MENCONTEK

  1. A.   FENOMENA MENCONTEK (Siswa Sekolah Menengah)
  2. B.   Perilaku Mencontek Siswa Sekolah Menengah

Perilaku manusia dalam merespon segala sesuatu yang ada dihadapannya selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor koentcaraningrat mengatakan perilaku manusia sebagai suatu respon terhadap stimulus yang diterimanya. Artinya segala sesuatu tidak muncul dengan sendirinya melainkan sebagai akibat rangsangan. Rangsangan/stimulus Walgito membaginya yaitu yang bersifat internal dan eksternal. Contoh kasus sederhana yang telah mewabah dan membudaya di Indonesia dari desa hingga kota yang mungkin terlupakan yaitu perillaku nyontek. Mungkin bagi  siswa sekolah menengah mencontek merupakan hal biasa dan lumrah bahkan lebih parah lagi  mencontek seolah telah menjadi ideologi  dan fetis bagi para siswa, diantara mereka ada yang beranggapan bahwa ketika seseorang dapat nilai bagus pasti hasil contekan. Separah inikah?

Selasa, 06 Desember 2011 Pkl. 15.00 WIB Penulis mewawancara siswa sebut saja Masud (nama samaran) ia adalah seorang siswa kelas 3 SMA Negeri di kota Bandung ia mengatakan bahwa selama sekolah dari kelas 1 hingga sekarang ia tidak pernah belajar bahkan buka buku sekalipun gak pernah tiap kali ulangan yang dilakukannya selalu menyalin pekerjaan dari orang lain bahkan kadang ia membawa buku catatan, telepon genggam, atau buku paket yang di belinya di sekolah. Bahkan ia mengatakan ketika ujian nasional sewaktu disekolah menengah pertama ia melakukan hal yang sama. hal itu dilakukannya karena ruang kelas yang sempit dengan meja dan kursi berdempetan sehingga memudahkannya untuk melakukan perilaku yang dianggap buruk itu.

Tentu banyak faktor yang menyebabkan perilaku nyontek. Kuntcaraningrat mengatakan terdapat dua faktor yang membangun perilaku manusia faktor eksternal dan internal. Dalam sebuah Jurnal pendapat lain mengungkapkan hal yang sama orang mencontek disebabkan faktor dari dalam dan di luar dirinya.
Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut konsep diri dan harga diri. Konsep diri
merupakan gambaran apa yang orang-orang bayangkan, nilai dan rasakan tentang
dirinya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa, “Saya adalah orang pintar”. Anggapan
itu lalu akan memunculkan komponen afektif yang disebut harga diri. Namun,
anggapan seperti itu bisa runtuh, terutama saat berhadapan dengan lingkungan di luar pribadinya. Di mana sebagai kelompok, maka harus sepenanggungan dan senasib. (Rakasiwi, 2007)

Produk desain sepertinya lebih mendekati pada faktor eksternal karena setiap ruang belajar penuh dengan produk desain, dari mulai meja, kursi, papan tulis,  dan jarak posisi meja dan tempat duduk (prosemik).

  1. C.   Analisis

            Zaman modern telah banyak menciptakan produk yang nyaman untuk digunakan semua kalangan masyarakat namun kadang kita lupa dibalik kenyamanan itu terdapat nilai sosial (social construction) yang diakibatkan oleh produk desain. Perilaku mencontek merupakan bagian dari konstruksi sosial yang dibangun kelompok tertentu (siswa), perilaku tersebut dilakukan berulang-ulang akhirnya menjadi sesuatu yang biasa dan tidak lagi menjadi hantu buat dirinya. Apa yang dikatakan Berger dalam sebuah jurnal bahwa kenyataan dibangun secara sosial, kenyataan dan pengetahuan merupakan dua istilah kunci untuk memahaminya.

Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena-fenomena yang diakui memiliki keberadaan (being)-nya sendiri sehingga tidak tergantung kepada kehendak manusia; sedangkan pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik. Kehidupan manusia sehari-hari telah menyimpan kebiasaan yang sekaligus menjadi pengetahuan yang membentuk dan membimbing sikap dan perilaku. Ini merupakan  realitas yang dibangun dan dibentuk oleh individu  yang kemudian ditafsirkan dan dimaknai sehingga menjadi buah dari pikiran  dan tindakan masyarakat kemudian dipelihara sebagai ’yang nyata’ oleh pikiran dan tindakan itu. Dasar-dasar pengetahuan segala tindakan dan pikirannya dipelihara sebagai sosok yang secara tidak sadar membentuk watak dan kebiasaan masyarakat. (Manuaba, 2010)

Pengaalaman ini akan membentuk tindakan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan yang lama-kelamaan mereka menjadi tak kuasa bahkan tak mampu untuk menghindari kebiasaannya. Realitas  bahwa faktor ruang seperti menjadi pijakan dalam pembentukan sikap, perilaku, karakter, pengetahuan, pola pikir, mereka. kenyataan ini telah  menciptakan pengetahuan buat diri dan lingkungannya.

         

Sumber: http://www.atmaluhur.ac.id

             http://www.wahdah.or.id

 

Dengan kasat mata  dari ketiga ruang belajar diatas kita sudah bisa menangkap mana yang lebih memungkinkan siswa untuk mencontek, ini jelas memperlihatkan bahwa produk desain memiliki peranan dalam membentuk sikap, watak dan perilaku manusia (siswa). Produk desain hendaknya memiliki fungsi dan manfaat pada individu dan dampak sosial masyarakat yang menggunakannya,  tidak hanya dari segi lahiriah dan batiniah saja namun harus memiliki manfaat multidimensi termasuk didalamnya kebudayaan.

Alam telah mengajarkan dan menuntut manusia untuk menciptakan  segala kebutuhan hidupnya seperti fenomena mencontek pada siswa sekolah menengah yang mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah kurang tepatnya bentuk dan penempatan produk desain yang terdapat dalam ruang belajar, karena itu  telah mengkonstruksi sikap dan perilaku siswa. Nyontek telah jadi  kebiasaan benar kata Berger keadaan ini merupakan fenomena nyata (real) yang akan mengkonstruksi karakteristik manusia. Dalam hal ini kehendak menjadi sesuatu subjek yang dipaksa menyesuaikan dengan alam sekitar (dalam hal ini adalah produk desain) dan diyakini sebagai sebuah kenyataan yang hadir dan diterima masyarakat (siswa) dengan tanpa merasa bersalah. Pengalaman telah mengkonstruksi  persepsi mereka, mind set dalam memahami sesuatu yang tertanam dalam dirinya, sehingga memunculkan sugesti, ketika  sesuatu tidak dilakukan seperti kebiasaannya maka sesuatu itu akan menjadi hantu bagi dirinya.

 

  1. D.   Kesimpulan

              Ruang belajar merupakan kolektifitas yang dibangun oleh relasi antara mod dan multimodality. Relasi antara ruang, meja, kursi membentuk sebuah display yang secara tidak sadar telah membangun sikap dan perilaku penggunanya. Perubahan perilaku tersebut bisa merujuk pada suatu perilaku positif maupun negatif,  karena produk desain memiliki peranan dalam membangun persepsi dan tindak sosial masyarakat/ user. Mencontek merupakan bentuk social construction yang bersifat negatif (normatif) yang sebenarnya permasalahan ini bisa diselesaikan melalui produk desain. Penulis optimis menghilangkan perilaku mencontek salah satu jalan yang paling tepat adalah memperbaiki produk desain dengan tepat, karena hanya dengan fasilitas yang tepat segala sesuatu bisa berjalan sebagai mana mestinya.

—————————————————————————————————————–

……proses yang digunakan untuk membentuk desain, suatu pemahaman bahwa  objek yang bersangkutan memiliki dampak terhadap dunia. …semua perubahan hendaknya cermat, dan tidak didasarkan pada angan-angan tetapi pada pengetahuan terutama pengetahuan riset dan sains…(Dormer,2008:227-228)

 

            REFERENSI

 

Dormer, Peter (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra

Koentcaraningrat ( 2002), Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: PT Rineka Cipta Manuaba   Putera  (2010), Memahami Teori Konstruksi Sosial, Jurnal Masyarakat                        Kebudayaan dan Politik Volume 21, Nomor 3:221-230

Walgito Bimo ( 2003), Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Yogyakarta: Andi

—————————————————————————————————————–

http://www.atmaluhur.ac.id

http://wahdah.or.id

http://www.scribd.com/doc/24438436/nyontek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s