Anotasi Bibliografi

Tinarbuko, Sumbo. 2010. Semiotika komunikasi visual. Yogyakarta: Jalasutra

Buku ini mengupas semiotika komunikasi visual berdasarkan atas pemahaman beberapa teori semiotika dengan meminjam Teori Peirce yaitu melihat tanda pada karya desain komunikasi visual (ikon, indeks dan simbol); Teori Barthes yaitu melihat dari sisi hermenetik, semantik, simbolik, narasi dan kebudayaan serta Teori Saussure yang melihat makna-makna denotatif dan konotatif. Ketiga teori ini digunakan untuk mengupas beberapa media komunikasi visual dianataranya poster, t-shirt, sign system, dan logo. Pengarang berupaya untuk menjelaskan bagaimana makna yang terdapat dalam komunikasi visual tersebut.

 

Beberapa argumen dalam mengupas makna terkesan hambar ini telihat pada paparan pada pembahasan logo (halaman. 100). Pada bahasan tersebut hanya mengupas bentuk , visual, teks, dari permukaannya saja.

Diungkapkan:

…. Lingkaran merupakan representasi alam benda di dunia ini. Makna konotasi yang muncul dari ikon lingkaran adalah bahwa segala sesuatu yang diwakili dari sebuah lingkaran perwujudannya lebih dinamis, bersahabat, tahan lama, senantiasa kuat bila diuji oleh ruang dan waktu. Makna konotasi tersebut dipertajam lagi dengan pemanfaatan kode semantik. Yakni sebuah kode arahan Barthes (1974:106) yang mengandung konotasi pada level penanda. Semestinya kode semantik berdasarkan teori  Barthes tersebut dipaparkan secara lebih mendalam. Visual lain dalam logo tersebut seperti lingkaran, pengarang hanya menyebutkan lingkaran sebagai representasi alam benda di dunia ini tanpa memastikan wujud asal objek lingkaran yang dimaksud, seharusnya lebih dispesifikan kembali lingkaran tersebut apakah merupakan bola, roda atau benda lainnya sehingga muncul makna ganda dalam penafsiran logo tersebut.

 

 

 

 

 Danesi, Marcel. 2010. Pengantar memahami semiotika media. Yogyakarta: Jalasutra

Tanda dan makna dalam berbagai media dikupas secara mendetail dalam buku ini walau hanya sebatas permukaannya saja. Dari mulai media cetak seperti majalah, poster, logo, serta media digital seperti film, iklan termasuk media jejaring sosial. Marcel Danesi melalui buku ini memberikan sebuah panduan yaitu bagaimana kita memahami semiotika.       Dalam memahami semiotika visual (logo) Marcel memberikan beberapa contoh bagaimana cara kita meninjau logo, misalnya ‘logo Apple’ yang digunakan oleh Apple Computer Company Marcel memandang logo hanya berangkat dari mitos ……buah apel sebagai buah terlarang dalam Al-kitab bangsa Yahudi. Menariknya dalam buku ini tidak hanya memaparkan semiotika visual akan tetapi dilengkapi dengan cara memahami semiotika audio (musik), seperti Pop,Rock, Punk, hip hop dan lainnya.

Dalam memaknai logo pengarang hanya memberikan contoh semiotika berdasarkan pandangan Sausure yang hanya memaparkan makna konotatif dari bentuk logo tersebut. Seharusnya penulis juga mengupas semiotik berdasarkan pandangan Pierce atau tokoh semiotik lain yaitu memaparkan bagaimana kajian pemaknaan dibalik bentuk dan visual logo.

 

 

 

 Sobur, Drs. Alex. 2003. Semiotika komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Buku setebal 333 halaman ini memparkan secara jelas bagaimana kita bisa memahami semiotik, bagaimana teori semiotik, bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap tanda-tanda visual maupun verbal dari berbagai pandangan tokoh-tokoh semiotik seperti Ferdiand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roman Jacobson, Louis Hjelmslev, Roland Bartheus. Umberto Eco, Julia Kristeva, Michael Riffaterre dan Jacquest Derrida. Dalam bukunya, Alex lebih berkonsentrasi pada semiotika komunikasi, tentunya tidak hanya komunikasi verbal melainkan komunikasi bentuk dan visual. Misalnya media masa, Alex dalam pandangannya …mempelajari media adalah mempelajari makna darimana asalnya, seperti apa, seberapa jauh tujuannya,  bagaimanakah ia memasuki materi media, dan bagaimana ia berkaitan dengan pemikiran kita…. didalam buku ini pula disebutkan bagaimana kita memaknai  media dari segi politik, perekonomian, organisasi/birokrasi dan cultural. Walaupun dalam buku ini tidak terdapat contoh bagaimana mengkaji sebuah bentuk verbal dan non-verbal, namun memberikan uraian bagaimana langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan penelitian melalui kajian semiotik.

 

 

 

 Kurniawan. 2001. Semiologi Roland Bartheus. Magelang: Yayasan Indonesiatera

Diantara beberapa tokoh semiotika dunia, penulis memilih Bartheus beserta teorinya untuk dipaparkan. Buku ini lebih menekankan pada pandangan-pandangan Roland Bartheus terhadap tokoh semiotika seperti Saussure dan Peirce yang disebutkan lebih spesifik pada halaman 21 …. Carles Sanders Peirce (1939-1914) dikenal karena uraiannya yang relatif rinci tentang klasifikasi tanda. Berbeda dengan Saussure, Peirce lebih melihat kedekatan tanda dengan logika bahkan menyamakan logika dengan ilmu tanda itu sendiri (Lechthe, 1994:145). Kurniawan memandangnya orientasi semiologi lebih pada Saussure dan orientasi semiotika lebih pada Peirce (van zoest, 1992:2)  Dalam melihat petanda dan penanda, sintagma dan sistem, denotasi dan konotasi, Bartheus lebih banyak bersandar pada pemahaman Saussure bahkan Bartheus sendiri menggunkan Saussure sebagai modelnya dalam hal linguistik.  Pandangan Barheus terhadap petanda bukanlah merupakan “benda” tetapi representasi mental dari “benda“. Hal ini senada dengan pandangan Saussure, yaitu pasangan petanda dan penanda untuk mengerti yang satu maka harus mengerti yang lainnya.

Dalam buku ini pengarang tampak berusaha untuk memetakan antara semiologi dengan semiotika.

 

 

 

 

 Kajian teoritis semiotika media dan pilpres. Tatag Handaka. Jurnal Semiotika. Vol.2 Hal 45-53. Juni 2008

Menurut penulis media adalah sebuah ruang dimana institusi, komunikasi, kesatuan primordial, dan kepentingan mempresentasikan aktor politik pemilu. Pesan-pesan dalam media adalah ruang dimana gambar, narasi yang diucapkan, tulisan atau teks didesain sedemikian rupa sehingga makna yang dilahirkan bisa diprediksikan sesuai dengan kepentingan aktor politik pemilu. Dari sekian banyak media yang ada, seperti media cetak yaitu; poster, baligho, dan digital yakni; iklan, berita, talk shows, debat capres, dialog dan sebagainya.

Penulis membedah media pemilu pilpres ini melalui pandangan semiotika Saussure, Bartheus, serta Aart van Zoest. Berdasar pada pandangan tokoh semiotika tersebut berujung pada simpulan penulis yang dikatakan bahwa …iklan politik dalam media memang objek yang kaya akan intensitas, tetapi yang penuh gebyar untuk mengejar popularitas. Intensitas pajangan media atas calon pilpres merupakan simulasi politik, berhamburan namun tak satupun berkaitan dengan realitas publik.

Terlihat bahwa penulis mengkaji media pemilu ini sebatas permukaannya saja, karena di dalam penulisan tersebut tidak dibahas secara spesifik dari media yang ada dengan menggunakan pisau pembedah/ teori semiotik yang tepat. Berkaitan dengan media tentu tidak hanya media verbal  dalam hal ini mungkin penulis lupa karena diantara beberapa media pemilu banyak pula media yang sifatnya non-verbal misalnya poster, baligho, termasuk logo partai politik itu sendiri. Dari beberapa teori yang ada, penulis tidak memaparkan pemahaman semiotika menurut Peirce. Padahal melalui pandangan Peirce kita akan dapat memaknai media-media yang sifatnya non-verbal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s