Pengaruh Barat Terhadap Desain Modern Indonesia

arief johari

Magister Desain FSRD-ITB 2011

Implikasi Dunia Barat terhadap Desain Modern Indonesia

1.        Teori Zaman Poros (Achsenzeit) Karl Jaspers

Sulit ditebaknya peradaban manusia telah menimbulkan berbagai macam teori dan asumsi yang berbeda bahkan bertentangan. bagaimana tidak! Adanya tanggapan perbedaan  peradaban antara barat  dan timur telah menanamkan ideologi bahkan gerakan anti barat. Namun hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu faktor yang telah mendorong banyak lahirnya ilmu dan pengetahuan teknologi,  seni dan budaya berkembang hingga sekarang

Tidak salah kalau terbentuk premis bahwa  “dunia baratlah yang membentuk peradaban manusia modern” dalam berbagai sektor ilmu pengetahuan, teknologi , seni dan desain. Yang akhirnya semua ini memperlihatkan bahwa khasanah desain modern di Indonesia berada dalam pengaruh barat (Eropa dan Amerika)

Karl Jaspers telah membagi sejarah dunia dengan memecahnya menjadi beberapa periode hal ini telah memberikan pencerahan yang sampai saat ini belum ada teori yang menyanggahnya. Teori ini memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengalir dari barat.

mari kita lihat.

Dalam  buku desain kebudayaan (Widagdo,2005:5-14)

Pada periode kesatu dikatakan bahwa Jasper sangat berhati-hati mengemukakan pendapatnya ia mengatakan bahwa “postulat ini bersifat sementara karena secara ilmiah asal-usul manusia belum terungkap secara tuntas”

… manusia prasejarah dalam menghadapi situasi kehidupan sudah menunjukkan pola kognitif tertentu, misalnya dalam menghadapi ancaman bahaya. Dalam upayanya mengatasi rasa takut mereka membuat berbagai alat bantu, atau dalam situasi yang demikian, daya pikirnya tergugah untuk menemukan sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuan bertahannya. Selain itu, terbentuk berbagai pola perilaku, misalnya dalam hubungan antarjenis kelamin yang menghasilkan berbagai“aturan main” yang kemudian disepakati bersama, sikap terhadap kelahiran bayi dan kematian, serta sikap terhadap ayah dan ibu. Sikap dan cara manusia prasejarah telah menunjukkan sisi kemanusiaan yang membedakan dirinya dengan makhluk lainnya.(Widagdo,2005:5)

Pada masa ini manusia sudah  mengenal api dan ada usaha untuk mempertahankan hidup hal ini dibantu dengan adanya alat-alat seperti tongkat dan batu. Bahkan mulai mengenal bahasa verbal dan simbol-simbol tertentu artinya mereka telah sadar bahwa dirinya adalah manusia yang berbeda dengan makhluk lain.

Periode kedua peradaban manusia kian berkembang mengalami kemajuan dari periode sebelumnya karena mereka sudah mengenal budaya seperti kebudayaan Mesir dan Cina disamping itu kemajuan yang luar biasa manusia pada masa itu sudah mengenal dan berkembangnya organisasi, penemuan tulisan dan mulai mengenal /menggunakan transportasi (kuda) yang tak kalah penting pada periode ini terbentuknya bangsa-bangsa dan kerajaan.

Selanjutnya periode ketiga sangat luar biasa dengan otak dan nalarnya pada periode ini mampu melahirkan filsuf-filsuf, ini terjadi tidak hanya di barat dunia belahan timurpun mengalami hal yang sama seperti di Cina , Yunani, Iran ,India.

… bermunculan pemikir-pemikir besar dari tempat-tempat yang berbeda, di mana antara yang satu dengan lainnya tidak saling mengetahui. Dipelopori oleh para filsuf besar tadi, manusia dibawa pada kesadaran baru akan kehadirannya, kesadaran akan jangkauan kemampuannya, dan mengetahui keterbatasannya. Manusia mulai mempertanyakan hakikat eksistensinya, dan dengan kemampuan akal budinya mencoba mencari jawaban dan memahami dunia riil dan alam transendensi. (Widagdo,2005:8).

Periode ini dianggap sebagai peta awal terbentuknya peradaban manusia modern bagaimana tidak! Masa ini banyak lahir pemikir yang memperlihatkan bahwa terbukanya cakrawala dalam melihat dunia  karena pada masa ini pula manusia menemukan, menentukan letak dasar ketuhanan.

…Yang sangat penting dalam periode ke-3 adalah peletakan dasar- dasar rohani dan intelektualitas yang sudah demikian maju dengan tingkat kearifan yang tinggi hingga nilai-nilai yang diwakilinya masih menjadi dasar berpikir dan ditimba hingga kini. (Widagdo,2005:7)

Periode keempat dipahami bahwa periode ini lah sebagai titik awal berkembangnya dunia barat ilmu pengetahuan dan teknologi menjalar dan berkembang dari belahan eropa,

Dalam kurun waktu 500 tahun, lahir berpuluh-puluh pemikir di segala bidang, bidang filsafat, sains, teknik, dan seni. Dari dunia filsafat lahir filsuf-filsuf besar, seperti Bacon, Descartes, Hegel, dll. Di bidang sains lahir Galileo, Newton, dan Einstein. Di bidang teknik lahir James Watt dan Gustav Eifell. Di bidang seni rupa dan arsitektur lahir Leonardo da Vinci, Rembrandt sampai Picasso, Brunelleschi sampai Corbusier. Di dunia musik lahir Bach, Beethoven, dan seterusnya. Tidak dapat dipungkiri lagi, pengaruh mereka telah mendunia. (Widagdo,2005:10)

ilmu pengetahuan berkembang sangat luar biasa terutama setelah ditemukannya mesian cetak dengan hadirnya mesin cetak telah menyebabkan sirkulasi perkembangan ilmu pengetahuan semakin tak terbendung yang anehnya ini hanya terjadi di barat. Berbeda yang terjadi dibelahan dunia timur seperti  Arab dan Cina ilmu pengetahuan seperti jalan di tempat padahal kita tahu arab dan Cina sudah jauh sejak 2000 tahun sebelum masehi mereka sudah mengalami peradaban yang cukup tinggi. Disinyalir dalam hal ini organisasi memiliki peranan besar barat yang lebih terbuka (demokratis) dalam segala hal terutama ilmu pengetahuan telah membuka dunia ini pada taraf yang lebih tinggi (modern) yang justru sebaliknya di Cina dan Arab karena ilmu pengetahuan hanya boleh di pelajari oleh kaum kerajaan maka hal inilah yang menyebabkan statisnya ilmu pengetahuan bahkan pada bangsa-bangsa tertentu di belahan dunia timur dianggap terdapat ada beberapa peradaban/kebudayaan yang hilang.

Dalam seni rupa, ditemukan ilmu perspektif, teknik menggambar ruang dan benda 3 dimensi di atas bidang datar dengan membuat manipulasi visual seolah-olah pada bidang 2 dimensi dapat digambarkan kedalaman ruang dan jarak. Untuk ini dikembangkan metode menggambar yang mengacu pada kaidah-kaidah ilmu geometri. Menggambar dengan teknik perspektif adalah penerapan logika sains kedalam dunia kualitatif seni rupa. (Widagdo,2005:10)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong dunia barat untuk melakukan ekspansi ke negara-negara bagian timur termasuk Indonesia  ini merupakan benang merah yang sangat jelas bahwa teori poros Karl Jaspers telah membuktikan perkembangan IPTEKS khususnya di Indonesia sedikit besarnya telah banyak mendapat pengaruh barat. Ini bisa dilihat dari perkembangan pendidikan modern/formal di Indonesia

2.        Seni rupa dan desain di Indonesia

Kolonialisme Eropa terutama yang dilakukan oleh dua negara yakni Spanyol dan Portugis, telah memberikan dampak besar pada perkembangan budaya Timur (Indonesia). Portugis adalah negara Eropa pertama yang melakukan perjalanan mengarungi samudera sebelah selatan menuju Afrika, melewati selatan dari Timur Asia pada abad ke-15. Kemudian pada akhir abad ke-16 Inggris dan Belanda menyaingi monopoli Portugis dalam perdagangan di daerah Timur. Belanda kemudian menjajah Hindia Belanda sebagai negara koloni penghasil teh, kapas, kopi, emas dan sumber daya alam lainnya terutama Indonesia hingga jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang tahun 1942. Tentu hal ini sangat berpengaruh pada semua tatanan yang ada di Indonesia baik segi politik maupun kebudayaan yang imbasnya sampai pada perjalanan seni rupa dan desain.

…Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan  R. Saleh sampai awal abad 21,  terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan  konsepsi. Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran berhasil itu,  sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme  yang membuahkan seni alternatif  dengan munculnya seni konsep (conceptual art) seni instalasi, dan “Performance Art”, … di kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. ….  (Dharsono, 2004: 194).

Sejarah  mencatat, perkembangan seni rupa Indonesia pada tiap zamannya banyak dipengaruhi oleh kolonialisme terutama pada perkembangan seni rupa modern Indonesia yang selalu terkait dengan perubahan sosial dan juga memuat konteks-konteks sosial, ekonomi maupun kebudayaan. Hal ini terbukti dengan munculnya seorang seniman kaum pribumi (terjajah) bernama R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880) yang dinyatakan sebagai perintis, karena telah menanamkan tonggak pertama perjalanan seni rupa Indonesia (Sudarmaji dalam Dharsono, 2004:140). Dengan mendapatkan pendidikan gambar dari pelukis Belgia, R. Saleh dikirim ke negeri Belanda untuk belajar melukis dengan dibiayai pemerintah Belanda pada tahun 1829, Pertama kali yang harus dipahami dari sejak awal adalah perkembangan seni rupa modern Indonesia merupakan proyek kebudayaan Barat yang dibawa melalui Kolonialisme Eropa (Belanda). Perkembangan (seni rupa modern) berbeda dengan seni rupa yang telah hidup lama (seni rupa lokal) di Indonesia.

Jim Supangkat menandai ini dengan  pernyataannya:

 “Indonesia Modern art grew out of western culture, it was not a continuity and development of traditional arts, which have a different frame of reference” (Jim Supangkat, dalam Khalid Zabidi 2003:23)

3.        Masa Pendidikan Tinggi

Lahirnya lembaga pendidikan seni rupa secara formal maupun nonformal sangatlah berarti bagi perkembangan seni rupa dan desain di Indonesia, dengan berawal dari berdirinya sanggar-sanggar sebagai transformasi teknis, pengalaman, wawasan diantara para peserta didik. Baru sekitar tahun 1947 pendidikan tinggi seni rupa formal berdiri, pendirian ini berdasarkan pada  pemikiran seorang guru SMU bernama  Simon Admiral dan Ries Mulder, seorang seniman kebangsaan Belanda, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia sudah tidak adil diperlakukan oleh Belanda.(Ardiyanto, 1996)

Jika bangsa yang dijajah itu mendapatkan pendidikan dengan metodologi seperti Eropa, Barat, tentulah akan maju. Berangkat dari pemikiran bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan tinggi dalam berolah seni dan telah dibuktikan dengan banyaknya karya-karya tradisional dan aktivitas seni lainnya, ini mendorong untuk didirikannya lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Maka pada tanggal 1 Agustus 1947 didirikan “Universitaire Leergang Voor de Opleiding Tekenlaren” yang kemudian diubah ke dalam bahasa Indonesia dengan nama “Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar” yang tergabung dalam  Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia di Bandung (kini FSRD- ITB) dengan dosen berkebangsaan Belanda  dan salah satunya dari kaum pribumi bernama Sjafei Soemardja dengan akta mengajar dari Belanda yaitu “Middlebare Akte” dan pada tahun 1956 di lembaga tersebut dibentuk jurusan melukis di samping pendidikan yang mencetak  guru gambar.( A.D. Pirous, 2003: 164)

Ini merupakan titik tolak perkembangan seni rupa dan desain, yang ditandai dengan banyaknya kreasi para seniman pada masa itu yaitu merancang atau menciptakan objek-objek yang memiliki nilai guna seperti rancangan bangunan, dekorasi, poster, desain kemasan (packaging) desain pada kain (tekstil) kria keramik, logo ,furniture, potografi  dan dunia perfilman (movie). Ini telah mendorong munculnya berbagai karya seni rupa yang akibatnya seni rupa tidak hanya terkurung pada dunia gambar/lukis.

…perkembangan desain modern Indonesia didasarkan pada..objek desain… aspek sosial…aspek pendesain dan ..aspek pendidikan selain itu harus diperhatikan  konteks waktu antara tahun 1900 hingga tahun 1990an dasar pembahasan ini dipakai sebagai batasan karena padaterjadi  fase tersebut pergeseran dan perubahan penting, yaitu dimulainya program modernisasi terutama dalam kaitannya dengan peran para pendesain Belanda dan kebangkitan berfikir kaum pribumi (Agus Sachari, 2001:18)

Dirintisnya pendidikan modern oleh belanda telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir  rasional dan modern  tentu tidak hanya metodologi yang digunakan namun gaya yang dianutpun tentu sedikit besarnya baik disadari maupun tidak telah mendapat poengaruh barat. Terlebih banyak tenaga pengajar yang disekolahkan di negara-negara barat, Jerman, Francis, Belanda dan negara Eropa lainnya.

Referensi:

Sachari, Agus (2001) Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi                Budaya,Bandung:Penerbit ITB

Widagdo (2005) Desain dan Kebudayaan, Bandung:Penerbit ITB

Dormer, Peter (2008) Makna Desain Modern, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s