ARTicle

Problem desain dan dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

arief johari (2012)

Abstract

Problems of design and product design has provided a clear picture that design has been present, fill out and assist the development of science and technology. Of the current issues and design paradigm, including its impact on social life, economic, politics and culture of design has made an own color in human civilization. Design is no longer underestimated, but has present and gave an extraordinary influence. Proved that the design has been able to boost of industry successful in all areas such as the food, fashion, automotive, information technology and communications that arrive at a point that design is the main value of a product, the product function is meaningless because in the end people will back to value and taste of the product.

Keywords: Design, Product design, science and technology, value and taste

Introduction

Desain dan Produk desain merupakan bagian dari peradaban manusia, keduanya lahir ibarat bayi kembar mungil, lucu dan menggemaskan, kemudian tumbuh dan berkembang sampai keduanya digandrungi  dan dipuja banyak orang, apapun yang dilakukannya  dianggap sebagai tolak ukur dan parameter gaya hidup masyarakat, sampai keduanya tua tetaplah menjadi pujaan semua orang, bahkan masyarakat tidak melihat lagi fisik melainkan value dan taste menjadi bobot dari keduanya.

 Dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

Desain modern telah memberi dampak luar biasa pada kehidupan dan peradaban manusia, ini tentu tidak lepas dari perkembangan industri yang kian tak terbendung. Moderenisme desain dan teknologi seperti telah menjadi cahaya dalam kehidupan hingga merubah pola pikir dan gaya hidup manusia yang beranggapan mampu menguasai dan menggenggam dunia. Desain dan teknologi bagaikan kulit dan daging keduanya tidak mungkin lagi dapat dipisahkan, saling mengisi dan membangun. Perkembangan desain tentu memiliki peranan besar bagi kemajuan industri, dari mulai industri makanan, fashion, otomotif, hingga teknologi informasi dan komunikasi. Desain memiliki peranan penting dalam membangun peradaban manusia modern hal ini telah banyak melahirkan berbagai riset yang disebabkan dari dampak desain modern, dari mulai tingkat social masyarakat, budaya dan gaya hidup bahkan untuk mencapai tujuan politik. Begitu juga dalam kehidupan masyarakat modern, desain telah menjadi kebutuhan pokok terlihat dari banyak diantara masyarakat yang lebih memilih mengenyampingkan kebutuhan primernya ketimbang tidak memiliki  smartphone/ i-pad keluaran terbaru, sungguh memprihatinkan.

Desain dan perilaku manusia

Beragam kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari telah mengkonstruksi terbentuknya pola hidup manusia dan lingkungannya. Ini terjadi tentu karena berkali-kali manusia telah di bom bardir produk desain. Koentjaraningrat (2002) dalam bukunya mengungkapkan ide dan gagasan manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat dan memberi jiwa kepada kelompok masyarakat itu sendiri. Gagasan dan pola pikir manusia tak lepas dari satu dan yang lainnya, melainkan merupakan sistem sosial mengenai tindakan manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas manusia dan interaksinya, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain. Pergaulan manusia modern tentu tidak sebatas antar manusia, melainkan pula dengan produk yang digunakannya, misalnya telepon genggam tidak bisa lepas dari kehidupan manusia begitu pula halnya dengan aksesories lainnya. Kebiasaan inilah yang disebut koentjaraningrat akan membentuk pola-pola dan kebiasaan tertentu sehingga menjadi adat dan tata kelakuan. Produk desain dengan segala kelebihannya telah membuat manusia seperti tak berdaya, desain telah membangun dan memupuk hasrat dan keinginan manusia untuk dapat memiliki produk “baru” hingga lahirlah kaum konsumtifisme yaitu orang-orang yang lebih mementingkan keinginan dibanding kebutuhan, mereka tidak lagi melihat fungsi dan kebutuhan melainkan rasa ingin memiliki sesuatu yang tujuannya hanya ingin menampilkan gaya dan kemewahan. John A. Walker (2010). Menyebutnya gaya hidup hanyalah menawarkan rasa dan identitas yaitu untuk mengurangi kecemasan karena terlalu banyaknya pilihan suatu barang (produk desain).

 Berbagai pandangan desain dan produk desain

Desain modern telah melahirkan berbagai macam pandangan, hal ini tak lepas dari berbagai persoalan dan masalahnya. Apa yang diungkapkan oleh Taaki Bando (2012) bahwa desain merupakan sebuah proses dari perubahan dari tidak sempurna/ tidak lengkap menuju ke kesempurnaan/ lengkap/ rapih dan teratur. Proses desain merupakan upaya penyempurnaan dari bentuk yang telah ada sebelumnya. “Peminjaman bentuk” merupakan hal lumrah dalam desain modern. Terlihat dari bangunan modern di Jepang yang “meminjam” bentuk-bentuk arsitektur tradisional. Berbeda dengan di Indonesia hampir semua bentuk bangunan modern tidak sama sekali berangkat dari tradisi masa lalu. Produk desain dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat, namun tidak serta merta melupakan tradisi masa lalu. Konsep form follows function merupakan bukti bahwa fungsi lebih menentukan bentuk produk dibanding wujud produk itu sendiri. Hal tersebut diungkapkan Firmansyah Saftari (2012) yang mengungkapkan pula bahwa produk desain haruslah sederhana, mudah, alami, dan aman untuk digunakan. Namun hal utama dari produk desain harus memiliki “nilai tambah (value)” seperti yang dipaparkan oleh Yannes Martinus Pasaribu (2012). Value yang dimaksud adalah bukan nilai materi dari sebuah produk desain, namun lebih kepada kebudayaan, tradisi, cita rasa dan kebutuhan batiniah.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tanpa disadari telah memposisikan desain menjadi penentu dalam seluruh sektor kehidupan. Sebuah teknologi termutakhir tidak akan dilirik oleh masyarakat jika tidak didukung oleh desain yang menarik. Desain tidak lagi merupakan sebuah cassing yang kemudian menjadi sesuatu yang tidak penting.

Anggapan yang sangat keliru bila unsur estetika itu laksana baju atau kulit yang menempel pada produk guna atau dalam lain perkataan buat fungsinya dulu, kemudian pengindahannya. Dalam membedakan mana yang indah dan mana yang jelek desainer memperhitungkan kaidah-kaidah social budaya; apakah sebuah desain akan menjerumuskan pemakainya menjadi masyarakat yang berselera konsumeristis? Apakah desain akan memberikan pengaruh negative terhadap system nilai dan budaya suatu masyarakat? Desainer juga memperhitungkan kaidah-kaidah social ekonomis seperti: daya beli dan selera masyarakat. (Buchori, 2010: 25)

Lebih lanjut Buchori mengemukakan bahwa desain hendaknya memperhatikan psikologis, memberikan motivasi hidup kepada pengguna, dan memberikan rasa nyaman terhadap pengguna dan masyarakat di lingkungannya, kemudian dari segi material produk desain hendaknya memiliki karakteristik fisis dan memiliki karakter sifat bawaan termasuk didalamnya kaidak teknologi bahwa desain itu harus memberikan dampak positif yaitu membawa kearah hidup manusia menjadi lebih baik.

Dari seluruh paparan mengenai desain dan produk desain memperlihatkan bahwa betapa kompleksnya ranah ilmu desain, seperti tidak akan ada habisnya karena semua berpangkal pada peradaban manusia. Satu hal yang perlu dikritisi, dari semua pandangan tidak memaparkan solusi kehidupan umat manusia kedepan, desain hendaknya menjadi pemecah persoalan global khususnya dalam mengemas dan menggandeng perkembangan sains dan teknologi, bukan malah pasrah, nerima, arus globalisasi, bukan pula berarti melawan arus. Terlebih isyu kontemporer menggembar-gemborkan bahwa desain kedepan akan menjadi kunci utama dalam mewadahi sains dan teknologi, serta menjadi satu-satunya penentu utama dalam pengembangan produk apapun, semua produk akan bergantung pada desain. Produk masa depan hadir dan hanya untuk satu kali pakai. Kedepan tidak akan ada produk yang tahan lama karena manusia tidak lagi mementingkan kualitas produk, melainkan value dan taste menjadi penentu. Desain tidak hanya mengedepankan bentuk produk yang bagus dan memiliki high value dan motivasi hidup manusia, namun desain harus mampu menggiring dan mendongkrak manusia untuk dekat dengan Tuhannya.

=====================================================================

….menyimbolkan kontinuitas….baik dalam bentuk dan dalam berbagai material  serta proses yang digunakan untuk membentuk desain, suatu pemahaman bahwa  objek yang bersangkutan memiliki dampak terhadap dunia. …semua perubahan hendaknya cermat, dan tidak didasarkan pada angan-angan tetapi pada pengetahuan terutama pengetahuan riset dan sains…

(Peter Dormer, 2008:227-228)

==================================================================

Referensi

Bando, T. (2012, Februari). Japanese Esthetics. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Dormer, P. (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.

Koentcaraningrat. ( 2002) Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Pasaribu, M.Y. (2012, Februari). cultural identity danparadigm shift in design.Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Saftari, F. (2012, Maret). Ergonomic Interface Design. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Walker, A.J (2010) Desain, Sejarah, Budaya. Sebuah Pengantar Komprehensif., Yogyakarta:Jalasutra.

Wardono, P. (2012, Maret). Social Dining Behavior. Di presentasikan                                                                    pada mata kuliah DS6202 – Teori Desain II Program Studi Magister Desain FSRD-ITB,Bandung.

Zaenudin, B.I. (2010) Wacana desain. Bandung: ITB.

Advertisements

Problem desain dan dampak produk desain terhadap kehidupan manusia

Aside
ARTicle

Metoda Penelitian Desain

1. Meaning of design research

Desain modern Indonesia selalu terkait dengan perubahan sosial dan memuat konteks-konteks Ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan.

Widagdo mengatakan bahwa desain adalah produk kebudayaan  hasil dari dinamika sosial, teknologi, ekonomi, kepercayaan, perilaku dan nilai-nilai tangible dan intangible yang ada dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu.

Bersandar pada pengertian desain dan dengan melihat fenomena yang ada betapa pentingnya penelitian desain (design research) karena perkembangan desain moden di Indonesa mengalami perjalanan yang cukup panjang baik dalam segi bentuk maupun konsep, terlebih diera milenium ini perkembangan desain makin menjadi-jadi. Bagaimana tidak! Karena di Bandung saja 10 tahu terakhir banyak bermunculan institusi yang membuka program desain terutama desain komunikasi visual (DKV). Dengan beragamnya bentuk desain modern terkadang memunculkan kebingungan dimasyarakat (masyarakat awam) ambil contoh logo misalnya, disamping tampilan bentuknya yang minimalis dan kurang jelas dalam memperlihatkan identitas,  memiliki harga yang cukup mahal seperti  logo Pertamina, PT.Telkom Indonesia dengan harga yang pantastis (3,2M) dengan bentuk yang sangat minimalis/sederhana bahkan sulit untuk dimengerti. Namun mengapa fenomena ini terjadi?, Disisnalh design research  memiliki peranan penting untuk bisa membongkar  makna dibalik berbagai bentuk karya desain. Supaya bisa menjembatani tingkat apresiasi masyarakat terhadap karya desain modern. Karena jika tidak masyarakat akan bingung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Efektivitas tampilan visual terhadap daya jual produk

Kemasan yang awalnya berfungsi hanya sebagai wadah/pelindung prodak sekarang dengan ditambahkan dengan visual telah menjadi sesuatu yang seolah-olah menentukan tingkat keberhasilan  penjualan suatu produk, ini telah mendorong banyak riset tentang tampilan kemasan suatu produk dan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat / konsumen.

Berkaitan dengan topik riset dalam penelitian ini maka yang harus kita lakukan adalah menentukan:

  • Topik penelitian

Evektifitas Tampilan Visual Terhadap Daya Jual Produk

Evektifitas       : Kita harus mencarai literatur yang ada hubungannya dengan                                   efektifitas termasuk pengertian efektifitas itu sendiri

Visual              : Hendaknya kita tentukan terlebih dahulu visual yang dimaksud?

Misalnya: bentuk, warna,

Produk                        : harus dijelaskan produk yang akan menjadi topik penelitian artinya                         fokus penelitian kita untuk kemasan apa? Makanan atau benda                                pakai?

 

  • Metoda/pisau yang akan dipakai dalam mengupas masalah

Kita harus bisa menentukan metoda yang akan kita pakai jenis penelitian kualitatif atau kuantitatif? Saya pikir dalam penelitIan ini lebih condong dengan menggunakan metoda penelitian kualitatif

  • Literatur

Dengan melihat topik penelitian sudah sangat jelas literatur yang kita perlukan yang berhubungan dengan efektifvitas, visual dan produk, ini bisa kita dapatkan dari; jurnal, buku, tesis, website, seminar, dan wawancara atau kuis

  • Kajian informasi,

Informasi yang telah kita dapatkan baik dari studi literatur, internet maupun wawancara dan kuis hendaknya dikaji ulang apakah informasi yang didapatkan sudah terjamin validitasnya, dalam hal ini hendaknya kita lebih hati-hati

  • Waktu penelitian

Dalam dunia akademisi waktu merupakan soal penting yang harus diperhatikan karena dengan tidak memperhatikan waktu penelitian kita bisa ter seok-seok.

Misalnya sebagai berikut:

No

Kegiatan

Waktu Pelaksanaan (Bulan Ke-)

1-2

3

4

5

6

7

1

Pengajuan dan pengesahan proposal penelitian serta perizinan

X

2

Pencarian bahan refensi

X

X

X

X

X

3

Bimbingan Bab I, II, III dan revisi

X

X

4

Wawancara penelitian

X

X

X

X

X

5

Pengolahan data dan informasi

X

X

X

6

Bimbingan bab IV dan revisi

X

7

Bimbingan bab V dan revisi

X

X

8

Bimbingan keseluruhan

X

X

9

Pengesahan hasil penelitian

X

10

Ujian sidang

X

  • Evalusi

Kita urai kembali permasalahan yang ada guna meminimalisir jika terdapat kesalahan baik dari segi penulisan, kutipan, referensi dan daftar pustaka

 

.

Standard
ARTicle

Anotasi Bibliografi

Tinarbuko, Sumbo. 2010. Semiotika komunikasi visual. Yogyakarta: Jalasutra

Buku ini mengupas semiotika komunikasi visual berdasarkan atas pemahaman beberapa teori semiotika dengan meminjam Teori Peirce yaitu melihat tanda pada karya desain komunikasi visual (ikon, indeks dan simbol); Teori Barthes yaitu melihat dari sisi hermenetik, semantik, simbolik, narasi dan kebudayaan serta Teori Saussure yang melihat makna-makna denotatif dan konotatif. Ketiga teori ini digunakan untuk mengupas beberapa media komunikasi visual dianataranya poster, t-shirt, sign system, dan logo. Pengarang berupaya untuk menjelaskan bagaimana makna yang terdapat dalam komunikasi visual tersebut.

 

Beberapa argumen dalam mengupas makna terkesan hambar ini telihat pada paparan pada pembahasan logo (halaman. 100). Pada bahasan tersebut hanya mengupas bentuk , visual, teks, dari permukaannya saja.

Diungkapkan:

…. Lingkaran merupakan representasi alam benda di dunia ini. Makna konotasi yang muncul dari ikon lingkaran adalah bahwa segala sesuatu yang diwakili dari sebuah lingkaran perwujudannya lebih dinamis, bersahabat, tahan lama, senantiasa kuat bila diuji oleh ruang dan waktu. Makna konotasi tersebut dipertajam lagi dengan pemanfaatan kode semantik. Yakni sebuah kode arahan Barthes (1974:106) yang mengandung konotasi pada level penanda. Semestinya kode semantik berdasarkan teori  Barthes tersebut dipaparkan secara lebih mendalam. Visual lain dalam logo tersebut seperti lingkaran, pengarang hanya menyebutkan lingkaran sebagai representasi alam benda di dunia ini tanpa memastikan wujud asal objek lingkaran yang dimaksud, seharusnya lebih dispesifikan kembali lingkaran tersebut apakah merupakan bola, roda atau benda lainnya sehingga muncul makna ganda dalam penafsiran logo tersebut.

 

 

 

 

 Danesi, Marcel. 2010. Pengantar memahami semiotika media. Yogyakarta: Jalasutra

Tanda dan makna dalam berbagai media dikupas secara mendetail dalam buku ini walau hanya sebatas permukaannya saja. Dari mulai media cetak seperti majalah, poster, logo, serta media digital seperti film, iklan termasuk media jejaring sosial. Marcel Danesi melalui buku ini memberikan sebuah panduan yaitu bagaimana kita memahami semiotika.       Dalam memahami semiotika visual (logo) Marcel memberikan beberapa contoh bagaimana cara kita meninjau logo, misalnya ‘logo Apple’ yang digunakan oleh Apple Computer Company Marcel memandang logo hanya berangkat dari mitos ……buah apel sebagai buah terlarang dalam Al-kitab bangsa Yahudi. Menariknya dalam buku ini tidak hanya memaparkan semiotika visual akan tetapi dilengkapi dengan cara memahami semiotika audio (musik), seperti Pop,Rock, Punk, hip hop dan lainnya.

Dalam memaknai logo pengarang hanya memberikan contoh semiotika berdasarkan pandangan Sausure yang hanya memaparkan makna konotatif dari bentuk logo tersebut. Seharusnya penulis juga mengupas semiotik berdasarkan pandangan Pierce atau tokoh semiotik lain yaitu memaparkan bagaimana kajian pemaknaan dibalik bentuk dan visual logo.

 

 

 

 Sobur, Drs. Alex. 2003. Semiotika komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Buku setebal 333 halaman ini memparkan secara jelas bagaimana kita bisa memahami semiotik, bagaimana teori semiotik, bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap tanda-tanda visual maupun verbal dari berbagai pandangan tokoh-tokoh semiotik seperti Ferdiand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roman Jacobson, Louis Hjelmslev, Roland Bartheus. Umberto Eco, Julia Kristeva, Michael Riffaterre dan Jacquest Derrida. Dalam bukunya, Alex lebih berkonsentrasi pada semiotika komunikasi, tentunya tidak hanya komunikasi verbal melainkan komunikasi bentuk dan visual. Misalnya media masa, Alex dalam pandangannya …mempelajari media adalah mempelajari makna darimana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya,  bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita…. didalam buku ini pula disebutkan bagaimana kita memaknai  media dari segi politik, perekonomian, organisasi/birokrasi dan cultural. Walaupun dalam buku ini tidak terdapat contoh bagaimana mengkaji sebuah bentuk verbal dan non-verbal, namun memberikan uraian bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan penelitian melalui kajian semiotik.

 

 

 

 Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Bartheus. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Diantara beberapa tokoh semiotika dunia, penulis memilih Bartheus beserta teorinya untuk dipaparkan. Buku ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan Roland Bartheus terhadap tokoh semiotika seperti Saussure dan Peirce yang disebutkan lebih spesifik pada halaman 21 …. Carles Sanders Peirce (1939-1914) dikenal karena uraiannya yang relatif rinci tentang klasifikasi tanda. Berbeda dengan Saussure, Peirce lebih melihat kedekatan tanda dengan logika bahkan menyamakan logika dengan ilmu tanda itu sendiri (Lechthe, 1994:145). Kurniawan memandangnya orientasi semiologi lebih pada Saussure dan orientasi semiotika lebih pada Peirce (van zoest, 1992:2)  Dalam melihat petanda dan penanda, sintagma dan sistem, denotasi dan konotasi, Bartheus lebih banyak bersandar pada pemahaman Saussure bahkan Bartheus sendiri menggunkan Saussure sebagai modelnya dalam hal linguistik.  Pandangan Barheus terhadap petanda bukanlah merupakan “benda” tetapi representasi mental dari “benda“. Hal ini senada dengan pandangan Saussure, yaitu pasangan petanda dan penanda untuk mengerti yang satu maka harus mengerti yang lainnya.

Dalam buku ini pengarang tampak berusaha untuk memetakan antara semiologi dengan semiotika.

 

 

 

 

 Kajian teoritis semiotika media dan pilpres. Tatag Handaka. Jurnal Semiotika. Vol.2 Hal 45-53. Juni 2008

Menurut penulis media adalah sebuah ruang dimana institusi, komunikasi, kesatuan primordial, dan kepentingan mempresentasikan aktor politik pemilu. Pesan-pesan dalam media adalah ruang dimana gambar, narasi yang diucapkan, tulisan atau teks didesain sedemikian rupa sehingga makna yang dilahirkan bisa diprediksikan sesuai dengan kepentingan aktor politik pemilu. Dari sekian banyak media yang ada, seperti media cetak yaitu; poster, baligho, dan digital yakni; iklan, berita, talk shows, debat capres, dialog dan sebagainya.

Penulis membedah media pemilu pilpres ini melalui pandangan semiotika Saussure, Bartheus, serta Aart van Zoest. Berdasar pada pandangan tokoh semiotika tersebut berujung pada simpulan penulis yang dikatakan bahwa …iklan politik dalam media memang objek yang kaya akan intensitas, tetapi yang penuh gebyar untuk mengejar popularitas. Intensitas pajangan media atas calon pilpres merupakan simulasi politik, berhamburan namun tak satupun berkaitan dengan realitas publik.

Terlihat bahwa penulis mengkaji media pemilu ini sebatas permukaannya saja, karena di dalam penulisan tersebut tidak dibahas secara spesifik dari media yang ada dengan menggunakan pisau pembedah/ teori semiotik yang tepat. Berkaitan dengan media tentu tidak hanya media verbal  dalam hal ini mungkin penulis lupa karena diantara beberapa media pemilu banyak pula media yang sifatnya non-verbal misalnya poster, baligho, termasuk logo partai politik itu sendiri. Dari beberapa teori yang ada, penulis tidak memaparkan pemahaman semiotika menurut Peirce. Padahal melalui pandangan Peirce kita akan dapat memaknai media-media yang sifatnya non-verbal.


Standard
ARTicle

Pengaruh Barat Terhadap Desain Modern Indonesia

arief johari

Magister Desain FSRD-ITB 2011

Implikasi Dunia Barat terhadap Desain Modern Indonesia

1.        Teori Zaman Poros (Achsenzeit) Karl Jaspers

Sulit ditebaknya peradaban manusia telah menimbulkan berbagai macam teori dan asumsi yang berbeda bahkan bertentangan. bagaimana tidak! Adanya tanggapan perbedaan  peradaban antara barat  dan timur telah menanamkan ideologi bahkan gerakan anti barat. Namun hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang telah mendorong banyak lahirnya ilmu dan pengetahuan teknologi,  seni dan budaya berkembang hingga sekarang

Tidak salah kalau terbentuk premis bahwa  “dunia baratlah yang membentuk peradaban manusia modern” dalam berbagai sektor ilmu pengetahuan, teknologi , seni dan desain. Yang akhirnya semua ini memperlihatkan bahwa khasanah desain modern di Indonesia berada dalam pengaruh barat (Eropa dan Amerika)

Karl Jaspers telah membagi sejarah dunia dengan memecahnya menjadi beberapa periode hal ini telah memberikan pencerahan yang sampai saat ini belum ada teori yang menyanggahnya. Teori ini memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir dari barat.

mari kita lihat.

Dalam  buku desain kebudayaan (Widagdo,2005:5-14)

Pada periode kesatu dikatakan bahwa Jasper sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya ia mengatakan bahwa “postulat ini bersifat sementara karena secara ilmiah asal-usul manusia belum terungkap secara tuntas”

… manusia prasejarah dalam menghadapi situasi kehidupan sudah menunjukkan pola kognitif tertentu, misalnya dalam menghadapi ancaman bahaya. Dalam upayanya mengatasi rasa takut mereka membuat berbagai alat bantu, atau dalam situasi yang demikian, daya pikirnya tergugah untuk menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan bertahannya. Selain itu, terbentuk berbagai pola perilaku, misalnya dalam hubungan antarjenis kelamin yang menghasilkan berbagai“aturan main” yang kemudian disepakati bersama, sikap terhadap kelahiran bayi dan kematian, serta sikap terhadap ayah dan ibu. Sikap dan cara manusia prasejarah telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya.(Widagdo,2005:5)

Pada masa ini manusia sudah  mengenal api dan ada usaha untuk mempertahankan hidup hal ini dibantu dengan adanya alat-alat seperti tongkat dan batu. Bahkan mulai mengenal bahasa verbal dan simbol-simbol tertentu artinya mereka telah sadar bahwa dirinya adalah manusia yang berbeda dengan makhluk lain.

Periode kedua peradaban manusia kian berkembang mengalami kemajuan dari periode sebelumnya karena mereka sudah mengenal budaya seperti kebudayaan Mesir dan Cina disamping itu kemajuan yang luar biasa manusia pada masa itu sudah mengenal dan berkembangnya organisasi, penemuan tulisan dan mulai mengenal /menggunakan transportasi (kuda) yang tak kalah penting pada periode ini terbentuknya bangsa-bangsa dan kerajaan.

Selanjutnya periode ketiga sangat luar biasa dengan otak dan nalarnya pada periode ini mampu melahirkan filsuf-filsuf, ini terjadi tidak hanya di barat dunia belahan timurpun mengalami hal yang sama seperti di Cina , Yunani, Iran ,India.

… bermunculan pemikir-pemikir besar dari tempat-tempat yang berbeda, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak saling mengetahui. Dipelopori oleh para filsuf besar tadi, manusia dibawa pada kesadaran baru akan kehadirannya, kesadaran akan jangkauan kemampuannya, dan mengetahui keterbatasannya. Manusia mulai mempertanyakan hakikat eksistensinya, dan dengan kemampuan akal budinya mencoba mencari jawaban dan memahami dunia riil dan alam transendensi. (Widagdo,2005:8).

Periode ini dianggap sebagai peta awal terbentuknya peradaban manusia modern bagaimana tidak! Masa ini banyak lahir pemikir yang memperlihatkan bahwa terbukanya cakrawala dalam melihat dunia  karena pada masa ini pula manusia menemukan, menentukan letak dasar ketuhanan.

…Yang sangat penting dalam periode ke-3 adalah peletakan dasar- dasar rohani dan intelektualitas yang sudah demikian maju dengan tingkat kearifan yang tinggi hingga nilai-nilai yang diwakilinya masih menjadi dasar berpikir dan ditimba hingga kini. (Widagdo,2005:7)

Periode keempat dipahami bahwa periode ini lah sebagai titik awal berkembangnya dunia barat ilmu pengetahuan dan teknologi menjalar dan berkembang dari belahan eropa,

Dalam kurun waktu 500 tahun, lahir berpuluh-puluh pemikir di segala bidang, bidang filsafat, sains, teknik, dan seni. Dari dunia filsafat lahir filsuf-filsuf besar, seperti Bacon, Descartes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, dan Einstein. Di bidang teknik lahir James Watt dan Gustav Eifell. Di bidang seni rupa dan arsitektur lahir Leonardo da Vinci, Rembrandt sampai Picasso, Brunelleschi sampai Corbusier. Di dunia musik lahir Bach, Beethoven, dan seterusnya. Tidak dapat dipungkiri lagi, pengaruh mereka telah mendunia. (Widagdo,2005:10)

ilmu pengetahuan berkembang sangat luar biasa terutama setelah ditemukannya mesian cetak dengan hadirnya mesin cetak telah menyebabkan sirkulasi perkembangan ilmu pengetahuan semakin tak terbendung yang anehnya ini hanya terjadi di barat. Berbeda yang terjadi dibelahan dunia timur seperti  Arab dan Cina ilmu pengetahuan seperti jalan di tempat padahal kita tahu arab dan Cina sudah jauh sejak 2000 tahun sebelum masehi mereka sudah mengalami peradaban yang cukup tinggi. Disinyalir dalam hal ini organisasi memiliki peranan besar barat yang lebih terbuka (demokratis) dalam segala hal terutama ilmu pengetahuan telah membuka dunia ini pada taraf yang lebih tinggi (modern) yang justru sebaliknya di Cina dan Arab karena ilmu pengetahuan hanya boleh di pelajari oleh kaum kerajaan maka hal inilah yang menyebabkan statisnya ilmu pengetahuan bahkan pada bangsa-bangsa tertentu di belahan dunia timur dianggap terdapat ada beberapa peradaban/kebudayaan yang hilang.

Dalam seni rupa, ditemukan ilmu perspektif, teknik menggambar ruang dan benda 3 dimensi di atas bidang datar dengan membuat manipulasi visual seolah-olah pada bidang 2 dimensi dapat digambarkan kedalaman ruang dan jarak. Untuk ini dikembangkan metode menggambar yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmu geometri. Menggambar dengan teknik perspektif adalah penerapan logika sains kedalam dunia kualitatif seni rupa. (Widagdo,2005:10)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong dunia barat untuk melakukan ekspansi ke negara-negara bagian timur termasuk Indonesia  ini merupakan benang merah yang sangat jelas bahwa teori poros Karl Jaspers telah membuktikan perkembangan IPTEKS khususnya di Indonesia sedikit besarnya telah banyak mendapat pengaruh barat. Ini bisa dilihat dari perkembangan pendidikan modern/formal di Indonesia

2.        Seni rupa dan desain di Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, kopi, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa dan desain.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, … di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. ….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni rupa Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia.

Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya:

 “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)

3.        Masa Pendidikan Tinggi

Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa dan desain di Indonesia, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan diantara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.(Ardiyanto, 1996)

Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.( A.D. Pirous, 2003: 164)

Ini merupakan titik tolak perkembangan seni rupa dan desain, yang ditandai dengan banyaknya kreasi para seniman pada masa itu yaitu merancang atau menciptakan objek-objek yang memiliki nilai guna seperti rancangan bangunan, dekorasi, poster, desain kemasan (packaging) desain pada kain (tekstil) kria keramik, logo ,furniture, potografi  dan dunia perfilman (movie). Ini telah mendorong munculnya berbagai karya seni rupa yang akibatnya seni rupa tidak hanya terkurung pada dunia gambar/lukis.

…perkembangan desain modern Indonesia didasarkan pada..objek desain… aspek sosial…aspek pendesain dan ..aspek pendidikan selain itu harus diperhatikan  konteks waktu antara tahun 1900 hingga tahun 1990an dasar pembahasan ini dipakai sebagai batasan karena padaterjadi  fase tersebut pergeseran dan perubahan penting, yaitu dimulainya program modernisasi terutama dalam kaitannya dengan peran para pendesain Belanda dan kebangkitan berfikir kaum pribumi (Agus Sachari, 2001:18)

Dirintisnya pendidikan modern oleh belanda telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir  rasional dan modern  tentu tidak hanya metodologi yang digunakan namun gaya yang dianutpun tentu sedikit besarnya baik disadari maupun tidak telah mendapat poengaruh barat. Terlebih banyak tenaga pengajar yang disekolahkan di negara-negara barat, Jerman, Francis, Belanda dan negara Eropa lainnya.

Referensi:

Sachari, Agus (2001) Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi                Budaya,Bandung:Penerbit ITB

Widagdo (2005) Desain dan Kebudayaan, Bandung:Penerbit ITB

Dormer, Peter (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra

Standard
ARTicle

Tutorial Tipografi Bagian 1:

Mengenal Tipe

Tipografi adalah disiplin ilmu yang dipandang tidak cool tapi misterius, yang selalu di belakang layar dan cenderung low profile. Bandingkan dengan usability misalnya—yang akhir-akhir ini naik daun. Siapa sih yang tidak kenal Jakob Nielsen? Atau bandingkan dengan tokoh new media Web dan Flash macam Jeffrey Zeldman dan Hillman Curtis. Rata-rata dari kita kenal atau minimal pernah dengar namanya. Tapi kalau disuruh menyebutkan siapa tokoh tipografi favorit, atau siapa yang menciptakan tipe Futura atau Georgia, maka kebanyakan dari kita menggeleng. Tokoh suatu bidang seringkali mencerminkan seberapa popular bidang tersebut. Kalau tokoh-tokoh tipografi jarang kita ketahui, maka barangkali begitu pulalah dengan bidang ilmu tipografi. Padahal tipografi amatlah penting bagi semua desainer, termasuk desainer Web.

Dalam seri tutorial apresiasi tipografi ini, fokus kita adalah pada tipe. Kita akan mengenal apa itu tipe. Kita juga akan menyinggung teknologi font dan tipografi di komputer. Lalu melihat profil beberapa perusahaan penerbit font—yang biasa disebut digital type foundry—yang ternama seperti Adobe dan ITC. Kita pun akan mengenal beberapa tipe popular seperti Garamond dan Bodoni. Dan terakhir kita akan membahas desain logo yang mengutamakan permainan huruf dan tipe. Meski demikian, tak ketinggalan akan disinggung pula aspek-aspek dasar tipografi yang baik.

Karena sifat tutorial ini pemula, maka bisa diikuti baik oleh desainer Web—yang rata-rata, sayangnya, memang kurang mengenal tipografi dibandingkan desainer cetak—maupun oleh umum. Alangkah baiknya jika setiap orang memahami dasar-dasar tipografi. Apalagi karena sekarang setiap hari mau tidak mau kita berurusan dengan huruf dan tipe di komputer. Mulai dari memilih font saat akan membuat surat, kartu undangan, halaman web, kartu nama, dan lain-lain.

Tujuan akhir tutorial ini adalah membangkitkan kesadaran akan tipe sehingga pembaca menyadari peran tipografi dalam desain grafis, mengenal font-font, dan dapat memilih dan memadu font sesuai karakteristik masing-masing font. Tutorial ini tidak akan membahas hingga ke pemakaian software Fontographer atau teknik perancangan tipe lainnya, melainkan hanya dari sisi apresiasi.

Huruf Di Mana-Mana

Huruf dan tulisan memiliki arti amat penting bagi manusia. Bahkan, yang namanya peradaban atau masa sejarah ditandai dengan peristiwa dikenalnya tulisan oleh manusia. Zaman sebelum ada tulisan sering disebut zaman prasejarah. Kalau Anda melihat ke buku atau ke layar komputer, Anda akan melihat huruf dan tulisan. Di jalanan pun Anda akan melihat tulisan. Di pakaian, di badan mobil dan pesawat terbang, bahkan di gua-gua purbakala Anda bisa menjumpai tulisan. Selain gambar, huruf adalah cara manusia berkomunikasi secara visual.

Tipe/Typeface dan Font

Satu hal pertama yang Anda bisa perhatikan dari tulisan-tulisan yang berbeda itu adalah, bahwa bukan huruf-hurufnya saja yang berbeda, melainkan jenis hurufnya juga. Huruf “A” atau “a” di sebuah tulisan bisa berbeda dari huruf “A” dan “a” yang lain. Anda tahu bahwa keduanya abjad alfabet yang sama, tapi Anda juga mengamati bahwa jenis hurufnya berbeda. Bisa jadi yang satu lebih tebal atau gemuk dari yang lain, bisa jadi kaki-kaki hurufnya ada yang memiliki tangkai, atau lebih pendek atau lebih panjang, dan sebagainya. Sebuah jenis huruf yang sama kadang diberi nama tertentu (misalnya: Times New Roman). Jenis huruf ini disebut typeface, atau singkatnya tipe. Sekarang orang juga sering menyebut jenis huruf dengan font, karena file yang berisi informasi sebuah typeface di komputer diberi istilah font (misalnya, di Windows, informasi untuk menggambar tipe Arial disimpan dalam file ARIAL.TTF). Di dalam dunia tipografi tradisional (nondigital), yaitu saat huruf dicetak menggunakan balok-balok logam, font memiliki arti lain kumpulan balok-balok huruf logam yang memiliki satu typeface dan satu ukuran tertentu. Belakangan barulah orang-orang komputer memakai kembali istilah font untuk bidang tipografi digital. Kedua istilah typeface/tipe dan font dalam artikel ini akan dipakai bergantian.

Klasifikasi Tipe

Ada banyak sekali jenis huruf yang bisa kita amati. Mungkin di komputer Anda sendiri ada terinstal ratusan hingga ribuan file font. Sebagian font bentuknya unik dan aneh sehingga mudah kita kenali, sementara yang lain tampak sekilas mirip-mirip semua. Setiap saat pun diciptakan font-font baru. Produser film-film Hollywood misalnya, sering mengeluarkan dana untuk mendesain font baru yang unik untuk filmnya.

Berdasarkan bentuknya, para pakar tipografi umumnya membagi jenis huruf ke dalam dua kelompok besar: serif dan sans serif. Lalu ada kelompok ketiga dan keempat yang disebut script dan dekoratif. Jenis serif dan sans serif pun berbeda-beda, tapi mari sebelumnya mengetahui perbedaan serif dan sans serif.

Serif dan Sans Serif

Serif adalah kelompok jenis huruf yang memiliki “tangkai” (stem). Lihatlah font Times New Roman, Bodoni, Garamond, atau Egyptian misalnya. Persis mendekati ujung kaki-kaki hurufnya, baik di bagian atas maupun bawah, terdapat pelebaran yang menyerupai penopang atau tangkai. Menurut sejarah, asal-usul bentuk huruf ini adalah mengikuti bentuk pilar-pilar bangunan di Yunani Kuno. Seperti kita ketahui, bagian atas dan bawah tiang pilar memang lebih besar agar bisa membuat pilar lebih kokoh.

Sementara sans serif (atau “tanpa” serif) adalah jenis huruf yang sebaliknya: tidak memiliki tangkai. Ujung-ujung kakinya polos begitu saja. Contohnya Arial atau Helvetica (Catatan: meski amat mirip dan sering saling mensubstitusi satu sama lain, kedua font ini tidaklah mirip persis. Cobalah sekali-kali Anda cetak contoh huruf dalam ukuran besar dan amati perbedaan-perbedaan tipis kedua font ini.) Contoh lain jenis huruf sans adalah ITC Officina Sans, yaitu font yang digunakan di mwmag yang sedang Anda baca ini.

Kegunaan tangkai serif. Pada ukuran teks kecil, seperti seukuran tulisan teks di surat kabar atau buku, umumnya tangkai pada kaki-kaki font serif membantu agar tulisan mudah dibaca. Mengapa? Karena tangkai font serif membantu membentuk garis tak tampak yang memandu kita mengikuti sebuah baris teks. Karena itulah kita banyak menjumpai buku-buku dilayout dengan serif. Menurut penelitian, seseorang yang membaca font serif bisa lebih tahan membaca karena tidak mudah lelah—akibat adanya bantuan dari tangkai serif tadi. Tapi pada kondisi-kondisi berikut ini: a) huruf amat kecil (seperti tulisan bahan-bahan di label makanan); b) huruf amat besar (seperti di plang-plang merek) yang harus dilihat dari jauh; c) di layar monitor; huruf sans serif kadang lebih mudah dibaca. Mengapa? Karena justru kaki-kaki font serif memperumit bentuk huruf sehingga sedikit lebih lama dibaca. Jika huruf kecil sekali atau pada resolusi rendah seperti di layar monitor, kaki serif bisa tampak bertindihan dan menghalangi pandangan. Karenanya kita banyak melihat plang rambu lalu lintas menggunakan huruf yang sesederhana mungkin agar bisa cepat dibaca, dan di halaman web banyak dipakai font serif karena lebih mudah dibaca pada ukuran kecil/layar kasar.

Jenis-jenis serif. Serif tiap jenis huruf pun dapat berbeda-beda. Huruf-huruf masa lama (Old Style) seperti Garamond dan huruf-huruf masa transisi (Transitional) seperti Times New Roman misalnya, memiliki tangkai yang sudutnya lengkung. Sementara pada huruf-huruf masa modern seperti Bodoni, tangkainya bersudut siku. Ada lagi yang bersudut siku pula, tapi relatif tebal/tinggi. Contohnya Egyptian. Tipe serif seperti Egyptian kadang disebut slab serif. Beberapa huruf unik tertentu memiliki tangkai serif negatif, yaitu tangkai yang masuk ke sisi dalam kaki sehingga ujung kaki nampak lebih kecil dari batang kakinya.

Skrip dan Dekoratif

Selain serif dan sans serif, ada pula jenis huruf “sambung” dan huruf “gaya bebas.” Huruf sambung atau script bisa juga Anda sebut “huruf tulis tangan” (handwriting) karena menyerupai tulisan tangan orang. Atau bisa juga disebut “huruf undangan” karena hampir selalu hadir di kartu-kartu undangan karena dipandang indah dan anggun. Ada berbagai macam huruf script dan handwriting, mulai dari yang kuno hingga modern, dari yang agak lurus hingga miring dan amat “melingkar-lingkar”. Sementara huruf “gaya bebas” mencakup segala macam jenis huruf “aneh” lain yang sulit dikategorikan dalam ketiga kategori lainnya. Kadang huruf ini bisa diinspirasi dari bentuk geometris tertentu, memadukan gambar atau pola tertentu, dan sebagainya. Di komputer juga dikenal font-font “wingdings-like” yang sebenarnya adalah clipart. Tiap hurufnya murni berupa ikon atau gambar, bukan huruf.

Umumnya jenis-jenis huruf skrip dan dekoratif digunakan untuk hiasan atau dekorasi, bukan untuk teks maupun headline teks. Karena derajat kompleksitasnya lebih tinggi, maka tidak cocok untuk teks karena akan menyulitkan pembacaan.

Bahan Bacaan Kali Ini

Buku. Tipografi Dalam Desain Grafis, Danton Sihombing, Penerbit Gramedia, 2001, cukup layak dimiliki. Buku setebal 190 halaman ini dilayout cukup apik dan membahas sejarah singkat, dasar-dasar dan klasifikasi tipe, prinsip melayout secara tipografis, dan di akhirnya menampilkan katalog sekitar 13 buah tipe terkenal. Secara keseluruhan, buku ini bisa dibilang buku tipografi terbaik di Indonesia, meskipun memiliki beberapa kekurangan seperti tidak adanya glosari maupun indeks. Beberapa gambar dalam artikel ini diambil dari buku tersebut.

Situs. Microsoft typography, www.microsoft.com/typography/. Microsoft, percaya atau tidak, adalah salah satu perusahaan yang berperan dalam mengembangkan teknologi tipe digital. Bersama Apple akhir tahun 1980-an, Microsoft membawa teknologi font vektor TrueType ke PC maupun Mac. Dan karena spesifikasi TrueType dipublikasikan, maka banyak font-font baru yang murah bermunculan. Microsoft pun banyak membuat font dan membagikannya gratis—sebagian dibundel langsung bersama sistem operasi dan sisanya dapat didownload dari situs tipografinya. Khusus untuk Web, Microsoft membayar beberapa desainer beken untuk merancang antara lain tipe Verdana (sans) dan Georgia (serif). Kedua tipe ini didesain khusus agar mudah terbaca di layar komputer, antara lain dengan cara membuat bagian x-height (perut) relatif besar. Bagi yang belum mempunyai kedua font tersebut, saya anjurkan mengambilnya dari situs Microsoft. (slm)

sumber : http://www.master.web.id/

Standard
ARTicle

Tipografi

Sebuah website tutorial desain grafis belum lengkap kiranya jika belum membahas tipografi atau typography. Pada tutorial desain ini akan saya bahas tentang sejarah tipografi, tipe anatomi tipografi, klasifikasi tipe, tipe famili, tipe measurements atau pengukuran dan penerapannya dalam pengerjaan karya desain grafis. Tipografi dibutuhkan untuk desainer grafis yang bekerja menggunakan font atau huruf. Terlebih layout dengan banyak font seperti ketika membuat koran, membuat majalah, membuat ebook, atau lainnya.

DEFINISI
Tipografi adalah suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Dikenal pula seni tipografi, yaitu karya atau desain yang menggunakan pengaturan huruf sebagai elemen utama. Dalam seni tipografi, pengertian huruf sebagai lambang bunyi bisa diabaikan. Seni merupakan induk dari desain grafis.

SEJARAH TIPOGRAFI
Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya.

Secara garis besar huruf-huruf digolongkan menjadi Roman, Egyptian, Serif, Sans Serif, Script, Miscellaneous. Untuk artikel lengkap masalah golongan huruf silakan baca disini.

ANATOMI TIPOGRAFI
Jarang sekali saya menemui tutorial desain grafis membahas tentang anatomi tipografi atau anatomi font. Ada beberapa hal yang wajib diketahui dalam dunia typografi. Salah satunya adalah anatomy tipografi atau anatomi huruf.

– arm
– stem
– counter
– stroke
– shoulder
– apex
– galliard
– serif
– bracket
– crossbar
– tail
– spine
– bowl
– ear
– loop
– link
– eye
– leg
– ascender
– cap height
– capline
– meanline
– x height
– baseline
– descender

Istilah dari typeface dan model huruf sering synonmously, bagaimanapun, suatu typeface adalah perancangan karakter-karakter yang bersatu, dipersatukan oleh properti konsistanvisual, selagi suatu model huruf adalah suatu himpunan lengkap dari karakter di dalam setiap desain, ukuran, bentuk, atau gaya, dari tipe. ( akan dijelaskan pada artikel lain ).

KLASIFIKASI TIPE

– Old Syle atau egyptian
– Transisional atau roman
– Modern
– Slab serif
– Sans serif
– Display atau misc atau dingbat atau semacamnya
– Script
– Monospace
– Black Letter

Pada klassifikasi banyak pendapat yang berbeda untuk menentukan golongan ini. Karena punya pendapat dan tori tersendiri sehingga saya harus memberikan tulisan atau sebagai pembandingnya.

TIPE FAMILI

– Light Condensed
– Light
– Light Extended
– Regular Condensed
– Regular
– Regular Extended
– Semibold Condensed
– Semibold
– Semibold Extended
– Bold condensed
– Bold
– Bold Extended
– Black Condensed
– Black
– Black Extended

Tipe famili adalah group tipeface yang terikat menjadi satu oleh persamaan karakter visual. Pada tipe famili ini saya menulisnya dari paling kecil ukurannnya hingga paling besar. Tipe famili terdiri dari perbedaan berat dan lebar. Contoh seperti nama ITC Lubalin akan mempunyai 15 tipe famili dengan menambahkan tulisan ITC Lubalin sebelum nama tipe famili..

TIPE PENGUKURAN

– Leading
– Kerning
– Tracking
– Baseline Shift
– Left aligned
– Center aligned
– Right aligned
– Justified aligned

Ada dua tipe pengukuran, relatif dan spacing measurements. Yang saya tampilkan pada tutorial desain grafis untuk tipografi ini adalah tipe spacing measurements.

PENERAPAN TYPOGRAFI
Tipografi dapat diterapkan pada berbagai macam karya desain. Hasil karya desain menjadi menarik, komunikatif, harmonis, dan attraktif ketika menggunakan tipografi yang tepat. Contoh pada koran dan majalah seringkali menggunakan font yang ramping dan jelas seperti Times New Roman, Helvetica dan sejenisnya. Untuk huruf header dan judul artikel biasanya menggunakan Impact, Arial Black, dan Bold Times New Roman yang tegas. Itu semua berkaitan dengan legibility atau kejelasan keterbacaan.

Sumber : http://www.ahlidesain.com/

Standard