ARTicle

KUASA AGAMA HINGGA GAYA HIDUP

KUASA AGAMA HINGGA GAYA HIDUP

Oleh:Arief Johari

  1. Latar Belakang

 

Kehendak dan keinginan manusia merupakan sebuah manifestasi individu dalam memenuhi, menyusun ruang/celah, mengorganisasi dan membangun sebuah keyakinan, sehingga tercipta dinamika kehidupan dengan pakem-pakem yang seolah menjadi kesepakatan. Keinginan manusia untuk berkuasa bukan hanya sekedar dorongan naluriah namun bagian dari kebutuhan manusia dalam menggapai apa yang diinginkannya. Sifat manusia yang cenderung ingin berkuasa telah melahirkan kelompok-kelompok yang dikuasainya. Kekuasaan tidak lagi ditandai dengan kekuatan fisik, namun intelektualitaslah yang memiliki peran besar dalam menguasai segala sesuatu. Wibowo (2012) mengungkapkan bahwa kekuasaan merupakan  komponen dasar dari agensi manusia dengan tidak hanya untuk menginterfensi sebuah kejadian yang kemudian hadir karena adanya ketidakseimbangan dalam kemampuan manusia. Hasrat dan keinginan manusia telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, sehingga menjadi sebuah persoalan serius terutama dalam sistem sosial masyarakat sehingga tidak salah ketika muncul berbagai macam way of thinking kebebasan berfikir dan berpendapat telah membentuk berbagai paham dan pandangan seperti eksistensialisme, strukturalisme, pluralisme, modernisme, dan sebagainya.

Modernisme telah menciptakan babak baru dalam berbagai sektor kehidupan mengaburkan dikotomi barat dan timur, sehingga mengikis perbedaan manusia antar negara, bangsa dan benua. Manusia seolah terbebas dari segala bentuk yang mengikat dirinya. Tidak ada kelas, tidak ada rasisme seperti ada kesepakatan bahwa manusia diseluruh dunia memiliki hak dan kebebasan yang sama sebagai makhluk Tuhan. Agama tidak hanya dianggap keyakinan semata tidak lagi menjadi norma dan acuan dalam kehidupan, layaknya aksesoris yang menghiasi tubuh, kapanpun dimanapun bisa berganti sesuai keinginannya. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang kian tak terbendung menuntut berubahnya pola hidup dan pola pikir/ mind set masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman. Celakanya modernisme yang dianggap pencerahan dan diagung-agungkan tidak mampu menyelesaikan persoalan hidup, namun malah menjerumuskan manusia kedalam lubang-lubang kesesatan. Ilmu pengetahuan dan teknologi seolah diTuhankan  sehingga menghalalkan segala macam cara untuk mencapai keinginannya, meletusnya perang dunia II sebagai bukti bahwa ini merupakan sebuah fakta kemajuan teknologi bukan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dengan damai dan sejahtera. kebebasan hanya memperkeruh tatanan kehidupan. Rusaknya aturan dan norma. Tak sedikit kritik yang dilontarkan terhadap modernism, walau bisa saja modernisme dibangun dengan sebuah konsep dan gagasan yang hebat. Kritik Lyotard konsep hebat modernisme tidak membuahkan apa yang diharapkannya, manusia seolah menjadi objek tunggal yang diberi kebebasan dalam menentukan segala bentuk persoalan, dipertanyakannya  eksistensi Tuhan sehingga rasionalitaslah/ kegiatan ilmiah yang dipuja dan diagung-agungkan tidak salah ketika power agamapun dipertanyakan bahkan dikritiknya, atau jangan-jangan menganut agamapun hanya karena hasrat dan gaya hidup. Hari raya keagamaan tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral  namun hanya menjadi sebuah event untuk meraup keuntungan duniawi. Ini pula yang dikatakan Chaney (2011) marak iklan dan industry jasa yang menawarkan “wisata religi” paket spiritualisme dan sufisme “umroh bersama kiai beken” berdirinya sekolah-sekolah islam yang mahal, kafe khusus muslim, menjamurnya konter-konter islam yang mahal berlabel Exclusive Moslem Fashion. Kegandrungan kelas menengah atas  akan moslem fashion show  dan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan sensibilitas keagamaan untuk keuntungan bisnis. Dalam hal ini telah ditanamkan ideologi yang samar-samar terbentuk: beragama tapi tetap tren  atau biar religius tapi tetap modis.

Islam merupakan salah satu agama besar di dunia, Indonesia sebagai negara  penganut muslim terbesar, tentu hal ini tidak luput dari berbagai persoalan  karena agama tidak hanya sekedar keyakinan namun merupakan sebuah relasi yang membentuk dan bertujuan untuk mewujudkan pola hidup yang lebih beradab sehingga membentuk kebudayaan. Fashion merupakan produk kebudayaan, dengan pakaian pula manusia bisa dibedakan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Islam  pakaian selain berfungsi melindungi tubuh yang lebih utamanya adalah untuk menutup aurat/ membatasi manusia dengan bukan mahramnya (hijab), karena perkembangan peradaban berbusana tidak lagi menjadi dan sekedar symbol keimanan namun telah menjadi tren dan gaya hidup. Yang pada akhirnya pergerakan gaya busana muslim berusaha merespon laju perkembangan zaman dengan memposisikan dirinya ditengah laju kapitalisme sehingga membentuk tren di tengah maraknya mode/ tren fashion yang dibawa kapitalisme ini dengan ditandai bermunculannya komunitas-komunitas hijab (hijabers) yaitu sekelompok anak muda/ muslimah yang berpakaian tertutup dengan gaya modis, gaul dan trendi.

 

  • Rumusan Masalah

Benarkah komunitas hijabers merupakan produk kuasa kapitalais atau hanya merupakan tindakan muslimah yang berusaha menangkis gelombang kapitalisme.

 

  • Teori

Sepert sudah menjadi kesepakatan bahwa sebagai produk desain, busana muslimah dibuat dan dirancang tidak hanya bertujuan  untuk menutup aurat, tetapi merupakan produk kebudayaan yang dapat menandai sebuah waktu, ruang dan peradaban. Namun gejala tren busana muslim bukan semata-mata alasan religiusitas melainkan terdapat komoditi yang ditumpangi kapitalisme (power, symbol, tanda, bahkan mitos).

 

  1. Pembahasan Teoritis
    • Hijabers

Hijab, al-Hijab, berasal dari bahasa Arab yaitu Hajaban yang memiliki arti menutupi, menghalangi sesuatu yang dicari seperti menghalangi diri dari penglihatan orang lain. Yang  kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi kata hijab yang memiliki arti dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain, dinding yang membatasi manusia dengan tuhannya.  Sebuah tulisan menjelaskan bahwa hijab dalam kitab Taj al-‘Urus adalah segala sesuatu yang menghalangi antara kedua belah pihak. Artinya ada sebuah benda yang menghalangi penglihatan kita terhadap orang lain, contohnya, ketika ada dua orang sedang berbicara, tetapi ditengah-tengah mereka terdapat tembok yang besar, sehingga dengan adanya tembok yang besar itu, mengakibatkan kedua orang itu tidak melihat satu sama lain, tembok inilah yang dinamakan al-Hijab. Sedangkan menurut istilah syara’, al-Hijab adalah suatu tabir yang menutupi semua anggota badan wanita, kecuali wajah dan kedua telapak tangan dari  penglihatan orang lain. http://dzikriii.multiply.com

Sedangkan hijabers merupakan kelompok atau komunitas muslimah yang mengenakan hijab dengan tampilan gaya, modis, gaul dan trendi. Dengan hijab telah membentuk sebuah tren busana muslim khususnya di Indonesia dimulai dengan dipakainya hijab oleh salah satu artis yang kemudian ini mendorong  perjalanan dan eksistensi tren hijab sampai pada munculnya komunitas-komunitas hijabers yang dengan konsisten mengeksplorasi gaya berjilbab yang lebih stylish, ini pula yang telah mendorong berkembangnya butik dan industri busana muslim terutama kaum muslimah. Bahkan banyak katalog, buku, majalah, yang khusus terbit hanya membahas tren busana muslimah termasuk referensi busana muslim bahkan tutorial mengenai mode jilbab/kerudung menjadi industry baru yang cukup menjanjikan.

 

  • Kuasa/ Power

Power adalah merupakan energi yang dimiliki oleh setiap makhluk di dunia, manusia merupakan makhluk Tuhan paling sempurna tentu memiliki power karena itulah manusia mampu menguasai makhluk lainnya yang ada di muka bumi, tidak hanya itu manusia hidup berkelompok sehingga terbentuk komunitas, organisasi yang tiada lain merupakan bagian dari power dalam menggapai segala tujuannya. Power merupakan  komponen dasar dari agensi manusia dengan yang tidak hanya untuk mengintervensi sebuah kejadian yang kemudian hadir karena  adanya ketidakseimbangan dalam kemampuan manusia. Adapun Dahl (1961) theory of community power,  mengungkapkan bahwa “Power is the production of obedience to the preferences of others, including an expansion of the preferences of those subject to it so as to include those preferences” bentuk power tidak hanya terletak pada sebuah idologi (teks) power bisa diwujudkan dalam bentuk visual seperti pakaian.

  • Mitos/Myth

Mistis, gaib, tidak masuk akal dan tidak ilmiah mungkin itulah yang paling sering dikatakan ketika mendengar kata mitos, walapun dewasa ini telah banyak terbukti tidak sedikit  mitos menjadi sebuah kenyataan, mitos telah menciptakan dan mendorong berfikir dan jalannya rasio manusia. Kata mitos berasal dari bahasa Yunani mythos yang artinya ‘wicara’ yang menceritakan kisah-kisah tentang dewa, makhluk halus/ mistis, atau makhluk dunia lain.

Mitos adalah keirasionalan atau tahayul atau khayalan; pendeknya suatu yang tak berada dalam kontrol kesadaran dan rasio manusia. Filsafat lahir ketika manusia untuk pertamakalinya berusaha menghilangkan mitos dan menggantinya dengan logos. Dan saat kelahiran filsafat itulah mula-buka dari sejarah usaha manusia rasional sendiri. Sebab, usaha manusia rasional dimaksudkan sebagai usaha manusia untuk meraih pengertian rasional. Dengan kata lain, sejak semua usaha rasional bermaksud untuk menghilangkan mitos. Sobur (2003:222)

 

 

Dalam budaya populer mitos menjadi sesuatu yang dipelihara. Bahkan tak jarang dijadikan kendaraan dalam mencapai tujuan tertentu, memang seperti mengalami sedikit perubahan. Mitos yang dahulu dimaknai sebagai sesuatu yang gaib dan menyeramkan sekarang mitos hadir dalam gaya dan bentuk baru. Tentu banyak pendapat lain mengenai mitos tentu dengan pandangan berbeda, Bhartes menyebutnya mitos tiada lain hanyalah sebuah sistem komunikasi, jadi mitos tidak lebih dari sebuah pesan. Jelasnya karena mitos adalah sebuah mode penandaan yakni sebuah bentuk. Kurniawan (2001)

 

  • Tanda (Sign)

Mengenai Tanda dan petanda Barthes berpandangan petanda bukanlah merupakan “benda” tetapi representasi mental dari “benda“. Hal ini senada dengan pandangan Saussure, yaitu pasangan petanda dan penanda tidak dapat diberlakukan secara mutlak dia menyebutnya dengan istilah arbitrer dan non arbitrer dimana tanda dan petanda memiliki hubungan alamiah. Tentu berbeda dengan Peirce bahwa tanda itu selalu berkaitan dengan objek-objek lain yang ada disekelilingnya artinya setiap tanda yang muncul selalu berhubungan dengan sebab akibat.

 

  • Simbol

Simbol merupakan bagian dari tanda yang proses penentuanya tidak mengikuti aturan-aturan tertentu misalnya pemaknaan simbol warna tiap wilayah dengan adat budaya yang berbeda tentu akan memiliki pemaknaan berbeda pula. Jelasnya simbol adalah tanda yang mewakili sesuatu yang proses penentuan simbol itu tidak mengikuti aturan tertentu, kata-kata adalah tanda simbolik. Akan tetapi penanda apa pun-objek, suara, gambar, warna, nada musik dan sebagainya-bisa memiliki makna simbolik. Danesi (2010).

 

  1. Pembahasan

 

  • Gejala Tren Komunitas Hijabers

Identitas merupakan bentuk legitimasi manusia terhadap dirinya yang memberikan pembeda dengan makhluk lainnya. Sebagai makhluk sempurna tentu tidak ingin mendapat gangguan dari makhluk lainnya, namun hal ini tidak membuat manusia menjadi lebih baik justru kesempurnaan itu malah menjadi bumerang diantara manusia sendiri, salah satunya manusia cenderung ingin menciptakan pembeda antara individu, kelompok dan lingkungannya. Semua perilaku dilakukannya tiada lain hanya untuk mempertahankan eksistensi terutama menyangkut identitas dan pengakuan, sehingga manusia cenderung mementingkan kepentingan individu dan kelompoknya.

Dengan hijab telah membentuk sebuah tren busana muslim khususnya di Indonesia dimulai dengan dipakainya hijab oleh salah satu artis yang kemudian ini mendorong  perjalanan dan eksistensi tren hijab sampai pada munculnya komunitas-komunitas hijabers yang dengan konsisten mengeksplorasi gaya berjilbab yang lebih stylish, ini pula yang telah mendorong berkembangnya butik dan industry busana muslim terutama kaum muslimah. Bahkan banyak katalog, buku, majalah, yang khusus terbit hanya membahas tren busana muslimah termasuk referensi busana muslim bahkan tutorial mengenai mode jilbab/ kerudung menjadi industry baru yang cukup menjanjikan.

 

  • Gaya Berhijab

Gaya berhijab telah menjadi tren di kalangan muslimah, namun secara garis besar gaya busana muslimah penulis membanginya menjadi dua yang pertama “modern” yang kedua “syar’i” (sesuai syariah) keduanya merupakan gaya hidup dan menjadi tren dimasyarakat hingga saat ini. Lalu muncul komunitas yang menamakan dirinya sebagai komunitas hijabers/ berhijab dimana posisi keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menutup, menghalangi diri dari pandangan orang lain. Dari kedua gaya ini masing-masing memiliki power berbeda, keduanya merupakan tanda dan simbol-simbol keimanan seseorang. Kebanyakan masyarakat kita lebih mengedepankan simbol-simbol dibanding sesuatu yang sifatnya lebih prinsipil, misalnya seseorang yang memakai gamis atau cadar dianggap orang sholeh, baik, dan dekat dengan tuhan mitos inilah yang berkembang dimasyarakat, termasuk tren, gaya, modis, semuanya merupakan mitos yang diciptakan untuk kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Kemudian dari kelompok-kelompok inilah gaya diciptakan dan diproduksi, termasuk kode dan tanda-tanda sehingga membentuk symbol-simbol baru seperti kerudung yang gaul, modis dan trendi di anggap sebagai gaya modern. Yang jadi ukuran mereka bukan lagi religiusitas namun model, artis, bintang film sehingga hal inilah yang membuat bias ajaran-ajaran agama. Yang hasilnya masyarakat tidak lagi memiliki sikap dan kepribadian sebagai muslim.

abuubaidillahgorontalowiy.wordpress.com

Gambar diatas memperlihatkan sebuah ruang yang membandingkan busana muslimah yang gaul, modis, trendi dengan yang  syar’i (sesuai syariah). Keduanya  merupakan sebuah, symbol, tanda , mitos dan power (power agama dan keyakinan) yang tanpa kita tahu apa yang dikehendaki tuhan antara keduanya. Keduanya kemudian berkembang hingga menjadi gaya hidup di masyarakat (kaum muslimah).Walau pada ruang yang sama keduanya merupakan gaya hidup yang bisa menceritakan waktu dan jaman yang berbeda masa lalu dan sekarang bahkan bisa membentuk sebuah persepsi/ anggapan “gaul” dan “tidak gaul” walapun keduanya sama-sama mengenakan hijab yaitu memakai penghalang atau penutup aurat. Terlebih ketika isyu terorisme melanda dunia keduanya didudukan pada tempat yang sangat kontras yang satu “moderat, liberal” dan yang satu “ortodok, garis keras”.

 

Atas nama agama, tuhan, budaya, modernisme, kapitalisme,

 

 

 

 

 

Fenomena gaya hidup hijabers telah membentuk sebuah kekuatan misalnya konferensi pro hijab yang berlangsung di Inggris bahkan hari hijab sedunia yang berlangsung tiap tanggal 4 September telah menjadi event besar komunitas hijabers ini menunjukan hijabers tidak hanya sekedar penutup aurat dan gaya hidup namun sebuah pergerakan yang memuat beragam unsur sehingga tidak lagi agama dan universalitas ketuhanan namun lebih kepada muatan dalam merespon gelombang  moderenisme, nilai-nilai ketuhanan seakan hanya dijadikan mitos belaka.

 

 

 

  1. Kesimpulan

 

Produk desain telah membangun dan memupuk hasrat dan keinginan manusia untuk dapat membedakan diri dan lingkungannya. Tentu hal ini tidak lepas dari kapitalisme sebagai motor penggerak modernisme hingga membentuk kaum konsumtifisme yaitu orang-orang yang lebih mementingkan keinginan dibanding kebutuhan, mereka tidak lagi melihat fungsi dan kebutuhan melainkan rasa ingin memiliki sesuatu yang tujuannya hanya ingin menampilkan gaya dan kemewahan. John A. Walker (2010). Menyebutnya gaya hidup hanyalah menawarkan rasa dan identitas yaitu untuk mengurangi kecemasan. Kecurigaan bahwa perkembangan busana muslim hingga terbentuknya gaya hidup dan komunitas-komunitas yang mengatasnamakan agama dan keyakinan sebagai bukti akumulasi dari kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran  yang selama ini menyelimuti kalangan muslim terhadap kelangsungan ajarannya termasuk didalamnya pergaulan manusia modern yang tidak sebatas antar manusia, melainkan dengan produk yang digunakannya, seperti pakaian dan perhiasan lainnya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal (2011) Pengantar Filsafat Barat, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Barthes, Roland (2010) Membedah Mitos-mitos Budaya Massa, Yogyakarta: Jalasutra

Chaney, David (2011) Livestyles sebuah pengantar komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra

Danesi, Marcel (2010) Pengantar memahami Semiotika Media, Yogyakarta: Jalasutra

Fiske, John (2011) Memahami Budaya Populer , Yogyakarta: Jalasutra

Kurniawan. (2001) Semiologi Roland Barthes, Magelang: Yayasan Indonesiatera

Sobur, Alex  (2003) Semiotika Komunikasi, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,

Sarup, Madan (2011) Postrukturalisme dan Posmodernisme, Yogyakarta: Jalasutra

Thwaites,T (2009) Introducing Cultural and Media Studies, Sebuah Pendekatan                  Semiotik, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra

 

http://dzikriii.multiply.com

http://www.republika.co.id

http://www.salimah.or.id

 

 

 

 

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s