini dipakai sebagai batasan karena padaterjadi  fase tersebut pergeseran dan perubahan penting, yaitu dimulainya program modernisasi terutama dalam kaitannya dengan peran para pendesain Belanda dan kebangkitan berfikir kaum pribumi (Agus Sachari, 2001:18)

Dirintisnya pendidikan modern oleh belanda telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir  rasional dan modern  tentu tidak hanya metodologi yang digunakan namun gaya yang dianutpun tentu sedikit besarnya baik disadari maupun tidak telah mendapat poengaruh barat. Terlebih banyak tenaga pengajar yang disekolahkan di negara-negara barat, Jerman, Francis, Belanda dan negara Eropa lainnya.

Referensi:

Sachari, Agus (2001) Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi                Budaya,Bandung:Penerbit ITB

Widagdo (2005) Desain dan Kebudayaan, Bandung:Penerbit ITB

Dormer, Peter (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra

Tutorial Tipografi Bagian 1:

Mengenal Tipe

Tipografi adalah disiplin ilmu yang dipandang tidak cool tapi misterius, yang selalu di belakang layar dan cenderung low profile. Bandingkan dengan usability misalnya—yang akhir-akhir ini naik daun. Siapa sih yang tidak kenal Jakob Nielsen? Atau bandingkan dengan tokoh new media Web dan Flash macam Jeffrey Zeldman dan Hillman Curtis. Rata-rata dari kita kenal atau minimal pernah dengar namanya. Tapi kalau disuruh menyebutkan siapa tokoh tipografi favorit, atau siapa yang menciptakan tipe Futura atau Georgia, maka kebanyakan dari kita menggeleng. Tokoh suatu bidang seringkali mencerminkan seberapa popular bidang tersebut. Kalau tokoh-tokoh tipografi jarang kita ketahui, maka barangkali begitu pulalah dengan bidang ilmu tipografi. Padahal tipografi amatlah penting bagi semua desainer, termasuk desainer Web.

Dalam seri tutorial apresiasi tipografi ini, fokus kita adalah pada tipe. Kita akan mengenal apa itu tipe. Kita juga akan menyinggung teknologi font dan tipografi di komputer. Lalu melihat profil beberapa perusahaan penerbit font—yang biasa disebut digital type foundry—yang ternama seperti Adobe dan ITC. Kita pun akan mengenal beberapa tipe popular seperti Garamond dan Bodoni. Dan terakhir kita akan membahas desain logo yang mengutamakan permainan huruf dan tipe. Meski demikian, tak ketinggalan akan disinggung pula aspek-aspek dasar tipografi yang baik.

Karena sifat tutorial ini pemula, maka bisa diikuti baik oleh desainer Web—yang rata-rata, sayangnya, memang kurang mengenal tipografi dibandingkan desainer cetak—maupun oleh umum. Alangkah baiknya jika setiap orang memahami dasar-dasar tipografi. Apalagi karena sekarang setiap hari mau tidak mau kita berurusan dengan huruf dan tipe di komputer. Mulai dari memilih font saat akan membuat surat, kartu undangan, halaman web, kartu nama, dan lain-lain.

Tujuan akhir tutorial ini adalah membangkitkan kesadaran akan tipe sehingga pembaca menyadari peran tipografi dalam desain grafis, mengenal font-font, dan dapat memilih dan memadu font sesuai karakteristik masing-masing font. Tutorial ini tidak akan membahas hingga ke pemakaian software Fontographer atau teknik perancangan tipe lainnya, melainkan hanya dari sisi apresiasi.

Huruf Di Mana-Mana

Huruf dan tulisan memiliki arti amat penting bagi manusia. Bahkan, yang namanya peradaban atau masa sejarah ditandai dengan peristiwa dikenalnya tulisan oleh manusia. Zaman sebelum ada tulisan sering disebut zaman prasejarah. Kalau Anda melihat ke buku atau ke layar komputer, Anda akan melihat huruf dan tulisan. Di jalanan pun Anda akan melihat tulisan. Di pakaian, di badan mobil dan pesawat terbang, bahkan di gua-gua purbakala Anda bisa menjumpai tulisan. Selain gambar, huruf adalah cara manusia berkomunikasi secara visual.

Tipe/Typeface dan Font

Satu hal pertama yang Anda bisa perhatikan dari tulisan-tulisan yang berbeda itu adalah, bahwa bukan huruf-hurufnya saja yang berbeda, melainkan jenis hurufnya juga. Huruf “A” atau “a” di sebuah tulisan bisa berbeda dari huruf “A” dan “a” yang lain. Anda tahu bahwa keduanya abjad alfabet yang sama, tapi Anda juga mengamati bahwa jenis hurufnya berbeda. Bisa jadi yang satu lebih tebal atau gemuk dari yang lain, bisa jadi kaki-kaki hurufnya ada yang memiliki tangkai, atau lebih pendek atau lebih panjang, dan sebagainya. Sebuah jenis huruf yang sama kadang diberi nama tertentu (misalnya: Times New Roman). Jenis huruf ini disebut typeface, atau singkatnya tipe. Sekarang orang juga sering menyebut jenis huruf dengan font, karena file yang berisi informasi sebuah typeface di komputer diberi istilah font (misalnya, di Windows, informasi untuk menggambar tipe Arial disimpan dalam file ARIAL.TTF). Di dalam dunia tipografi tradisional (nondigital), yaitu saat huruf dicetak menggunakan balok-balok logam, font memiliki arti lain kumpulan balok-balok huruf logam yang memiliki satu typeface dan satu ukuran tertentu. Belakangan barulah orang-orang komputer memakai kembali istilah font untuk bidang tipografi digital. Kedua istilah typeface/tipe dan font dalam artikel ini akan dipakai bergantian.

Klasifikasi Tipe

Ada banyak sekali jenis huruf yang bisa kita amati. Mungkin di komputer Anda sendiri ada terinstal ratusan hingga ribuan file font. Sebagian font bentuknya unik dan aneh sehingga mudah kita kenali, sementara yang lain tampak sekilas mirip-mirip semua. Setiap saat pun diciptakan font-font baru. Produser film-film Hollywood misalnya, sering mengeluarkan dana untuk mendesain font baru yang unik untuk filmnya.

Berdasarkan bentuknya, para pakar tipografi umumnya membagi jenis huruf ke dalam dua kelompok besar: serif dan sans serif. Lalu ada kelompok ketiga dan keempat yang disebut script dan dekoratif. Jenis serif dan sans serif pun berbeda-beda, tapi mari sebelumnya mengetahui perbedaan serif dan sans serif.

Serif dan Sans Serif

Serif adalah kelompok jenis huruf yang memiliki “tangkai” (stem). Lihatlah font Times New Roman, Bodoni, Garamond, atau Egyptian misalnya. Persis mendekati ujung kaki-kaki hurufnya, baik di bagian atas maupun bawah, terdapat pelebaran yang menyerupai penopang atau tangkai. Menurut sejarah, asal-usul bentuk huruf ini adalah mengikuti bentuk pilar-pilar bangunan di Yunani Kuno. Seperti kita ketahui, bagian atas dan bawah tiang pilar memang lebih besar agar bisa membuat pilar lebih kokoh.

Sementara sans serif (atau “tanpa” serif) adalah jenis huruf yang sebaliknya: tidak memiliki tangkai. Ujung-ujung kakinya polos begitu saja. Contohnya Arial atau Helvetica (Catatan: meski amat mirip dan sering saling mensubstitusi satu sama lain, kedua font ini tidaklah mirip persis. Cobalah sekali-kali Anda cetak contoh huruf dalam ukuran besar dan amati perbedaan-perbedaan tipis kedua font ini.) Contoh lain jenis huruf sans adalah ITC Officina Sans, yaitu font yang digunakan di mwmag yang sedang Anda baca ini.

Kegunaan tangkai serif. Pada ukuran teks kecil, seperti seukuran tulisan teks di surat kabar atau buku, umumnya tangkai pada kaki-kaki font serif membantu agar tulisan mudah dibaca. Mengapa? Karena tangkai font serif membantu membentuk garis tak tampak yang memandu kita mengikuti sebuah baris teks. Karena itulah kita banyak menjumpai buku-buku dilayout dengan serif. Menurut penelitian, seseorang yang membaca font serif bisa lebih tahan membaca karena tidak mudah lelah—akibat adanya bantuan dari tangkai serif tadi. Tapi pada kondisi-kondisi berikut ini: a) huruf amat kecil (seperti tulisan bahan-bahan di label makanan); b) huruf amat besar (seperti di plang-plang merek) yang harus dilihat dari jauh; c) di layar monitor; huruf sans serif kadang lebih mudah dibaca. Mengapa? Karena justru kaki-kaki font serif memperumit bentuk huruf sehingga sedikit lebih lama dibaca. Jika huruf kecil sekali atau pada resolusi rendah seperti di layar monitor, kaki serif bisa tampak bertindihan dan menghalangi pandangan. Karenanya kita banyak melihat plang rambu lalu lintas menggunakan huruf yang sesederhana mungkin agar bisa cepat dibaca, dan di halaman web banyak dipakai font serif karena lebih mudah dibaca pada ukuran kecil/layar kasar.

Jenis-jenis serif. Serif tiap jenis huruf pun dapat berbeda-beda. Huruf-huruf masa lama (Old Style) seperti Garamond dan huruf-huruf masa transisi (Transitional) seperti Times New Roman misalnya, memiliki tangkai yang sudutnya lengkung. Sementara pada huruf-huruf masa modern seperti Bodoni, tangkainya bersudut siku. Ada lagi yang bersudut siku pula, tapi relatif tebal/tinggi. Contohnya Egyptian. Tipe serif seperti Egyptian kadang disebut slab serif. Beberapa huruf unik tertentu memiliki tangkai serif negatif, yaitu tangkai yang masuk ke sisi dalam kaki sehingga ujung kaki nampak lebih kecil dari batang kakinya.

Skrip dan Dekoratif

Selain serif dan sans serif, ada pula jenis huruf “sambung” dan huruf “gaya bebas.” Huruf sambung atau script bisa juga Anda sebut “huruf tulis tangan” (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Atau bisa juga disebut “huruf undangan” karena hampir selalu hadir di kartu-kartu undangan karena dipandang indah dan anggun. Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat “melingkar-lingkar”. Sementara huruf “gaya bebas” mencakup segala macam jenis huruf “aneh” lain yang sulit dikategorikan dalam ketiga kategori lainnya. Kadang huruf ini bisa diinspirasi dari bentuk geometris tertentu, memadukan gambar atau pola tertentu, dan sebagainya. Di komputer juga dikenal font-font “wingdings-like” yang sebenarnya adalah clipart. Tiap hurufnya murni berupa ikon atau gambar, bukan huruf.

Umumnya jenis-jenis huruf skrip dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Bahan Bacaan Kali Ini

Buku. Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001, cukup layak dimiliki. Buku setebal 190 halaman ini dilayout cukup apik dan membahas sejarah singkat, dasar-dasar dan klasifikasi tipe, prinsip melayout secara tipografis, dan di akhirnya menampilkan katalog sekitar 13 buah tipe terkenal. Secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang buku tipografi terbaik di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kekurangan seperti tidak adanya glosari maupun indeks. Beberapa gambar dalam artikel ini diambil dari buku tersebut.

Situs. Microsoft typography, www.microsoft.com/typography/. Microsoft, percaya atau tidak, adalah salah satu perusahaan yang berperan dalam mengembangkan teknologi tipe digital. Bersama Apple akhir tahun 1980-an, Microsoft membawa teknologi font vektor TrueType ke PC maupun Mac. Dan karena spesifikasi TrueType dipublikasikan, maka banyak font-font baru yang murah bermunculan. Microsoft pun banyak membuat font dan membagikannya gratis—sebagian dibundel langsung bersama sistem operasi dan sisanya dapat didownload dari situs tipografinya. Khusus untuk Web, Microsoft membayar beberapa desainer beken untuk merancang antara lain tipe Verdana (sans) dan Georgia (serif). Kedua tipe ini didesain khusus agar mudah terbaca di layar komputer, antara lain dengan cara membuat bagian x-height (perut) relatif besar. Bagi yang belum mempunyai kedua font tersebut, saya anjurkan mengambilnya dari situs Microsoft. (slm)

sumber : http://www.master.web.id/

Tipografi

Sebuah website tutorial desain grafis belum lengkap kiranya jika belum membahas tipografi atau typography. Pada tutorial desain ini akan saya bahas tentang sejarah tipografi, tipe anatomi tipografi, klasifikasi tipe, tipe famili, tipe measurements atau pengukuran dan penerapannya dalam pengerjaan karya desain grafis. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

DEFINISI
Tipografi adalah suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan. Seni merupakan induk dari desain grafis.

SEJARAH TIPOGRAFI
Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi Roman, Egyptian, Serif, Sans Serif, Script, Miscellaneous. Untuk artikel lengkap masalah golongan huruf silakan baca disini.

ANATOMI TIPOGRAFI
Jarang sekali saya menemui tutorial desain grafis membahas tentang anatomi tipografi atau anatomi font. Ada beberapa hal yang wajib diketahui dalam dunia typografi. Salah satunya adalah anatomy tipografi atau anatomi huruf.

– arm
– stem
– counter
– stroke
– shoulder
– apex
– galliard
– serif
– bracket
– crossbar
– tail
– spine
– bowl
– ear
– loop
– link
– eye
– leg
– ascender
– cap height
– capline
– meanline
– x height
– baseline
– descender

Istilah dari typeface dan model huruf sering synonmously, bagaimanapun, suatu typeface adalah perancangan karakter-karakter yang bersatu, dipersatukan oleh properti konsistanvisual, selagi suatu model huruf adalah suatu himpunan lengkap dari karakter di dalam setiap desain, ukuran, bentuk, atau gaya, dari tipe. ( akan dijelaskan pada artikel lain ).

KLASIFIKASI TIPE

– Old Syle atau egyptian
– Transisional atau roman
– Modern
– Slab serif
– Sans serif
– Display atau misc atau dingbat atau semacamnya
– Script
– Monospace
– Black Letter

Pada klassifikasi banyak pendapat yang berbeda untuk menentukan golongan ini. Karena punya pendapat dan tori tersendiri sehingga saya harus memberikan tulisan atau sebagai pembandingnya.

TIPE FAMILI

– Light Condensed
– Light
– Light Extended
– Regular Condensed
– Regular
– Regular Extended
– Semibold Condensed
– Semibold
– Semibold Extended
– Bold condensed
– Bold
– Bold Extended
– Black Condensed
– Black
– Black Extended

Tipe famili adalah group tipeface yang terikat menjadi satu oleh persamaan karakter visual. Pada tipe famili ini saya menulisnya dari paling kecil ukurannnya hingga paling besar. Tipe famili terdiri dari perbedaan berat dan lebar. Contoh seperti nama ITC Lubalin akan mempunyai 15 tipe famili dengan menambahkan tulisan ITC Lubalin sebelum nama tipe famili..

TIPE PENGUKURAN

– Leading
– Kerning
– Tracking
– Baseline Shift
– Left aligned
– Center aligned
– Right aligned
– Justified aligned

Ada dua tipe pengukuran, relatif dan spacing measurements. Yang saya tampilkan pada tutorial desain grafis untuk tipografi ini adalah tipe spacing measurements.

PENERAPAN TYPOGRAFI
Tipografi dapat diterapkan pada berbagai macam karya desain. Hasil karya desain menjadi menarik, komunikatif, harmonis, dan attraktif ketika menggunakan tipografi yang tepat. Contoh pada koran dan majalah seringkali menggunakan font yang ramping dan jelas seperti Times New Roman, Helvetica dan sejenisnya. Untuk huruf header dan judul artikel biasanya menggunakan Impact, Arial Black, dan Bold Times New Roman yang tegas. Itu semua berkaitan dengan legibility atau kejelasan keterbacaan.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/

SENI RUPA MODERN DAN KONTEMPORER

SENI RUPA MODERN DAN KONTEMPORER

Penelitian tentang karya seni bukan merupakan suatu hal yang mudah melainkan suatu pekerjaan yang  sangat pelik, dan membutuhkan kecerdasan dari sudut mana kita memandang. Hal ini sangat memberikan pengaruh pada hasil penelitian yang penuh dengan  ketegangan antara sudut pandang ilmiah dan seni.

Seni Rupa

Seni rupa secara sederhana, didefinisikan sebagai seni yang dapat dilihat atau tampak kasat mata. Dalam bahasa Inggris seni rupa disebut visual art, karena memang seni rupa hanya dapat dirasakan lewat penglihatan. Ini ditegaskan oleh Humar Sahman dalam bukunya “Mengenali Dunia Seni Rupa” sebagai berikut:

…peranan mata sangat menentukan apakah dalam proses mencipta sejak dari pengamatan sampai pada visualisasi, gagasan ataupun dalam proses apresiasi produk visualisasi itu. Orang yang buta warna walaupun sepintas-lintas matanya nampak beres-beres saja, tidak akan mampu menjadi perupa atau apresiator karya seni rupa yang kompeten (Humar Sahman, 1993: 200).

Banyak pendapat mengenai seni rupa selain visual art di antaranya spatial art yang dalam kamus bahasa Inggris berarti mengenai ruang/tempat. Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Humar Sahman sebagai berikut:

… disebut spasial art jika yang diaksentuasi adalah ruang (space) seperti bangunan (arsitektur = seni mencipta ruang). Atau apabila karya yang diciptakan menempati ruang, baik dalam arti faktual maupun virtual (Humar Sahman, 1993:200).

Dalam artian terbatas seni rupa dapat diartikan “plastic” jika dalam konteks hanya memanfaatkan teknik membentuk bahan-bahan plastis (lunak) (Herbert Read, 2000: 1). Contoh dari pengertian ini adalah patung, keramik termasuk juga instalasi.

Pendapat Jim Supangkat dalam SanentoY., (2001: ix) mengenai seni rupa dalam pengantar buku ‘Dua Seni Rupa” dapat dijadikan sebagai landasan dalam penelitian ini. Menurutnya seni rupa bila diterjemahan secara harfiah ke dalam bahasa Inggris maka terdapat dua istilah yang berbeda yaitu visual art dan fine art.

Visual art mengacu pada pengertian seni yang menekankan “rupa”. Istilah ini mempunyai lingkup jauh lebih luas dari fine art. Seni rupa ini dapat dikatakan setua kebudayaan umat manusia karena memang ada di semua kebudayaan di segala zaman sejak zaman primitif. Sedangkan fine art mempunyai lingkup yang sangat sempit dan tradisinya terikat pada kebudayaan Barat.

Membongkar persoalan seni rupa sedikit banyak mempersoalkan identifikasi melalui modifikasi pemikiran-pemikiran dengan menangkap gejala seni rupa. Munculnya seni rupa kontemporer mungkin dapat melahirkan persoalan rumit, sebab tidak semua seni yang dibuat pada masa sekarang adalah kontemporer. Hal ini akhirnya menyebabkan kecenderungan yang tidak bisa sepenuhnya dicerna dengan konsep, misalnya seni instalasi atau praktek-praktek seni rupa lainnya yang dianggap ekstrim.

Setiap karya seni hendaknya memberikan manfaat pada masyarakat atau kehidupan umat, karya seni seperti inilah disebut karya seni yang berkualitas artinya masyarakat bisa menikmati dengan kepolosan apresiasi serta pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian akan timbul keseimbangan antara seniman karya seni dengan apresiator. Di lain pihak karya seni tidak harus selalu dapat dimengerti oleh masyarakat, akhirnya melahirkan gejala kurangnya apresiasi, kampungan, ketinggalan zaman dan sebagainya.

Persoalan di atas merupakan permasalahan yang menyelesaikannya menuntut kreativitas. Setiap seniman dalam proses penciptaan karya seni hendaknya memakai pemikiran yang sangat matang. Berkaitan dengan proses penciptaan dalam hal ini Dharsono (2004: 28) membaginya dalam tiga komponen  proses penciptaan karya seni yaitu tema, bentuk dan isi. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Tema

Tema merupakan rangsang cipta seniman dalam usahanya untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan sehingga dapat memberikan konsumsi batin manusia secara utuh dan perasaan keindahan. Kita dapat menangkap harmoni bentuk yang disajikan serta mampu merasakan lewat sensitivitasnya. Dalam sebuah karya seni hampir dapat dipastikan adanya tema, yaitu inti atau pokok persoalan yang dihasilkan sebagai akibat adanya pengolahan objek (baik objek alam atau objek imajinasi), yang terjadi dalam ide seorang seniman dengan pengalaman pribadinya. Ada kalanya seorang seniman mengambil “alam” sebagai objek karyanya, tetapi karena adanya pengolahan dalam diri seniman tersebut maka tidaklah mengherankan apabila bentuk (wujud) terakhir dari karya ciptannya akan berbeda dengan objek semula.

… problem yang sangat penting  dalam mencipta sebuah karya seni bukanlah apa yang digunakan sebagai objek tetapi “bagaimana” sang seniman mengolah objek tersebut menjadi karya seni yang punya nafsu dan citra pribadi sehingga dalam pengertian tema, tidaklah dapat diterangkan begitu saja tanpa seseorang terlibat di dalamnya (dalam proses-proses penciptaan). Tema merupakan bentuk dalam ide sang seniman, artinya bentuk yang belum dituangkan dalam media atau belum lahir sebagai bentuk fisik. Maka dapat dikatakan pula bahwa seni adalah pengejawantahan dari dunia ide sang seniman (Dharsono, 2004: 30).

Bentuk

Pada dasarnya apa yang dimaksud dengan bentuk adalah totalitas dari pada karya seni. Bentuk itu merupakan organisasi atau suatu kesatuan atau komposisi dari unsur pendukung karya. Ini dijelaskan lebih lanjut oleh Dharsono bahwa ada dua macam bentuk yang pertama adalah bentuk visual yaitu bentuk fisik dari sebuah karya seni atau kesatuan dari unsur-unsur pendukung karya seni tersebut. Selanjutnya adalah bentuk khusus yaitu bentuk yang tercipta karena adanya hubungan timbal balik antara nilai-nilai yang dipancarkan oleh fenomena bentuk fisik terhadap tanggapan kesadaran emosional.

Isi

Isi adalah bentuk psikis dari karya yang dihasilkan seorang seniman. Perbedaan bentuk dan isi hanya terletak pada diri seniman. Bentuk hanya cukup dihayati secara inderawi tetapi isi atau arti dihayati dengan mata batin seorang seniman secara kontemplasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa isi disamakan dengan tema seseorang seniman.

2.2 Fungsi Seni Rupa

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak bisa disangkal bahwa manusia tidak bisa lepas dari seni, karena seni merupakan bagian dari kehidupan manusia dari sejak zaman prasejarah hingga sekarang artinya seni adalah kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan lain.

Karya seni secara teoritis mempunyai tiga macam fungsi yaitu: fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Seni memang tidak lepas dari fungsi, di mana kehidupan manusia tidak bisa lepas dari seni, ini menandakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang sekaligus sebagai makhluk individu.  Selain sebagai keindahan, religius atau benda pakai seni mempunyai fungsi yang sangat mendalam (Dharsono, 2004: 31).

Setiap manusia pasti membutuhkan tata cara (norma) hidup. Dari tata cara hidup itulah manusia akhirnya melahirkan kebudayaan dan dari kebudayaan itu lahirlah seni. Sebagai instrumen ekspresi personal, seni semata-mata tidak dibatasi untuk dirinya sendiri. Maksudnya seni tidak secara eksklusif dikerjakan berdasarkan emosi pribadi namun bertolak pada pandangan personal menuju persoalan-persoalan umum di mana seniman itu hidup, kemudian diterjemahkannya lewat  lambang dan simbol. Ciri-ciri kemanusiaan seperti kelahiran, cinta dan kematian yang punya dasar instrumen secara umum diangkat sebagai tema seni, tetapi pengolahan terhadap wujud karya tidak bisa lepas dari adanya keunikan seniman dalam menangkap atau membentuk idenya.

2.3 Seni Rupa Modern

Eropa dan Amerika adalah pelopor lahirnya seni modern. Hal ini ditegaskan oleh Rosenberf, dalam Dharsono (2004:222) bahwa:

Pengertian “modern” dalam terminologi seni rupa tidak bisa dilepaskan dari prinsip modernisme atau paham yang mendasari perkembangan seni rupa modern dunia sampai pertengahan abad ke-20. Seni rupa modern dunia memiliki nilai-nilai yang bersifat universal. Dari penafsiran seorang pelukis Jerman yang pindah ke Amerika Serikat sesudah Perang Dunia ke II, Hans Hofmann menyatakan hanya seniman dan gerakan di Eropa dan Amerika yang mampu melahirkan seni rupa modern, konsepsi poros Paris-New-York sebagai pusat perkembangan seni rupa modern.

Seni modern lahir dari dorongan untuk menjaga standar nilai estetik yang kini sedang terancam oleh metode permasalahan seni. Modernisme meyakini gagasan progres karena selalu mementingkan norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Prinsip tersebut melahirkan apa yang kita sebut dengan “Tradition of the new” atau tradisi “Avant-garde”, pola lahirnya gaya seni baru  pada awalnya ditolak, namun akhirnya diterima masyarakat sebagai inovasi terbaru.

Seni modern dengan melahirkan Conceptual Art/ Seni Konseptual merupakan gerakan dalam  menempatkan ide, gagasan atau konsep sebagai masalah yang utama dalam seni. Sedangkan bentuk, material dan objek seninya hanyalah merupakan akibat/efek samping dari konsep seniman.

Walapun kita sering menggunakan istilah seni rupa modern prinsip modernisme tak pernah sungguh-sungguh berakar. Polemik kebudayan di tahun 30-an sangat mempengaruhi pemikiran perkembangan seni rupa Indonesia. Hal ini dipertegas oleh Jim Supangkat 1992 sebagai berikut:

Persentuhan seni rupa Indonesia dengan seni rupa modern sebenarnya hanya terbatas pada corak, gaya, dan prinsip estetik tertentu. Nasionalisme sebagai sikap dasar persepsi untuk menyusun sejarah perkembangan sejarah seni rupa Indonesia adalah kenyataan yang tak bisa disangkal dan nasionalisme sangat mewarnai pemikiran kesenian dihampir semua negara berkembang. Batas kenegaraan itulah yang mengacu pada nasionalisme yang akhirnya diakui dalam seni rupa kontemporer yang percaya pada pluralisme sejak zaman PERSAGI tidak pernah ragu menggariskan perkembangan seni rupa Indonesia khas Indonesia (Jim Supangkat dalam Dharsono, 2004: 224).

Kendati seni rupa modern percaya pada eksplorasi dan kebebasan secara implisit akhirnya hanyalah mempertahankan prinsip-prinsip seni rupa Barat (tradisi Barat). Prinsip-prinsip modernisasi juga menetapkan  tahap perkembangan yang didasarkan pada perkembangan seni rupa  modern Eropa Barat dan Amerika (lihat sejarah). Di Indonesia prinsip-prinsip seperti itu tidak seluruhnya teradaptasi, akan tetapi muncul secara terpotong-potong kadang dalam bentuk yang lebih ekstrim.

Catatan perkembangan pelukis Belanda yang diabaikan adalah catatan yang justru secara mendasar memperlihatkan tanda-tanda perkembangan seni rupa modern.  Kendati tidak terlalu nyata pergeseran yang terjadi pada tahun 1940-an ini menandakan seniman mulai mempersoalkan bahasa rupa dan cenderung meninggalkan representasi (menampilkan realitas sebagai fenomena rupa). Pada tahun 50-an kecenderungan mempersoalkan bahasa rupa itu menegaskan pada karya pelukis Ries Mulder yang waktu itu tinggal di Bandung. Ketika Ries Mulder merintis pendidikan seni rupa di Bandung (ITB), perkembangan seni rupa di alur ini memasuki era penjelajahan masalah bentuk rupa yang secara sadar meninggalkan representasi. Ries Mulder memperkenalkan konsep-konsep seni lukis kubisme yang kemudian sangat berpengaruh di kalangan pelukis pribumi yang belajar padanya. Di tempat lain, ruang seni rupa di Jogjakarta pada saat itu dipenuhi dengan karya-karya realistis. Dari kenyataan inilah maka lahir kubu Bandung yang disebut sebagai laboratorium Barat. Hal ini dipertegas oleh A.D. Pirous bahwa:

…perguruan tinggi dibentuk dengan gaya, konsep dan teori kesenian Barat modern diajarkan pada mahasiswa, proses itu berjalan sedemikian sehingga pada tahun 50 dan 60-an , karya-karya mahasiswa seni rupa Bandung pernah dicap sebagai hasil laboratorium Barat (A.D. Pirous, 2003:56)

Akibat dari perkembangan ini, kemudian menjadi kontradiksi kubu Bandung-Jogja yang  memperlihatkan pertentangan dua tradisi besar seni rupa modern, yaitu kontradiksi tradisi realis dan modernis.

Seni Rupa Kontemporer

Antara modern dan kontemporer secara umum tidak dapat dipilah berdasarkan waktu, hal ini mengakibatkan tidak jelasnya pemisah antara kedua istilah tersebut. Instilah modern dan kontemporer dalam konteks seni rupa dijelaskan oleh Kramer dalam Dharsono sebagai berikut:

Pengertian “kontemporer” dibandingkan dengan istilah modern hanya sekedar sebagai sekat munculnya perkembangan seni rupa sekitar tahun 70-an dengan menempatkan seniman-seniman Amerika seperti David Smith dan Jackson Pollock sebagai tanda peralihan (Dharsono, 2004: 223).

Pengertian kontemporer dalam bidang arsitektur memiliki pengertian lain, hal ini diungkapkan oleh Kultermann seorang pemikir asal Jerman, “berdasarkan teori Udo pengertian kontemporer dekat dengan paham post-modern… menjelang 1970. Paham baru ini menentang kerasionalan paham modern yang dingin dan berpihak  pada simbolisme instink” (Dharsono, 2004: 223). Dalam istilah seni pengertian ini ditafsirkan lebih lajut oleh Douglas Davis kontemporer sebagai kembalinya upaya mencari dan mengangkat nilai-nilai budaya dan kemasyarakatan atau dalam istilah seni kembali ke konteks.

Seperti telah kita ketahui, seni kontemporer dalam bahasa Indonesia padanannya adalah “seni masa kini” atau juga “seni mutakhir”. Dalam khazanah seni modern yang telah berusia ratusan tahun, kehadiran seni kontemporer cukup rumit dan menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan.

Istilah seni kontemporer pada hemat saya justru banyak menimbulkan kebingungan. Istilah seni kontemporer dalam arti seni masa kini sepanjang yang telah saya selusuri, sudah muncul sejak tahun 50-an. Pada waktu itu, karya seni masa kini hanya menyangkut nama-nama Picasso, Matisse, Braque dan lain-lain yang tidak bisa disebut satu persatu apakah tidak mengherankan jika pada tahun 1996 kita harapkan kepada bentuk seni yang sama sekali berbeda dengan tokoh-tokoh yang berbeda pula, namanya masih tetap sama yaitu seni kontemporer apa sebenarnya yang mempertautkan seni kontemporer tahun 50-an yang diwakili Picasso dan kawan-kawannya dengan seni kontemporer di tahun 1996 yang diwakili Pop art, Happening art dan seni instalasi, dan sebagainya saya rasa, inilah yang membingungkan dengan memakai istilah seni kontemporer karena setiap ungkapan seni 10, 20, 50, seratus tahun yang lalu atau yang akan datang, pada zamannya yang bersangkutan tetap merupakan seni kontemporer. Seperti juga waktu yang akan datang dan pergi, juga ungkapan seni dari waktu ke waktu yang akan dan pergi masing-masing mempunyai  bentuk, sifat dan kecenderungan  masing-masing yang saling berbeda satu sama lain,  bahkan sering tidak ada kaitan dan kebersamaan titik tolaknya. Periode berikutnya adalah pendobrakan yang lengkap terhadap asas-asas seni rupa tradisi Barat. Bahkan, akhirnya pendobrakan ini semakin beraneka ragam. Dipengaruhi oleh semangat individualisme dengan jumlah pelukis yang semakin banyak maka seni kontemporer ini semakin dipadati oleh seni individual di mana setiap seniman berusaha untuk saling berbeda satu sama lain (Popo Iskandar, 2000:30).

Ditinjau dari sudut ini seni kontemporer bukanlah konsep tetap. Seni kontemporer adalah dimensi waktu yang terus bergulir  mengikuti perkembangan masyarakat dengan zamannya.

Kiranya hanya satu indikasi yang bisa dijadikan titik terang istilah seni kontemporer, yakni lahir dan berkembang dalam khazanah dan ruang lingkup seni modern. Hal ini di pertegas dalam buku AWAS! Recent art from Indonesia: Seni rupa kontemporer muncul setelah seni rupa modern.

…”berlangsungnya perayaan ‘Boom seni lukis’ di akhir tahun 80-an dan awal akhir 90-an…seniman bergerak cepat menembus, melintas batas-batas tradisional negara yang membatasi identitasnya. Kelangsungan seni rupa kontemporer…tidak lagi mengusung semangat hebat, pemberontakan dan penyangkalan seperti pendahulunya di tahun 70-an (seni modern) tetapi melangsungkan negosiasi  dengan berbagai senimanan baru, perubahan-perubahan yang serba cepat, peluang dan tentunya juga gemerlapnya pasar (Rizki A Zaelani, 1999:92).

Untuk melengkapi batasan antara modern dan kontemporer dalam seni rupa, penulis (Senin, 17 Januari 2005) berhasil menghubungi Setiawan Sabana (pendidik, perupa, dekan FSRD ITB). Ia mengungkapkan, sesuai dengan hasil penelitiannya mengenai “Seni Rupa Kontemporer Asia Tenggara” yang dilakukannya selama 4 tahun, bahwa yang membedakan antara seni rupa modern dan kontemporer sebagai berikut:

Seni rupa modern

–        memutuskan rantai dengan tradisi masa lalu, pada masa ini tradisi tidak menjadi perhatian yang signifikan dan itu dianggap sebagai seseuatu yang tidak perlu diotak-atik lagi tapi cukup dalam musium saja,

–        adanya high art dan low art ( kesenian dianggap adiluhung),

–        tema-tema sosial cenderung ditolak, dan

–        kurang memperhatikan budaya lokal.

Seni rupa kontemporer

–        tradisi dicoba untuk diangkat kembali misalnya tema lebih bebas dan media lebih bebas,

–        tema-tema sosial dan politik menjadi hal yang lumrah dalam tema berkarya seni,

–        baurnya karya seni adiluhung/high art dan low art,

–        masa seni rupa modern kesenian itu abadi maka masa kontemporer kesenian dianggap kesementaraan,

–        dulu ada istilah menara gading sekarang kesenian merakyat, jadi tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu/harus bertahan, dan

–        budaya lokal mulai bahkan menjadi perhatian.

Selanjutnya ia menyimpulkannya bahwa fenomena seni rupa kontemporer Indonesia merupakan suatu refleksi, pencerminan evaluasi kembali, sikap evaluatif dan pencarian akan potensi-potensi kultural yang baru di negeri ini  dan  merupakan bentuk kesadaran baru dalam era global.

Seni Rupa Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif  semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman pertama kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni lukis Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, dari hasil pendidikan tersebut R. Saleh melahirkan dua karyanya yang sangat terkenal sampai saat ini yaitu “Antara Hidup dan Mati” dan “Hutan Terbakar” serta beberapa potret keluarga raja-raja Jawa dan pejabat pemerintahan Belanda.

Gambar 1. Lukisan Raden Saleh “Berburu Banteng”

(Dharsono,2004:142)

Kasus lain yang hampir serupa terjadi setelah meninggalnya R. Saleh (1880). Munculnya tokoh pelukis yang mengenyam pendidikan dari Belanda yaitu Abdullah Suryosubroto (1900-an). Ia pada awalnya dikirim ke negeri Belanda oleh Wahidin Sudirohusodo untuk menuntut ilmu kedokteran namun tanpa sepengetahuan ayahnya ia malah belajar pada akademi seni rupa. Ia kemudian pulang ke Indonesia menjadi pelukis besar dan menetap di Bandung.  Sejak wafatnya R. Saleh (1880) sampai pada munculnya Abdulah Suryosubroto (1900-an) konteks dunia seni rupa Indonesia seperti mengalami “rantai terputus”.

Mooi Indie” (seni lukis pemandangan) merupakan masa awal perkembangan seni rupa Indonesia setelah wafatnya R. Saleh. Tumbuhnya Mooi Indie merupakan pengaruh pengusaha dan para pedagang masa kolonialisme tahun 1930-1938. Melihat keadaan alam di Indonesia yang indah dan permai menyebabkan para pengusaha pada waktu itu sangat menyukai objek-objek keindahan alam, sehingga lahir pelukis-pelukis pemandangan, diantaranya Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi. Hal ini ditegaskan oleh Sanento Yuliman sebagai berikut:

…pada awal abad dua puluh terbentuklah konsumen lukisan pemandangan  alam di Indonesia, yaitu saudagar, pengusaha, pegawai Belanda dan para wisatawan…semua menginginkan kenang-kenangan alam Indonesia…karena kebanyakan pelukis pada masa itu memang senang melukis pemandangan alam. Kesenangan itu…beserta hasil penjualan…bagi pelukis merupakan imbalan yang cukup…Pelukis Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi meluangkan banyak waktu…pergi ke tempat sepi di lereng gunung Tangkuban Parahu, kaki Merapi, pantai Pelabuhan Ratu dan di Ngarai Sianok merenungi pemandangan alam dan dengan tekun melukisnya (Sanento Yuliman, 2001:80).

Mooi Indie memiliki karakter dan teknik pewarnaan yang berbeda dengan masa R. Saleh.   Pewarnaan karya seniman Mooi Indie lebih menyala baik pada objek alam, binatang maupun manusia. Tokoh-tokoh masa Mooi Indie selain Abdullah Suryosubroto, Wakidi dan Pringadi yaitu Basuki Abdullah dan pelukis lainnya. Mereka melukis pemandangan dengan teknik yang biasa dilakukan dan diajarkan di akademi seni rupa negeri Belanda berdasarkan ketentuan lazim, yaitu  memperhitungkan perspektif/ruang dan teknik pewarnaan yang ditonjolkan.

Gambar 2. Lukisan Abdulah Suryosubroto “Hamparan Sawah”

(Dharsono, 2004)

Dengan aturan-aturan seperti di atas Sudjojono (salah satu murid Pringadi) merasa tidak punya kebebasan, sebab menurutnya melukis harus terbebas dari kaidah-kaidah agar gejolak jiwa bisa tercurahkan sebebas-bebasnya. …lukisan tidak diukur dari kecepatan dalam melukiskan objek tetapi bagaimana menuangkan intensitas kegemasan garis-garis yang disapukan pada kanvas, ujar Sudjojono (Sanento Yuliman, 2001:82). Sudjojono tetap konsisten pada keyakinannya hingga tahun 1937 ia berhasil mengikuti pameran bersama orang-orang Eropa. Pada tahun 1938 ia menjadi tokoh dan penggerak Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang diketuai oleh Agus Djaya. Perkumpulan ini dirintis sebagai kesatuan pelukis-pelukis untuk melahirkan lukisan corak Indonesia dengan konsep “melukis tidak semata-mata berbekal keterampilan teknis, tetapi memerlukan pandangan hidup dan visi seni yang luas dan mendalam”. Namun akhirnya PERSAGI bubar ketika kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang Pada bulan Maret 1942.

Jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang bukan hanya suatu kemenangan militer saja, tetapi bangsa Indonesia lebih melihat peristiwa ini sebagai kemenangan kepercayaan akan harga diri bangsa Asia terhadap bangsa Barat. Ini dipaparkan oleh A.D. Pirous bahwa:

Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu dirasakan sebagai “saudara tua” yang melepaskan kekuasaan penjajahan Belanda yang diterima dengan semangat persaudaraan yang erat. Jepang yang juga unggul dalam kebudayaan, diharapkan dapat membantu mengembangkan kebudayaan Indonesia, harapan ini jadi lebih diyakini, ketika pemerintah Jepang menampakan perhatiannya yang besar terhadap persoalan-persoalan kebudayaan (AD. Pirous 2003:3).

Pada masa pendudukan Jepang seni rupa Indonesia mendapatkan perhatian yaitu dengan disediakannya alat-alat dan tempat untuk melukis sehingga terselenggara pameran lukisan pertama pada bulan September 1942. Tapi sayangnya karya-karya yang dibuat hanya sebagai propaganda pemerintahan Jepang yaitu dengan bertemakan kehebatan pemerintahan Jepang.

Gambar 3. Foto Perupa Jepang Saseo Ono

(A.D. Pirous, 2003:1)

Gambar 4. Sketsa Saseo Ono menggambarkan situasi Jalan Braga, Bandung

(A.D. Pirous, 2003:2)

Gambar 5. Sketsa Saseo Ono menggambarkan semangat awal kemerdekaan

(A.D. Pirous, 2003: 9)

Puncak campur tangan pemerintahan Jepang dapat dicatat pada bulan April tahun 1943 atau setahun setelah masa pendudukan. Jepang membentuk suatu badan kebudayaan yang diberi nama “Keimin Bunka Sidosho” dengan kontrol di bawah seniman Jepang yaitu Saseo Ono, di dalamnya tetap terdapat propaganda pemerintahan Jepang. Akan tetapi oleh para seniman lokal “Keimin Bunka Sidosho” dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berlatih secara teratur dengan literatur dan peralatan yang ada, mereka mengadakan ceramah/diskusi tentang seni rupa dengan sedikitnya memberikan pandangan-pandangan baru tentang perkembangan kesenian (seni rupa) Indonesia. Di pihak lain Indonesia mendirikan “Poetra” yang dalam bagian seni rupanya dipimpin oleh S. Sujoyono dan Affandi.

Selain mengabdi pada bidang seni, seniman-seniman lokal berjuang melawan pemerintahan Jepang lewat lukisan dan poster, dengan jiwa nasionalisme pada saat itu sebagai contoh lukisan Affandi menyindir pekerja romusha dengan badan kurus dan pakaian compang-camping, demikian juga poster dengan model pelukis Dullah, teks oleh Khairil Anwar “Boeng Ajo Boeng” direproduksi dan disebar lewat gerbong-gerbong kereta api.

Uraian singkat di atas tidak menggambarkan secara detail tentang sejarah, penulis hanya menulis apa yang dianggap penting. Namun yang terpenting kita telah mendapatkan benang merah sebagai bukti kuat tentang pengaruh Barat terhadap perkembangan seni rupa modern Indonesia. Hal tersebut mengingat apa yang diungkapkan oleh  Prof. Huizinga seorang ilmuwan sejarah yang dikutip kembali oleh Moh. Hatta;”…Bahwa sejarah bukanlah menuliskan selengkap-lengkapnya fakta yang terjadi pada masa lampau yang tidak mungkin ditulis lengkap oleh manusia, sejarah memberi bentuk kepada masa yang lalu supaya roman masa lalu itu jelas tergambar di muka kita” (Khalid Zabidi 2003:22).

Gambar 6. Karya Jim Supangkat

(GSRB, 1979: 48)

Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia. Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya: “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)

Perkembangan Seni Rupa  Bandung

Melihat sangat luasnya ruang lingkup seni rupa maka penulis dalam hal ini hanya akan membeberkan perkembangan seni murni saja karena mengingat seni murni dianggap sebagai pencetus awal modernisasi seni rupa Indonesia.

Perkembangan seni rupa Bandung ditandai dengan munculnya kelompok seni rupa Hindia Molek atau “Mooi Indie”  kelompok ini banyak menggambarkan lukisan-lukisan yang bertemakan pemandangan alam yang indah dan objek manusia. Ini dipertegas oleh Sudarmaji bahwa:

Masa ‘Hindia Jelita’, atau masa ‘Hindia Indah’, atau ‘Mooi Indie’, apapun namanya, masa itu merupakan masa yang menonjolkan sesuatu sifat yang diakibatkan sebagai suatu cara melihat dan memandang dunia sekelilingnya  dari aspek visualnya. Para seniman  pada masa ini memandang gejala sekelilingnya dari sudutnya yang molek, yang cantik, indah, permai dalam memuja alam Indonesia, terutama gunungnya, laut, sawah, bunga-bunga, manusia terutama gadis-gadis Indonesia yang cantik (Dharsono, 2004:143).

Kelompok ini muncul tentu tidak lepas dari pengaruh pelukis Barat (penjajah) yang melukis bertaraf hanya sebagai hobi atau kesenangan belaka. Hindia Molek atau “Mooi Indie” adalah sebuah perkembangan seni rupa sebelum lahirnya PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Semenjak dari masa itu perkembangan seni rupa atau bahkan kebudayaan di Indonesia merupakan perkembangan yang terlepas dari seni rupa prasejarah bahkan hal ini merupakan pembuka babak baru seni rupa modern Indonesia. Sekitar tahun 1908-1937 pelukis-pelukis “Mooi Indie” banyak memilih tempat untuk menetap di Bandung ini disebabkan karena alam keindahan Bandung merupakan objek yang sangat mendukung  dalam berkarya rupa pada saat itu, misalnya Abdullah Suryosubroto ia memilih Bandung yang akhirnya ia menetap di sana dengan alasan karena banyak orang asing bermukim yang merupakan konsumen utama seni lukis baru. Namun yang lebih penting bahwa Bandung merupakan letak yang strategis  karena berada di tengah-tengah alam raya yang indah dengan dikelilingi gunung-gunung  yang merupakan sorga bagi seorang pelukis “Mooi Indie”.

”…Rentang pandang kebiruan kaki langit dengan puncak gunung diselimuti awan tipis, mainan cahaya disela-sela bambu dan hutan belantara serta keelokan jalan atau sungai yang mengalir jernih menawan, melingkar di antara semak-semak dan pepohonan berlumut yang dipadu dengan hamparan sawah yang belum ditanamai. Bentang alam pegunungan yang tampak menghijau laksana lautan hijau mengepung gunung, di bawah sinar matahari pagi dengan senyum awan tipis lukisan Abdullah Suryosubroto mampu membawakan rasa keharuan dan perasaan tentram, yang telah hilang ditelan hiruk keramaian kota. Tidaklah mengherankan apabila lukisannya banyak diminati  orang-orang asing dan orang-orang Indonesia sendiri (Kusnadi dalam Dharsono, 2004:144).

Seni rupa Bandung merupakan salah satu muatan seni rupa modern dan kontemporer di Indonesia. Kalau kita lihat ke belakang hingga munculnya Pelukis Lima Bandung tentulah kita akan dapat menyimpulkan bahwa Bandung merupakan motor pergerakan seni rupa Indonesia dari pra-kemerdekaan, pasca kemerdekaan hingga sekarang. Seniman lainnya yang seangkatan dengan Abdullah Suryosubroto sebagai pengisi masa “Mooi Indie” yaitu Sukardji dan Kendar Kerton yang kemudian disusul oleh kelompok Lima Bandung yang aktif pada tahun 1935-1940 yaitu Affandi, Barli, Wahdi, Sudarso dan Hendra. Mereka semua merupakan seniman yang hidup dan berjaya di masa Kolonial hingga sekarang. Dengan pendidikan dari Belanda para pelukis Bandung masa lalu telah bisa membaca literatur Barat  antara lain gambar reproduksi  karya seniman Barat yang terkenal pada waktu itu.

Masa Pendidikan Tinggi Tahun 1947-1960-an

Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa di Bandung, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan di antara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.

Gambar 7. Lukisan karya Ries Mulder

(Ardiyanto, 1996)

Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.

Gambar 8. Mahasiswa Seni Rupa ITB Tahun 1956

( A.D. Pirous, 2003: 164)

Kemudian lembaga yang mencetak guru seni rupa selanjutnya dikelola oleh FKIP-UNPAD (sejak 1961) dan kini lembaga pendidikan guru seni rupa  tersebut berada pada Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan kerajinan IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)

Seni Rupa Bandung Tahun 1970-1980-an

Masa 70-an, ditandai oleh maraknya pembangunan di sektor ekonomi, hal ini ditandai dengan masuknya penanaman modal asing sehingga memajukan roda industri dan perekonomian. Pertumbuhan perekonomian menimbulkan krisis sosial sehingga mendorong timbulnya berbagai ketimpangan sosial. Hal ini dijelaskan oleh A.D. Pirous sebagai berikut:

Perkembangan ekonomi yang mengalami pertumbuhan, melahirkan berbagai ketimpangan yang mendorong pergolakan sosaial dan politik, seperti misalnya kasus “malari” pada 1974, serta gelombang protes dan demonstrasi mahasiswa (A.D Pirous, 2003:172).

Suasana seperti itu berimplikasi pada  ruang seni rupa, yaitu ditandai dengan lahirnya gaya seni yang mengarah pada nilai-nilai spiritual dengan lahirnya lukisan-lukisan yang bernafaskan ke-Islaman seperti kaligrafi. Hal ini terus berkembang sehingga bermunculan seniman-seniman kaligrafi. Ini ditegaskan dengan jelas oleh A.D. Pirous:

… berbagai pameran yang diikuti banyak seniman dengan beragam gaya, dari kecenderungan gaya ekspresif seperti: Affandi, dan Amri Yahya di Yogya, serta gaya meditatif dari Ahmad Sadali, A.D. Pirous, A. Subarna dari Bandung, hingga gaya surealistis seperti Saiful Adnan dari Yogya yang juga kuat memperkaya ragam bahasa visual seni lukis kaligrafi Islami … (A.D. Pirous, 2003:173)

Tumbuhnya perekonomian di Indonesia Era 80-an mendorong timbulnya kegiatan berkesenian yang  mengakibatkan lahirnya sejumlah kolektor, galeri, art dealer dan lain-lain, kemudian disusul pembangunan perkantoran, hotel, real estate atau perumahan. Sehingga melahirkan kebutuhan barang seni sebagai elemen estetiknya. Ardiyanto (1998:55) menyebutkan …frekuensi penjualan lukisan dan pesanan patung mengalami lonjakan yang fantastis dan dengan sendirinya banyak seniman yang hidupnya berkecukupan, sehingga tidak salah jika G. Shidarta dalam makalah diskusi dalam pameran ASEAN ke-3 di Jakarta mensinyalir bahwa kecenderungan besar di mana seniman (seni) mengabdi kepada kekuatan ekonomi.

Realitas lain para perupa pemberontak pada masa ini mayoritas muncul dari kalangan mahasiswa akademi seni rupa di Bandung, mereka menganggap bahwa lembaga tempat menimba ilmu dinilai kaku, konservatif dan tidak progresif dalam menyikapi perkembangan seni rupa Indonesia. Pendek kata lembaga pendidikan seni rupa tidak dapat mengakomodir berbagai gagasan, motivasi atau keinginan kaum muda ( Ardiyanto, 1998:55).

Karya-karya yang dilahirkan pada masa ini tidak lagi memperhatikan nilai-nilai estetik dan mengejar wilayah artistik baru bahkan keluar dari wilayah dengan kode khusus, mereka menganggap praktek eksplorasi artistik sebagai ciri modernisme tidak dianggap penting. …pencarian esensi ekspresi, eksplorasi media, perkara orisinalitas, pencarian teknik baru tidak dipersoalkan pada karya-karya di era tahun 80-an… (Jim Supangkat dalam Ardiyanto, 2003:56).

Praktek seni rupa yang mempunyai kecenderungan menyimpang ini antara lain seperti karyanya Acep Zam-zam Noor, Irwan Karseno dengan mengangkat isu seks kemudian tokoh lainnya seperti Tisna Sanjaya dan Kristiawan, menyelenggarakan pameran gambar di sepanjang jalan Cikapundung-Bandung.

Gambar 9. Aksi mahasiswa IKIP Bandung tahun 1981

(Ardiyanto, 1998: 62)

Pemilihan ruang publik tidak saja dikarenakan perkara ukuran yang relatif lebih besar namun secara tidak disadari hal ini jadi lebih dekat dengan lahirnya karya seni yang dapat diapresiasi oleh masyarakat khususnya warga kampus ini dilakukan oleh mahasiswa seni rupa IKIP Bandung (sekarang UPI) angkatan 1981 mereka mendobrak bahwa karya itu tidak selalu individual. Peristiwa ini sempat menjadi polemik dan kekalutan pada masyarakat kampus (Ardiyanto, 1998:62).

Seni Instalasi

Munculnya seni instalasi berasal dari perkembangan salah satu teknik dalam seni rupa (patung) yaitu asemblasi. Asemblasi sendiri berasal dari perkembangan aliran Kubisme (Picasso dan Braque), ditambah dengan semakin gencarnya pengaruh Dadaisme, Surealisme dan Conseptual Art/Seni Konseptual.

Dalam buku Art Speak Robert, A. (1990:90), menyebutkan bahwa seni instalasi dunia pertama kali muncul pada era pop art (1950-1970-an) dengan tokoh-tokohnya: Judy Pfaff dengan karyanya yaitu membuat taman bawah laut dari ribuan berbagai jenis sampah dengan sangat fantastik. Tohoh lainnya Daniel Buren membuat instalasi garis-garis yang diaplikasikan  pada struktur-struktur yang diuraikan dengan  penempatan mereka pada karakter fisikal atau sosial dari tempat itu.

Adapun artian harfiahnya (asal kata install = memasang, installation = pemasangan), jadi seni instalasi merupakan seni yang memasang, menyatukan, memadukan dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Lebih spesifiknya instalasi adalah memasang, merakit, komponen-komponen benda seni maupun benda lain (bentuk di luar konteks seni rupa). Adapun pengertian instalasi yang diungkapkan oleh Setiawan Sabana bahwa, instalasi adalah sebuah perakitan komponen-komponen dalam karya seni yang dulu dipisahkan seperti patung, lukis, grafis dan keramik.

Sejarah Singkat Seni Instalasi Asia Tenggara

Pada pertengahan tahun 1970-an banyak dilakukan percobaan seni kontemporer yaitu di Thailand, Singapura termasuk Indonesia. Tetapi yang berani melakukan percobaan ini hanya sekelompok kecil seniman.

Pada tahun 1990-an didirikan suatu komunitas instalasi di Asia Tenggara yang diberi nama “Forum Seni Internasional”. Tidak dapat kita pungkiri instalasi ini memang merupakan pengaruh dari Barat. Adanya seni instalasi seolah-olah merupakan zaman renaissance di Asia Tenggara, namun lamakelamaan instalasi dapat diadopsi oleh para seniman Asia Tenggara karena dirasakan cocok dengan konteks sosial budaya Asia Tenggara. Julie Ewington “Art and Asia Pacific(1995:110).

Sejarawan Thailand yang bernama Somporn Rodboon mengatakan bahwa “tidak ada keragu-raguan lagi …pengaruh instalasi datang dari Barat”. Para seniman di Asia Tenggara selalu mengadakan hubungan dengan koleganya (teman bisnis) melalui kegiatan pameran dan konfrensi salah satu kolega mereka adalah Andi Goldsworthy, ia sering berada di Filifina pada pertengahan tahun 1993. Andi Goldsworthy merupakan seorang seniman yang karyanya banyak menggunakan bahan-bahan alami.

Seni instalasi dibangun dengan harapan bisa menafsirkan seni kontemporer yang cocok dengan wilayah Asia Tenggara. Tradisi kebudayaan pribumi Asia Tenggara seperti upacara-upacara ritual keagamaan (tradisi) merupakan sumber daya  bagi perkembangan seni instalasi yang berpengaruh pada karya instalasi di Asia Tenggara.

Perkembangan Seni Instalasi di Indonesia

Munculnya seni instalasi di Indonesia paling tidak sejak munculnya Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1975-1979. …bertujuan meruntuhkan definisi seni rupa yang terkungkung oleh seni patung, lukis dan seni grafis, serta anti elitisme, seperti tampak karya-karya mereka… (Ahda Imran,: 2004).

Munculnya keberadaan seni instalasi  pada masa gerakan seni rupa baru Indonesia  ini dijelaskan pula oleh Mikke Sutanto sebagai berikut:

…perkembangan seni instalasi di Indonesia disemai dari pameran seni yang diadakan oleh kelompok seni rupa baru  yang kemudian gencar disebut  Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (1975). …ketika pameran ini berlangsung pada saat itu sebutan instalasi belum ada hingga Sanento Yuliman, seorang kritikus seni  menggunakan kata “instalasi” pada tahun 1989 (Mikke Sutanto, 2003:118).