Seni Fiksi

PADA wawancara ini Mario Vargas Llosa bicara blak-blakan di pagi hari saat menghabiskan waktunya menulis selama tujuh hari dalam seminggu di kantornya. Pada musim gugur tahun 1988, ia menyempatkan wawancara ini di tengah jadwal yang padat untuk menjalankan Partai Liberal (Libertad Party) sebagai calon presiden Peru. Vargas Llosa telah menjadi pembicaraan lama dan terus-menerus dalam politik Peru dan isu politik Peru tersebut dituangkan dalam novel-novelnya. Kini saat ia mendekati kegentingan Pilihan Umum, ia menolak saran-saran bahwa dirinya hendak mencari kursi dalam politik. Selama kampanye ia sebutkan, sulit dengan emosi kosong dan retoris yang merupakan bahasa politik Pilihan Umum, ia kalah dalam pertarungannya terhadap Alberto Fujimori pada 10 Juni 1990. Mario Vargas Llosa lahir tahun 1936 di Arequipa, sebuah kota kecil di Peru Selatan. Ketika ia berangkat dewasa, orang tuanya cerai dan ia berpindah ikut neneknya ke Cochabamba, Bolivia. Pada tahun 1945 ia kembali ke Peru, dimana ia masuk Akademi Militer Leoncio Prado dan belajar ilmu hukum pada universitas Lima. Pada usia 19 tahun, ia menikah dengan Julia Urquid Illnas, bibi yang lebih dewasa berusia 14 tahun. Dari perkawinan pertama ini kemudian ia angkat sebagai bahan penulisan novelnya berjudul “Aunt Julia and the Scriptwriter” (1982). Usai menamatkan kuliah di universitas Lima, ia bereksil dari Peru selama 17 tahun. Selama kurun itu ia tinggal di Perancis, Inggris dan Spanyol serta berkeliling Amazon. Sejak ia menggondol doktor di Madrid, ia menjadi wartawan dan dosen. Pada masa berada di luar Peru itulah ia mulai menulis novel. “The Time of The Hero” merupakan novel perdananya yang diterbitkan di Spanyol tahun 1963 yang berdasar pengalamannya selama di Akademi Militer. Novel lainnya termasuk “The Green House,” (1963), “Conversation in the Chatedral” (1969) dan “The War of The End of The World.” (1981).

Vargas Llosa juga seorang penulis lakon sandiwara, seorang esais, dan mengisi acara wawancara sekali dalam seminggu pada televisi Peru. Ia menerima banyak penghargaan sastra bertaraf internasional dan sebagai ketua PEN dari tahun 1976-1979. Ia punya tiga anak dan hidup bersama istri keduanya, Patricia di kota Lima pada sebuah apartemen yang menghadap ke lautan pacific.

Penanya (P): Anda sebagai penulis ternama dan pembaca Anda sudah terbiasa dengan apa yang Anda tulis. Akankah diceritakan ke kami, apa yang Anda baca?

Mario Vargas Llosa (MVL): Beberapa tahun silam ada sesuatu yang membuat penasaran. Aku perhatikan bahwa aku semakin sedikit membaca karya kontemporer terkini dan semakin banyak baca para penulis lama. Aku baca lebih banyak pengarang di abad 19 daripada abad 20. Saat ini aku mungkin cenderung kurang mengarah ke karya sastra daripada esai dan sejarah. Aku tidak pedulikan mengapa aku membaca apa yang aku baca… Kadang alasannya keprofesionalan. Proyek sastraku terkait pada abad ke 19: sebuah esai tentang Victor Hugo Les Misérables. Atau sebuah novel yang terpengaruh oleh kehidupan Flora Tristan, seorang reformis Franco-Peru dan “feminist” avant-l-lettre. Tapi kemudian aku pikir, itu karena usiaku 15 atau 18 tahun, Anda merasa seolah-olah apa pun di dunia ini telah mendahuluinya. Jika Anda sudah berusia 50 tahun, Anda akan sadar bahwa hari-hari Anda tinggal sedikit dan sebab itu Anda harus selektif. Itu lah alasannya aku tidak membaca banyak karya kontemporer.

Tapi di antara karya kontemporer yang Anda baca, penulis mana yang paling Anda kagumi?

Saat aku muda, aku seorang pembaca Sartre yang bergelora. Aku telah baca novelis-novelis Amerika, khususnya generasi yang telah hilang, Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, Dos Passos, namun terutama Faulkner. Pengarang-pengarang tersebut aku baca saat aku masih muda, Faulkner salah satu yang sangat banyak membekas padaku. Aku tidak akan kecewa, jika aku membaca ulang karyanya, sebut saja, Hemingway. Sekarang ini aku tidak akan membaca ulang Sartre. Dibandingkan dengan banyak hal yang kubaca, fiksi Sartre tampak mundur dan banyak kehilangan nilai. Termasuk esai-esainya menjadi tidak begitu penting, satu perkecualian pada “Saint Gener: Comedian or Martyr,” yang masih kusukai. Karya-karyanya penuh kontradiksi, ambigu, tak akurat dan bertele-tele, hal ini yang tak pernah terjadi pada Faulkner. Faulkner adalah novelis pertama yang kubaca dengan pegang kertas dan pensil di tangan, karena tekniknya mengagumkanku. Ia adalah novelis pertama yang karyanya secara sadar aku coba untuk direkonstruksi dan dibuat bagan, misalnya mengenai pemetaan waktu, lintas waktu dan tempat, narasi yang terpecah dan kecakapannya ia menceritakan sebuah cerita dari sudut pandang yang beda agar tercipta sebuah ambigu tertentu, memberi kedalaman tambahan. Sebagai orang Amerika Latin, aku pikir itu sangat berguna bagiku membaca buku-bukunya, jika aku melakukannya karena karya-karya tersebut memuat teknik deskripsi yang cocok terhadap sebuah dunia yang berbobot, bukan tidak sama seperti karya yang Faulkner telah deskripsikan. Tentu saja setelah itu, aku baca penulis-penulis abad 19 dengan penuh gairah: Flaubert, Balzac, Dostojewsky, Tolstoy, Stendhal, Hawthorne, Dickens, Melvile. Aku masih seorang pembaca yang keranjingan dari para penulis abad 19.

Sepertinya untuk sastra Amerika Latin cukup susah, itu dulu hingga aku tinggal di Eropa, aku benar-benar menemukannya dan mulai membacanya dengan antusias besar. Aku harus mengajar di universitas di London, itu sangat memperkaya pengalaman karena memaksaku untuk berpikir tentang sastra Amerika Latin secara keseluruhan. Dari situ aku baca Borges, yang sudah aku akrabi, Carpentier, Cortazar, Guimanaes Rosa, Lezama Lima, seluruh generasi ini kecuali Garcia Marquez. Aku mengenal Marquez belakangan dan bahkan menuliskan sebuah buku tentang dia “Garcia Marquez: Historia de un Decidio.” Aku juga membaca karya-karya sastra Amerika Latin abad ke 19, karena untuk keperluan mengajar. Aku sadari ternyata kami punya penulis yang sangat bagus. Novelisnya mungkin lebih sedikit dibandingkan esais dan penyairnya. Sarmiento, misalnya, seorang yang tidak pernah menulis novel, tapi menurut pendapatku, ia produk penulis cerita yang berbobot di Amerika Latin, karya besarnya berjudul “Facundo”. Tapi jika aku dipaksa untuk memilih satu penulis, maka aku akan pilih Borges, karena dunia yang ia ciptakan benar-benar asli. Pada sisi lain imajinasi dan budaya yang ia ekspresikan khas dirinya. Tentu saja ada bahasa Borges yang bersinggungan dengan tradisi kami dan membuka sebuah tradisi baru. Bahasa Spanyol adalah bahasa yang mewah, beraneka-ragam, berlimpah. Penulis-penulis besar kita telah semuanya bertele-tele dari cervantes sampai Ortega y Gasset, Valle-Incàn atau Alfonso Reyes. Borges itu berbeda, semua teramputasi, irit dan teliti. Dia hanya lah penulis yang memakai bahasa Spanyol yang punya gagasan sebanyak kata-kata yang ia miliki.

Bagaimana hubungan Anda dengan Borges?

Aku melihat Borges pertama kali di Paris, dimana aku tinggal di awal tahun 1960. Ia mengisi acara di beberapa seminar tentang sastra yang fantastik dan sastra gauschesca. Kemudian aku mewawancarai dia untuk studio radio dan televisi Perancis, dimana saat itu aku bekerja. Aku masih ingat secara emosional. Setelah itu kami sering bertemu di berbagai tempat di dunia ini, bahkan di Lima, aku undang dia makan malam. Akhirnya ia minta aku megantarnya ke toilet. Ketika dia sedang kencing tiba-tiba mengatakan, “Katolik itu kamu pikir serius? Mungkin saja tidak”.

Terakhir kali aku melihatnya di rumahnya di Buenos Aires; aku mewawancarainya untuk sebuah tayangan di televisi yang aku kelola di Peru dan aku berkesan bahwa dia jengkel dengan beberapa pertanyaan yang aku lontarkan. Anehnya ia jadi gila, karena setelah wawancara, selama itu, tentu saja aku jadi penuh perhatian, bukan karena hanya kagum, aku merasa sangat menghormatinya aku memiliki orang yang elegan dan ringkih, itu lah dia. Aku kaget dengan rumahnya yang sederhana, dimana temboknya mengelupas dan atapnya bocor. Hal ini yang mungkin menyinggung dirinya. Setelah itu aku masih melihatnya sekali lagi dan dia benar-benar menjauh. Octavia Paz bilang aku, bahwa Borges benar-benar tersinggung karena tersangkut rumahnya. Satu-satunya yang mungkin menyinggung dirinya, karena apa yang aku utarakan, sebaliknya aku tidak melakukan apapun, kecuali mengaguminya. Aku tidak berpikir ia baca buku-bukuku. Menurutnya ia tidak pernah baca satu buku pun yang penulisnya masih hidup setelah ia menginjak usia 50 tahun, hanya membaca dan membaca ulang buku-buku yang sama…Tapi ia penulis yang paling aku kagumi. Tentu saja, ia bukan satu-satunya. Pablo Neruda adalah benar-benar penyair tulen. Dan Octavia Paz, tidak hanya seorang penyair besar, tapi juga seorang esais yang penting, seorang yang mengemas politik, seni dan sastra. Kegundahannya itu universal. Aku masih membaca karyanya dengan penuh minat. Juga gagasan-gagasan politiknya sangat mirip denganku.

Anda sebut Neruda di antara penulis yang Anda kagumi. Anda bekas kawannya. Seperti apa sosok dia?

Neruda memuji kehidupan. Ia liar untuk segalanya, terhadap lukisan, seni secara umum, buku-buku terbitan langka, makanan, minuman. Makan dan minum bagaikan sebuah pengalaman yang mistik bagi dia. Ia punya banyak kesukaan yang menakjubkan, penuh stamina – jika Anda lupa puisi-puisinya tentu ada pujian terhadap Stalin. Ia hidup dalam dunia yang mendekati feodal, dimana semuanya mengarah kegembiraan, kemewahannya manis untuk kehidupan. Aku punya nasib mujur bisa menghabiskan akhir pekan di Isla Negra. Tempat itu mengagumkan! Sebuah jenis mesin sosial bekerja di sekitarnya: sekelompok orang memasak dan bekerja – dan selalu banyak tamu. Itu sungguh sebuah lingkaran masyarakat yang lucu, sungguh hidup, tanpa mencoba sedikitpun nilai intelektual. Neruda benar-benar berseberangan dengan Borges, sosok yang tak pernah minum, merokok atau makan, yang dijuluki orang tak pernah bermain cinta, terhadap siapapun ia anggap sangat sekunder. Dan jika ia lakukan untuk semua itu, di luar kesopanan dan tak ada lagi. Sebab gagasan-gagasan, bacaan, refleksi dan kreasi adalah kehidupannya, nalurinya benar-benar alami. Neruda berada di luar dari tradisi Jorge Amado dan Rafael Alberti yang ia katakan sastra digerakkan oleh pengalaman hidup yang sensual.

Aku ingat hari perayaan ulang tahun Neruda di London. Ia ingin melakukan pestanya di atas kapal di sungai Thames. Untungnya, salah satu pemujanya, Alastair Reid, penyair Inggris tinggalnya di kapal di sungai Thames, sehingga kami bisa menyelenggarakan pesta ulang tahun untuknya. Saat perayaan tersebut, Neruda umumkan bahwa dia akan membuat sebuah cocktail. Itu minuman paling mahal di dunia, aku tidak tahu berapa botol Dom Perignon, buah juice dan Tuhan tahu apa lagi yang lainnya. Hasilnya jelas menakjubkan, tapi segelas saja sudah cukup untuk membuat Anda mabuk. Sebab itu semua orang mabuk tanpa perkecualian. Meskipun begitu, aku ingat ia bilang kepadaku. Sesuatu yang telah dilakukan menjadi sebuah saksi kebenaran sepanjang tahun. Sebuah artikel pada waktu itu- aku tidak ingat lagi tentang apa – mengecewakan dan jengkel kepadaku karena itu menyakitiku dan cerita bohong tentang aku. Aku tunjukkan artikel itu kepada Neruda. Ia berujar: “Kamu menjadi terkenal. Aku ingin kamu tahu, apa yang akan terjadi: semakin kamu terkenal, semakin kamu dimusuhi seperti itu. Setiap pujian, ada saja dua atau tiga yang mengejek. Aku sendiri punya dada yang penuh ejekan,… dan …orang perlu bertahan. Aku tidak menghindari seorang: maling, …semuanya! Jika kamu menjadi terkenal, kamu akan melewati jalan itu.”

Neruda cerita hal yang sebenarnya; ramalannya benar-benar terjadi. Aku tidak hanya punya sebuah dada, tapi beberapa koper penuh artikel yang berisi setiap ejekan yang sudah diketahui orang.

Bagaimana dengan Garcia Marquez?

Kami berteman; kami bertetangga selama dua tahun di Barcelona, kami tinggal pada jalan yang sama. Setelah itu, kami berpisah karena alasan-alasan pribadi dan politik. Tapi keretakan kami diakibatkan karena alasan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan keyakinan idiologinya – yang aku tidak pahami. Menurut pendapatku, tulisan dan sikap politiknya tidak sama kualitasnya. Katakanlah, aku sangat mengagumi karyanya sebagai seorang penulis. Seperti yang pernah kukatakan, aku menulis sebuah buku dengan ketebalan 600 halaman mengenai karyanya. Tapi aku tidak banyak menghormati dia secara pribadi maupun keyakinan politiknya yang bagiku tidak serius. Aku pikir cara-cara itu oportunistik dan berorientasi ke publik.

Apakah persoalan pribadi yang Anda sebutkan terkait dengan dugaan sebuah insiden pada bioskop teater di Meksiko?

Ada sebuah insiden di Meksiko. Tapi itu bukan masalah pokok, aku tidak pedulikan untuk diperbincangkan; itu membangkitkan begitu banyak spekulasi yang aku tidak ingin menambah materi bahasan. Jika aku menulis memoar, barangkali aku akan ceritakan kisah yang sebenarnya.

Anda memilih tema pada buku-buku Anda atau tema-tema itu yang memilih Anda?

Sejauh yang aku yakini, aku percaya tema itu lah yang memilih aku. Aku selalu punya perasaan bahwa kisah-kisah khusus itu berkehendak dengan sendirinya mengarah ke aku; aku tidak bisa mengelaknya karena dalam beberapa cara yang masih kabur, mereka itu terhubung pada beberapa jenis pengalaman yang mendasar – aku tidak bisa mengatakan seperti apa itu. Misalnya, ketika aku menghabiskan waktu di Akademi Militer Leoncio Prado di Lima, saat itu aku masih sebagai anak muda yang benar-benar memberikanku sebuah kebutuhan, sebuah keinginan obsesif untuk menulis. Saat itu benar-benar sebuah pengalaman yang traumatik dalam banyak cara menandai akhirnya masa kecilku – menyimak kembali negeriku sebagai masyarakat penuh kekerasan, terisi dengan kepahitan, yang berbentuk realitas ras, budaya dan sosial dalam oposisi yang sempurna dan kadang membangkitkan perseteruan. Aku duga pengalaman itu punya sebuah pengaruh pada ku, satu hal yang aku yakini bahwa pengalaman itu akan memberi dorongan besar kepada ku untuk berkreasi, mencipta.

Hingga kini, semua bukuku banyak diilhami dari cara seperti itu. Aku tidak pernah punya perasaan bahwa aku memutuskan secara rasional, dengan sangat enteng untuk menulis sebuah cerita. Sebaliknya, peristiwa-peristiwa tertentu atau orang-orang, kadang mimpi atau membaca, tiba-tiba mendesak dan minta diperhatikan. Sebab itu aku banyak bicara tentang pentingnya elemen tak masuk akal yang tulen sebagai kreasi sastra. Ketidakmasukakalan juga harus aku percayai, nyelonong kepada pembaca. Aku ingin novel-novelku dibaca dengan cara aku membaca novel yang aku sukai. Novel-novel yang memikatku kebanyakan adalah novel-novel yang memang mendarat kepadaku, setidaknya lewat saluran intelektual atau alasan daripada menyihir aku. Inilah kisah-kisah yang dapat memusnahkan dengan sempurna terhadap semua kritikku di fakultas, begitulah aku tinggalkan di sana dalam ketegangan. Itu jenis novel yang ingin aku baca dan jenis novel yang aku ingin tulis. Aku pikir, itu sangat penting bahwa faktor intelektual yang hadir tak terelakkan dalam sebuah novel, tak memecahkan ke dalam aksi, ke dalam cerita-cerita yang harus merayu pembaca tidak pada gagasan-gagasannya, melainkan pada warna-warnanya, pada emosi yang tersurat, pada faktor keterkejutan dan semua ketegangan dan misteri yang mereka bisa turunkan. Pendapatku, teknik sebuah novel hadir dengan penting untuk menghasilkan efek: untuk mereduksi dan jika mungkin menghapus jarak antara cerita dan pembaca. Jika merujuk seperti itu, maka aku penulis di abad 19. Novel bagiku tetap novel petualangan, yang dibaca dengan cara khusus dari apa yang telah aku tulis.

Apa yang menjadikan humor dalam novel-novel Anda? Novel-novel Anda yang terakhir jauh dari humor “Aunt Julia and the Schriptwriter”. Sulitkah mempraktikkan humor sekarang?

Tak pernah terlintas untukku apakah sekarang aku akan menulis sebuah buku guyon atau buku serius. Tema-tema pada buku-bukuku yang aku tulis beberapa akhir tahun ini memang tidak bersandar dengan humor. Aku tidak yakin dengan “War of the End of the World” dan “The Real Life of Alejandro Mayta” atau drama-drama yang aku tulis berdasarkan tema yang bisa mengusung kelucuan. Bagaimana dengan “The Real Life of Alejandro Masyta?” Di situ banyak sekali humornya, bukankah begitu?

Aku terbiasa “alergi” dengan humor karena aku pikir, sangat naif, yang mana sastra serius tak pernah tersenyum; bisa jadi humor akan menjadi bahaya jika aku ingin membicarakan masalah politik atau budaya dalam novel-novelku. Aku berpikiran ceritaku akan menjadi dangkal dan memberi kesan bagi pembaca bahwa tak ada lagi yang bobot selain hiburan. Sebab itu aku sebutkan lagi tentang humor, mungkin terpengaruh Sartre yang sangat membenci humor pada karya terakhirnya. Namun suatu kali aku temukan bahwa agar ada efek sebuah pengalaman hidup tertentu dalam sastra, humor bisa dipakai sebagai alat yang berharga. Itu terdapat pada “Pantaleon and the Special Service”. Sejak itu aku sangat sadar, humor sebagai sebuah kekayaan yang berlimpah, sebuah elemen kehidupan dasar dan tentu saja buat sastra. Dan aku tidak mengecualikan kemungkinan bahwa humor akan memainkan peran penting lagi dalam novel-novelku. Kenyataannya itu ada. Ini juga terjadi pada dramaku, terutama “Kathie and the Hippopotamus.”

Bisakah Anda ceritakan mengenai kebiasaan menulis? Bagaimana Anda menulis? Bagaimana sebuah novel itu asli?

Pertama, itu sebuah mimpi siang bolong, semacam pengolahan tentang seorang tokoh, sebuah situasi, kadang semua itu hanya bersarang di ingatan. Setelah itu aku buat catatan, struktur narasi yang singkat: seseorang masuk ke dalam adegan ini, pergi, melakukan ini atau itu. Jika aku mulai menulis novel itu sendiri, aku buat draf secara umum, kerangka plot – yang mana aku tidak pernah merombak, mengubahnya secara besar-besaran sepanjang proses menulis itu melaju, tapi dari situ aku memulai. Kemudian aku mulai menaruh seluruhnya tanpa memikirkan bentuk secara ringan yang sudah dipersiapkan, menulis dan menulis kembali adegan yang sama, memperbaiki secara keseluruhan dengan situasi-situasi yang bertentangan…

Bahan mentah menolongku, meyakinkanku kembali. Tapi itu bagian menulis yang aku lakukan paling keras. Jika aku berada di panggung, aku perankan dengan banyak variasi, selalu tidak yakin dengan hasilnya. Versi tulisan perdana dalam bentuk sebuah kegundahan yang memuncak. Setelah aku menyelesaikan draf, kadang akan memakan waktu lama sekali: untuk “The War of the End of the World,” pada tahap pertama berakhir hampir dua tahun – semuanya diubah. Aku tahu, ceritanya sudah ada, dikubur dalam apa yang aku sebut “magma” ku. Itu benar-benar kacau, tapi novelnya sudah ada, tenggelam dalam sebuah faktor kematian massal, adegannya yang tak berguna akan sirna atau adegannya diulangi beberapa kali dari perspektif yang berbeda, dengan tokoh-tokoh berbeda. Itu peristiwa yang kacau dan hanya menjadikan pelajaran bagiku. Tapi ceritanya sudah ada di situ. Anda harus memisahkannya dari sisanya, singkirkan dan itu bagian yang paling indah dalam menulis. Dari situ lah aku bisa menulis lebih lama berjam-jam tanpa keraguan dan ketegangannya sudah berjalan dalam tulisan di draf pertama. Aku pikir yang menarik bukan menulis itu sendiri, tapi menulis ulang, mengedit, mengoreksi….Aku pikir itu bagian pekerjaan menulis yang paling kreatif. Aku tidak pernah tahu, kapan sebuah cerita akan berakhir. Sebagian yang kutahu akan memakan beberapa bulan, kadang bisa memakan waktu sampai beberapa tahun untuk mengakhirinya. Sebuah novel tampaknya akan berakhir, jika aku mulai ada perasaan bahwa aku tidak akan mengakhirinya secara tergesa-gesa, cara itu lebih baik bagiku. Jika aku telah mencapai kejenuhan, jika kurasa sudah muak, jika aku sudah bisa lagi mencipta lagi, di situlah cerita itu selesai.

Anda menulis dengan tangan, pada mesin ketik, atau dengan alternatif lain?

Pertama, aku menulis dengan tangan. Aku selalu menulis di pagi hari, dan pada jam-jam awal hari, aku selalu menulis dengan tangan. Itu jam-jam yang paling kreatif. Aku tidak pernah menulis lebih dari dua jam seperti itu – tanganku sudah kram. Kemudian aku mulai mengetik tentang apa yang telah kutulis, membuat perubahan semampang penulisannya berlanjut: mungkin tahap pertama inilah untuk menulis ulang. Tapi aku selalu meninggalkan dua baris tak kuketik untuk hari berikutnya, aku bisa memulai dengan mengetik akhir dari apa yang telah aku tulis sehari sebelumnya. Memulai dengan mesin ketik menghasilkan dinamika baru – itu seperti sebuah latihan pemanasan.

Hemingway menggunakan teknik yang serupa, selalu meninggalkan sebuah kalimat yang selesai separuh ditulis dengan harapan ia bisa menyambung jalinan itu di hari berikutnya….

Ya, dia pikir dia tidak pernah harus menulis semuanya yang bersarang di kepala, sehingga ia bisa memulai lagi dengan mudah pada hari berikutnya. Bagian yang tersulit bagiku adalah saat memulai. Di pagi hari buat jalinan lagi, kegelisahan…Tapi jika Anda sudah punya sesuatu untuk ditulis, karya itu sudah mulai. Mesin itu siap bekerja. Meskipun begitu, aku punya jadwal kerja yang sangat ketat. Setiap pagi sampai pukul dua sore, aku berada di kantorku. Jam-jam ini yang menakutkanku. Itu bukan berarti aku harus selalu menulis; kadang aku merevisi atau membuat catatan. Tapi aku pada pekerjaan tetap sistematis. Tentu saja di pada hari-hari itu ada hari yang baik untuk berkreasi dan hari yang buruk. Tapi aku bekerja setiap hari bahkan jika aku sedang alpa gagasan-gagasan baru, aku dapat menghabiskan waktu untuk mengoreksi, revisi, buat catatan dan sebagainya….Kadang aku putuskan untuk menulis ulang potongan karya yang sudah selesai, walaupun hanya mengubah tanda baca.

Senin hingga Sabtu, aku mengerjakan novel yang dalam tahap in progress, dan pada Minggu pagi aku peruntukkan mengerjakan tulisan jurnalistik – artikel-artikel dan esai-esai. Aku coba pertahankan jenis kerja berdasarkan pembagian waktu hari Minggu, supaya tidak memperngaruhi proses kreatif pada sisa hari dalam seminggu. Kadang aku mendengarkan musik klasik, sementara aku membuat catatan, sejauh itu tidak ada lagunya. Itu dikarenakan aku mulai tinggal di sebuah rumah yang sangat bising. Pada pagi hari aku bekerja sendirian, tak ada seorang pun yang masuk ke kantorku. Bahkan aku tidak melayani telepon yang berdering. Jika aku layani itu, hidupku akan menjadi sebuah neraka yang hidup. Anda bisa bayangkan, berapa banyak telepon dan pengunjung yang aku dapatkan. Setiap orang mengenal rumah ini. Alamatku sayangnya sudah termasuk ke dalam arena publik.

Anda patuh tidak pernah meninggalkan rutinitas?

Aku kira tidak, aku tidak tahu bagaimana orang harus semestinya bekerja. Jika aku mulai menunggu mengucurnya inspirasi, aku tidak pernah akan menamatkan sebuah buku. Inspirasi bagiku datangnya dari sebuah usaha yang teratur. Rutinitas ini mempermudah aku bekerja, dengan penuh kesenangan atau tanpa, tergantung pada hari-harinya.

Victor Hugo, di antara penulis-penulis lain, percaya inspirasi berasal dari kekuatan magis. Gabriel Garcia Màrquez mengatakan, bahwa setelah bertahun-tahun perjuangannya dengan “One Hundred Years of Solitude,” novel itu menulis sendiri di kepalanya selama dalam perjalanan dengan sebuah mobil ke Acapulco. Anda baru saja mengatakan bahwa inspirasi bagi Anda sebuah hasil dari disiplin, tapi pernahkan Anda mengenal “Iluminasi” yang terkenal itu?

Itu tidak pernah terjadi padaku. Itu sebuah proses yang lebih lamban. Pada permulaan ada sesuatu yang sangat samar-samar, sebuah tahap kewaspadaan, sebuah kehati-hatian, sebuah kepenasaran. Semuanya kulihat dalam kabut dan ketidakjelasan yang membangkitkan daya tarikku, keingintahuan dan kesenangan dan kemudian menyublin sendiri ke dalam karya, kartu-kartu catatan, ringkasan plot. Kemudian ketika aku punya kerangkanya dan mulai meletakkan bahan-bahan yang teratur, sesuatu sangat membaur, yang sangat samar-samar itu menjadi jelas. “Iluminasi” hanya cocok dalam proses pengerjaan. Itu pekerjaan yang berat, menguras banyak waktu, bisa terbebas… Persepsi yang tinggi, yang menyenangkan mampu membawa wahyu, jalan keluar dan cahaya. Jika aku mencapai ke jantung sebuah cerita, aku telah bekerja beberapa waktu, kemudian ya sesuatu itu terjadi. Sebuah cerita berhenti menjadi dingin, tak nyambung denganku. Sebaliknya cerita itu malah hidup, begitu penting yang setiap kualami hadir hanya dalam keterkaitannya dengan apa yang aku tulis. Segala yang aku dengar, lihat, baca tampak dalam satu cara atau cara lain untuk menunjang pekerjaanku. Aku menjadi sejenis kanibal realitas. Tetapi untuk mencapai tahapan ini, aku harus melewati pekerjaan pembersihan. Aku hidup dalam jenis kehidupan kembar yang permanen. Aku lakukan seribu hal yang berbeda, tapi aku selalu punya angan pada karyaku. Jelasnya kadang menjadi obsesif, penyakit saraf. Jika sudah begitu dengan menonton bioskop menghiburku. Pada hari terakhir penulisan yang intensif, ketika aku menemukan diriku pada tahap sangat kacau, bioskop bisa sebagai jalan keluar yang bagus.

Pedro Nava, seorang penulis kronik, mencipta secepat melukis beberapa karakter, wajah, rambut, pakaian. Apakah Anda pernah melakukan hal itu?

Tidak, tapi dalam kasus tertentu, aku membuat draf lembar biografi. Itu tergantung pada cara aku membayangkan karakter. Meskipun karakter-karakter kadang bermunculan di depanku secara visual, aku juga menandai mereka dengan cara mereka mengeskpresikan dirinya sendiri atau terkait dengan realitas sekitarnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa sebuah karakter pasti sama secara fisik seperti yang aku tulis di kertas. Tetapi selain semua catatan Anda bisa mengambil sebuah novel. Aku pikir bahwa pada akhir apa yang diperhitungkan adalah apa yang terilih dalam memori. Apa yang mengendap, itu yang paling penting. Sebab itu aku tak pernah memakai sebuah kamera dalam melakukan ekspedisi penelitian.

Sebab itu dalam waktu tertentu karakter-karakter yang Anda bangun tidak berhubungan satu sama lain? Masing-masing punya riwayat diri secara pribadi?

Awalnya semua dingin-dingin saja, begitu tiruan dan mati! Sedikit demi sedikit, semuanya mulai hidup, sepertinya setiap karakter menjalin pertautan dan berhubungan. Di sitzu lah indahnya dan menyenangkan: jika Anda mulai menemukan baris-baris yang bernyawa, itu tak lain adalah karya dan karya yang lebih. Pada kehidupan sehari-hari, ada orang-orang tertentu, peristiwa tertentu, yang disadari dengan benar apa yang Anda perlukan untuk mengetahui sepotong karya yang Anda sedang kerjakan. Penggambarannya tidak benar-benar menjadi orang yang nyata, itu menjadi lebih tua, dipalsukan. Tapi pertemuan semacam itu hanya bisa tercapai jika cerita itu sudah melaju ke tingkat yang jauh, jika segalanya tampak terjaga untuk melaju. Kadang itu semacam sebuah bentuk pengakuan: “Oh, itulah wajah yang aku cari, intonasinya, cara bicaranya…” Pada sisi lain Anda bisa lepas kontrol terhadap karakter Anda yang terjadi terhadapku secara teratur, karena milikku adalah tidak pernah lahir dari pertimbangan-pertimbangan yang benar-benar rasional. Mereka itu lahir dalam karya lebih lewat tekanan yang instingtif. Sebab itu mengapa beberapa hal harus dengan segera dikerjakan karena lebih penting atau tampak mereka itu seolah-olah berkembang sendiri. Yang lainnya berpindah ke latar cerita, bahkan jika mereka tak punya makna untuk memulai. Inilah bagian yang paling menarik, jika Anda menyadari bahwa karakter-karakter tertentu minta lebih ditonjolkan, jika Anda mulai tahu bahwa cerita itu yang bergerak atas hukumnya sendiri, Anda tidak bisa mengelaknya. Itu kenyataan bahwa penulis tidak bisa menciptakan karakter yang ia sukai, karena mereka itu punya sebuah otonomi sendiri. Di sini lah momen yang paling menyenangkan, bila Anda menemukan kehidupan pada apa yang Anda telah ciptakan, sebuah kehidupan yang Anda harus hormati.

Kebanyakan karya Anda ditulis di luar Peru, yang bisa disebut sebagai sukarelawan eksil. Suatu kali Anda katakan bahwa Victor Hugo menulis di luar negerinya terhadap novel besarnya “Les Misérables”. Untuk menemukan dirinya sendiri jauh dari “Realitas Memusingkan,” agaknya ada nilai untungnya merekonstruksi realitas yang sama. Anda menemukan bahwa realitas itu menjadi sumber realitas yang memusingkan?

Ya, secara rasa, aku tidak pernah bisa menulis sesuatu yang berdekatan denganku. Kedekatan itu menghambat secara rasa, sehingga tidak membuatku menulis dengan bebas. Sangat penting bisa menulis dengan cukup kebebasan, hal ini akan memudahkan Anda mengeruk realitas, mengubah orang-orang, agar mereka bersikap berbeda atau memperkenalkan sebuah elemen pribadi ke dalam narasi, yang benar-benar berkekuatan. Itu lah esensi yang mutlak. Itu lah apa yang dinamakan kreasi. Jika Anda telah menemukan realitas di depan Anda, menurutku itu akan menjadi penghambat. Aku memerlukan sebuah jarak tertentu, bersabar, atau lebih baik diam, cukup waktu dan tempat. Dalam hal ini bereksil sangatlah efisien. Karena itu aku temukan disiplin. Aku temukan bahwa menulis itu kerja, dan karena sebagian besar merupakan sebuah kewajiban. Menjaga jarak itu berguna karena aku percaya pentingnya nostalgia bagi penulis. Secara umum alpanya tema akan menyuburkan memori. Misalnya, Peru dalam “The Green House” tidak hanya sebuah gambaran realitas, tapi tema nostalgia untuk seorang yang berasal dari situ dan merasakan sebuah kesedihan yang memuncak. Pada waktu yang sama, aku pikir jarak akan menghasilkan sebuah perspektif yang berguna. Jarak akan menyaring realitas, bahwa masalah rumit yang membuat kita pusing. Itu sangat sulit untuk menyeleksi atau membedakan antara apa yang penting dan apa yang kurang bermakna. Jarak membuat jarak itu memungkinkan. Hal itu memunculkan tingkatan yang perlu antara esensi dan kesementaraan.

Pada sebuah esai yang Anda terbitkan beberapa tahun lalu, Anda menuliskan bahwa sastra adalah sebuah gairah dan gairah itu eksklusif dan memerlukan semua pengorbanan untuk dibuat dan tidak terjadi dengan sendirinya “Tugas utama adalah tidak untuk hidup, tapi untuk menulis,” yang mana itu mengingatkanku sesuatu dari Fernando Pessoa, penyair Portugis yang menulis: “Untuk mengemudikan adalah perlu, untuk hidup itu tidak perlu.”

Anda bisa sebutkan bahwa menulis itu perlu dan untuk hidup itu tidak perlu… Aku mungkin harus ceritakan sesuatu kepada Anda tentang aku, sehingga orang bisa memahamiku dengan lebih baik. Sastra menjadi sangat penting bagiku, sejak aku masih bocah. Tapi meskipun aku banyak membaca dan menulis di masa sekolahku, tapi aku tidak pernah mengangankan bahwa suatu hari aku akan mengabdikan diriku pada sastra secara eksklusif, karena pada waktu itu banyak sekali sebuah kemewahan untuk Amerika Latin, terutama seorang Peru. Aku membujuk ke hal lain: aku rencana kuliah hukum untuk menjadi profesor atau seorang wartawan. Aku telah menerima apa yang bagiku penting melemahkan latar belakang. Tapi ketika aku tiba di Eropa dengan beasiswa setelah menyelesaikan kuliah, aku menyadari bahwa jika aku melanjutkan berpikir dengan cara seperti itu, aku tidak akan menjadi seorang penulis, satu-satunya jalan diputuskan secara tegas bahwa sastra tidak hanya akan menjadi profesi utama permulaan, tapi profesiku. Itu sebabnya ketika aku memutuskan untuk mengabdikan seluruh hidupku untuk sastra. Dan ketika aku tidak bisa mengurus hidupku sendiri, aku putuskan aku akan mencari pekerjaan yang bisa menyisakan waktu untuk menulis dan tidak pernah menjadikan pekerjaan sebagai prioritas. Dengan kata lain, aku ingin mencari pekerjaan yang masih terkait dengan kesibukanku sebagai seorang penulis. Aku pikir itu keputusan pada titik belok dalam hidupku karena dari situ aku menemukan kekuatan menulis. Di situ ada perubahan psikologi. Sebab itu sastra bagiku lebih seperti sebuah kegairahan daripada sebuah profesi. Secara gamblang, menulis itu sebuah profesi, karena membuat hidupku tergantung. Tapi meskipun aku tidak bisa mengurus diriku sendiri, aku akan masih melanjutkan menulis. Sastra adalah lebih dari sekadar modus vivendi (seni kehidupan). Aku percaya pilihan seorang penulis memberi dirinya sendiri terfokus pada karyanya, menyiapkan semuanya dalam pelayanan sastra, daripada menimbang ke dalam berbagai pilihan yang benar-benar pokok. Beberapa orang memikirkannya sebagai sebuah jenis kegiatan yang bernas atau dekoratif, dalam kehidupan mengabdi kepada hal-hal lain atau bahkan sebuah cara yang memerlukan status atau kekuatan. Pada kasus-kasus itu, ada kelompok, sastra membebaskan diri sendiri, tidak membolehkan Anda menulis dengan segala kebebasan, keberanian atau keaslian. Itu sebabnya aku pikir penting untuk membuat sebuah komitmen benar-benar total terhadap sastra. Betapa anehnya pada kasusku, ketika aku membuat keputusan itu. Aku pikir, itu artinya aku memilih sebuah kehidupan yang berat, karena aku tidak pernah mengimajinasikan bahwa sastra bisa cukup menyambung hidupku, meskipun tak harus hidup dengan baik. Itu semacam keajaiban, aku masih belum bisa memahami. Aku tidak harus mengorbankan diriku dari segala yang penting agar bisa menulis. Aku ingat perasaan yang banyak putus asa dan tidak bahagia pada diriku, jika aku tidak bisa menulis, saat aku tinggal di Peru, sebelum menuju Eropa. Aku kawin ketika aku masih muda dan aku harus kerja apa saja yang aku bisa dapatkan. Aku kerja tujuh kali pada waktu yang sama! Tentu saja itu secara praktis tidak mungkin bagiku untuk menulis. Aku menulis pada hari Minggu dan hari-hari libur, tapi kebanyakan waktuku tersedot pada kerjaan yang suram yang tak terkait dengan sastra dan aku merasa putus asa karenanya. Sekarang jika aku bangun pagi, aku sering kagum pada pikiran bahwa aku bisa menghabiskan kehidupanku melakukan apa yang memberiku kesenangan besar dan kelanjutan, hidup mereda dan baik.

Sudahkah sastra membuatmu kaya?

Tidak, aku bukan orang kaya. Jika Anda bandingkan pemasukan seorang penulis dengan seorang pimpinan perusahaan atau dengan seorang yang punya sebuah nama untuk dirinya di sebuah profesi atau di Peru dengan seorang penyanyi atau seorang atletik, Anda akan mendapatkan bahwa sastra tetap sebuah pekerjaan yang dibayar murah.

Anda mengingatkan ulang bahwa Hemingway merasa kosong, sedih dan bahagia pada waktu yang sama setelah ia menyelesaikan sebuah buku. Bagaimana Anda merasakan keadaan seperti itu?

Persis sama. Jika aku menyelesaikan sebuah buku, aku merasa ada sebuah kekosongan, sebuah kehilangan, karena novel telah menjadi bagian dariku. Dari suatu hari ke hari yang lainnya, aku melihat diriku tercabut olehnya – seperti orang kecanduan alkohol yang berhenti minum. Itu sesuatu yang semata-mata bukan tempelan; kehidupan itu sendiri tiba-tiba terkoyak dariku. Hanya ada obat dengan melemparkan diriku segera ke dalam beberapa penulisan yang lain, yang mana tidaklah sulit untuk melakukannya, sejak aku punya seribu proyek untuk diterjuni. Tapi aku harus kembali langsung ke penulisan, tanpa ada masa transisi sedikitpun, sehingga aku tidak membolehkan menghindari untuk menggali sendiri lebih dalam antara buku yang sebelumnya dengan yang akan datang.

Kita telah menyebut beberapa penulis yang karyanya Anda kagumi. Sekarang silakan cerita tentang karya Anda sendiri. Anda katakan beberapa kali bahwa “The War of the End of the World” adalah buku Anda yang terbaik. Anda masih berpikir seperti itu?

Itu novel yang paling banyak muatan, novel yang aku bumbui dengan kehidupanku. Perlu empat tahun untuk menyelesaikannya. Aku harus banyak melakukan penelitian, banyak membaca dan mengatasi banyak kesulitan karena novel itu pertama kali aku tulis tentang sebuah negara dari pandanganku, di zaman yang bukan zamanku, dan menghadirkan karakter yang bicara dalam sebuah bahasa yang tidak ada di buku. Tapi kisahnya tidak menyenangkanku seperti novel lainnya. Segala yang terkait dengan penulisan menggembirakan ku, dari hal-hal yang aku baca terhadap perjalananku melintasi bagian timur laut. Sebab itu aku merasa berempati sendirian terhadap buku itu. Tema juga memudahkanku menulis terhadap jenis novel yang aku selalu berkeinginan menulis, sebuah novel petualangan, dimana petualangan adalah penting bukan sebuah petualangan imajiner, tapi sebuah novel yang terkait dengan masalah-masalah sejarah dan sosial. Oleh karenanya mengapa aku menganggap “The War of the End of the World” sebagai bukuku yang terpenting. Tentu pula jenis keputusan ini selalu subjektif. Penulis tidak mampu melihat karyanya secara cukup objektif untuk mendudukkan semacam peringkat. Novel itu menjadi sebuah tantangan yang mengerikan bahwa aku ingin mengatasinya. Pada permulaan aku sangat cemas. Banyaknya jumlah hasil riset membuatku merasa pusing. Drafku pertama benar-benar gemuk dua kali ukuran novel. Aku bertanya kepada diriku sendiri, bagaimana aku mengatur seluruh adegan banyak itu dari ribuan kisah kecil. Selama dua tahun aku diliputi kegelisahan. Tapi kemudian aku mengadakan perjalanan ke timur laut sampai Sertao, dan di situ lah yang menyegarkan. Aku telah membuat semacam bagan. Aku sudah ingin membuat imajinasi cerita dulu, sebagai dasar bahan penelitian, setelah itu melakukan perjalanan. Perjalanan itu menjanjikan banyak hal dan menawarkan pandangan baru dengan yang lainnya. Banyak sekali orang yang membantuku. Yang asli temanya tidak dimaksudkan untuk sebuah buku, tapi sebuah film yang dipimpin oleh Ruy Guerre. Pada waktu itu Paramount di Paris dipimpin oleh seseorang yang aku kenal yang suatu hari ia memintaku, jika aku mau menulis cerita layar untuk film bioskop yang ia produksi dengan Guerra. Aku sudah melihat salah satu filmnya Tender Warriors, yang aku sukai sekali; sebab itu aku pergi ke Paris dan menemuinya. Ia menjelaskan kepadaku apa yang hendak dilakukan. Ia cerita kepadaku tentang apa yang ia pikirkan pada Canudos. Kita tidak bisa membuat sebuah film tentang Canudos, cara yang terkait dengan itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang perang di Canudos, bahkan aku tidak pernah mendengar tentang itu. Aku mulai meneliti dan membaca tentang Canudos dan pertama kali aku membacanya dalam bahasa Portugis berjudul Os Sertoes, oleh Euclides da Cunha. Itu salah satu kepuasanku yang terbesar dalam hidup sebagai seorang pembaca, mirip dengan membaca The Three Musketeers saat masih bocah atau War and Peace, Madame Bovary dan Moby Dick, saat masih muda. Sungguh sebagai buku yang bagus, sebuah pengalaman dasar. Aku benar-benar terpukau olehnya; itu salah satu karya terbesar yang dihasilkan dari Amerika Latin. Itu buku dahsyat karena banyak alasan, terutama karena secara sederhana diperuntukkan “Amerika Latinisme.” Anda akan menemukan pertama kali apa yang bukan Amerika Latin. Itu bukan banyak impor. Itu bukan Eropa, Afrika, Pra Spanyol Amerika, atau masyarakat pribumi, tapi pada waktu yang sama merupakan sebuah campuran dari semua elemen, hadir dalam sebuah kekasaran dan kadang caranya brutal. Semua itu menghasilkan sebuah dunia yang beberapa karyanya telah diolah begitu banyak dengan sentuhan akal dan sastra seperti di Os Sertoes. Dengan kata lain orang yang aku benar-benar berutang budi lahirnya novel The War of the End of the World, yakni Euclides da Cunha.

Aku pikir pada saat itu aku baca semua yang terkait dan pernah diterbitkan tentang perang di Canudos. Pertama, aku pernah menulis sebuah kisah untuk film yang tidak pernah diproduksi karena berbagai alasan yang tak bisa dipisahkan dengan industri film. Proyek itu mencapai kemajuan yang pesat, produksinya telah dimulai, tapi suatu hari Paramount memutuskan filmnya tidak akan dibuat dan memang begitu. Bagi Ruy Guerra tentu kecewa, tapi aku bisa melanjutkan pada tema tersebut, karena memukau aku yang selama ini hasilnya sangat sedikit, cerita film bukanlah segalanya. Sehingga aku mulai membaca lagi, melakukan penelitian dan mencapai puncak semangat yang mana beberapa buku juga menginspirasikanku. Aku mengerjakannya 10 sampai 12 jam sehari. Diam-diam aku takut dengan reaksi di Brasil terhadap bukuku. Aku khawatir dianggap mencampuri urusan pribadi… terutama penulis klasik Brasil telah mendukung tema ini. Ada beberapa review yang tak bersahabat terhadap buku itu, namun secara umum buku itu diterima dengan gembira dan antusias oleh masyarakat, itu mengharukanku. Aku merasa terlunasi atas upayaku.

Apa yang Anda pikirkan bahwa kesuksesan dari salah paham itu membentuk Canudos: pengikut partai republik melihat gejolak pemberontokan terhadap sistem monarki dan imperialisme Inggris, sementara kaum pemberontak sendiri percaya bahwa mereka sedang melawan setan. Bisakah ini disebut sebagai sebuah metafora jenis ideologi?

Mungkin itu dimana nilai dari Canudos terletak untuk Amerika Latin, karena ketidaktahuan timbal-balik diproduksi oleh sebuah kenyataan versi yang fanatik, dimana mengajarkan kita melihat pertentangan antara kenyataan dan visi teori. Itu tragedi Amerika Latin dalam beberapa pokok dalam sejarah, negeri-negeri kita telah menemukan dirinya sendiri dipecah-belah dan di tengah perang saudara, kekerasan represif yang kuat, pembunuhan massal seperti pada Canudos, karena sama-sama tidak saling menyadari. Mungkin salah satu alasannya aku terpikat oleh Canudos, bahwa fenomena itu bisa dipelajari dalam bentuk miniatur di laboratorium seperti apa adanya. Tapi yang pasti, itu fenomena umum: fanatik dan tanpa toleransi dipertimbangkan dengan berat dalam sejarah kita: apakah pemberontakan kristiani, sosialis atau utopi atau perjuangan antara konservatif dan liberal. Dan itu jika tidak kerjaan Inggris, imperialis Yankee atau Freemasons atau setan. Sejarah kita telah ditandai oleh ketidakmampuan menerima perbedaan pendapat.

Anda pernah menulis bahwa tak satu pun karya Anda telah tergantung dengan yang lainnya sebaik ide lahirnya novel ini. Apa yang Anda maksudkan?

Kupikir novel seperti sebuah gender yang cenderung menuju perkembangan. Novel cenderung melangkah ke banyak keterkaitan, plot yang berkembang seperti sebuah penyakit kanker. Jika penulis mengikuti sebuah novel dengan setiap petunjuk cerita, maka akan menjadi sebuah hutan. Ambisi bercerita ke dalam seluruh cerita menyatu dalam sebuah gender. Meskipun aku selalu merasa akan hadir sebuah kesempatan jika Anda akan membunuh cerita, sehingga itu tidak akan berlanjut dengan tanpa batas, aku juga percaya bahwa menceritakan cerita adalah sebuah percobaan mencapai tingkat “total” dalam novel. Novel ini tanpa ragu, yang pernah aku tempuh paling jauh untuk diapresiasi adalah “The War of the End of the World.”

Pada “Mayta” dan “The War of the End of the World,” Anda mengatakan, Anda ingin membohongi dengan segudang pengetahuan kebenaran. Bisa dijelaskan?

Agar bisa berbohong, aku selalu harus memulai dari sebuah relitas yang konkret. Aku tidak tahu apakah ini benar untuk semua novelis, tapi aku selalu memerlukan lompatan dari realitas dan mengunjungi tempat-tempat dimana peristiwa itu terjadi; bukan semata-mata bahwa aku menghasilkan realitas ulangan. Aku tahu itu tidak mungkin. Bahkan jika aku ingin, hasilnya tidak akan bagus, itu akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

Pada akhir “Mayta”, sang pencerita menceritakan kepada kita bahwa karakter utama, kini memilki sebuah bar, punya masalah dengan mengingat kejadian yang begitu penting bagi sang pencerita. Apakah hal itu benar-benar terjadi? Apakah orang itu sungguh ada?

Ya, dia ada, meskipun dia tidak persis dengan apa yang digambarkan pada novel. Aku mengubah dan menambahkan banyak. Tapi sebagian besar karakternya merujuk ke seseorang yang pernah sebagai seorang militan Trotzkist dan beberapa kali dipenjara. Aku mendapatkan gagasan itu pada halaman terakhir, ketika aku bicara dengannya dan mengejutkan menemukan apa yang aku anggap sebuah masa yang paling gawat dalam hidupnya telah menjadikan peristiwa sampingan baginya – sebuah petualangan di antara yang lain dalam sebuah kehidupan yang berpetak-petak. Itu sungguh memukulku ketika aku sadari selama percakapan itu aku lebih tahu masalahnya daripada dia. Ia telah lupa beberapa fakta tertentu dan ada hal yang ia sama sekali tidak tahu. Kupikir bab terakhir paling utama, karena itu akan mengubah seluruh roh dalam buku.

Ceritakanlah kepadaku tentang Pedro Camacho dalam “Aunt Julia and the Scriptwriter” yang menulis berseri untuk radio dan memulai mencampur plot.

Pedro Camacho tidak pernah ada. Ketika aku memulai menuliskan untuk radio di awal tahun 1950-an, aku kenal seorang yang menulis radio berseri untuk Radio Central di Lima. Ia karakter yang asli yang berfungsi sebagai semacam sebuah mesin tulisan: dengan mudahnya ia menulis episode tak terhitung lagi, nyaris butuh waktu untuk membaca ulang terhadap apa yang ia telah tulis. Aku benar-benar kagum olehnya, mungkin karena ia penulis profesional pertama yang pernah aku kenal. Tetapi apa yang benar-benar mengejutkanku dunia yang luas ini tampaknya mencampakkan dirinya, seperti pelepasan napas; dan aku menjadi benar-benar tertantang olehnya ketika ia mulai melakukan apa yang Pedro Camacho lakukan dalam buku ini. Suatu hari cerita-cerita yang ia tulis mulai dengan menutupi sebagian dan mencampur saja dan studio radio menerima surat dari pendengar yang memperingatkan kepada mereka bahwa karakternya tidak konsisten bepergian dari satu cerita ke cerita yang lain. Itu lah yang memberikan gagasan kepadaku pada “Aunt Julia and the Scriptwriter”. Tapi dengan gamblang karakter pada novel menjelma ke berbagai transformasi, ia hanya sedikit saja terkait dengan modelnya, yang tidak pernah gila. Aku pikir ia meninggalkan posnya dan pergi berlibur… Akhir ceritanya kurang dramatik dibanding pada novel.

Bukankah ada semacam metabahasa dalam novel yang mewakili Varguitas, yang diberi model oleh Anda, hidup dalam sebuah kehidupan selucu karakter cerita Pedro Camachos.

Itu masalah hak. Jika aku menulis “Aunt Julia,” aku pikir aku hanya ingin bercerita tentang kisah Pedro Camacho. Aku sudah terbiasa masuk ke novel, jika aku sadari akan berbelok ke semacam permainan pikiran dan tidak akan sangat dipercayai. Dan sepertinya aku telah katakan sebelumnya, aku punya kecenderungan semacam realisme. Sehingga sebagai pengiring ke dalam absurditas kisah Pedro Camacho. Aku putuskan untuk mencipta plot realis yang lain lagi yang akan membenamkan novel tersebut dalam realitas. Dan sejak aku tinggal pada semacam opera sabun pada diriku pada waktu itu – perkawinanku pertama – aku termasuk ke dalam kisah yang lebih pribadi dan menggabungkan dengan yang lain, harapannya tercipta sebuah perlawanan antara dunia fantasi dan sebuah yang mendekati dokumentasi. Dalam upaya mencapai ini, aku sadari bahwa itu tidaklah mungkin dilakukan, jika Anda menulis sebuah kisah fiksi, sebuah petunjuk yang tidak realistis selalu merembet ke dalamnya, bertentangan dengan kemauan penulisnya. Kisah pribadi menjadi mengigau seperti yang lainnya. Bahasa itu sendiri bisa membentuk realitas. Sehingga kisah Varguita memiliki elemen-elemen otobiografi di dalamnya yang diubah secara mendalam, ditularkan seperti sedia kala.

Pada beberapa artikel tahun-tahun ini, Anda telah membuat tuntutan tertentu yang sangat permisif. Tahun 1982 misalnya, Anda menulis: “Sastra lebih penting daripada politik. Para penulis yang harus terlibat dalam politik hanya agar berjiwa melawan, itu sketsa yang berbahaya dan menempatkan mereka di tempat.” Bukankah itu sebuah visi pesimistik apakah politik bisa membuat kemajuan?

Bukan. Aku maksudkan bahwa sastra punya keajekan yang lebih daripada politik, bahwa seorang penulis tidak bisa menaruh sastra dan politik pada sepasang kaki yang sama tanpa kegagalan sebagai seorang penulis dan mungkin juga politikus. Kita harus ingat bahwa tindakan politik agak tak kekal, sementara sastra napasnya panjang. Anda bukan menulis buku untuk saat-saat ini saja: supaya sebuah karya mencapai pengaruh hingga ke masa depan, waktu pegang peranan, yang mana masalah ini tidak pernah atau jarang terjadi pada tindakan politik. Meskipun demikian, bahkan aku pernah katakan hal ini, aku tidak pernah berhenti melontarkan isu-isu politik atau memosisikan diriku dengan apa yang aku tulis dan apa yang aku lakukan. Aku percaya seorang penulis tidak bisa melepaskan dengan keterlibatan politik, terutama di negeri-negeri seperti negeriku, dimana masalah itu pelik dan ekonomi dan situasi sosial sering menjadi aspek yang dramatik. Sangat penting bahwa para penulis beraksi dengan satu atau cara yang lain, dengan menawarkan kritik, gagasan memakai imajinasi mereka untuk membantu pemecahan masalah-masalah. Aku pikir mendesak bahwa para penulis menunjukkannya – seperti semua seniman, mereka punya kepekaan keras daripada yang lainnya – pentingnya kebebasan untuk lapisan masyarakat maupun individu. Keadilan yang kita dambakan untuk ditegakkan, jangan pernah tidak dikaitkan dari kebebasan; dan kita tidak pernah menerima gagasan bahwa kebebasan pada waktu tertentu harus dikorbankan atas nama keadilan sosial atau keamanan nasional, seperti pada sistem totalitarian dari ekstrem kiri dan reaksi ekstrem kanan akan melanda kita. Para penulis tahu ini, karena setiap hari mereka punya kepedulian untuk berkreasi, dimana kebebasan itu perlu, karena kehidupan itu sendiri. Para penulis harus mempertahankan kebebasan mereka seperti sebuah keniscayaan yang diperlukan, sebuah gaji yang adil atau hak bekerja.

Tapi aku mengutip pernyataan Anda mengenai pandangan pesimistik itu, apakah politik bisa melakukan. Haruskah atau bisakah para penulis membatasi diri mereka untuk nenyuarakan perlawanannya?

Kupikir penting bahwa para penulis ikut andil, membuat pertimbangan-pertimbangan dan menyusupkan ke dalamnya, tapi mereka jangan izinkan politik merangsek dan merusak atmosfer sastra, wilayah kreatif sastra. Jika itu yang terjadi, akan membunuh penulisnya, membuatnya tak bernilai lagi lebih seperti seorang tukang propaganda. Untuk itu sangat penting bahwa ia harus membatasi kegiatan politiknya tanpa berkoar lagi atau menguliti dirinya dalam tugasnya untuk menyuarakan gagasannya.

Bagaimana jika seorang penulis yang selalu menunjukkan sebuah ketidakpercayaan terhadap politik menjadi seorang calon presiden di Peru pada Pemilihan Umum tahun 1990?

Sebuah negara kadang menentukan sendiri sebuah keadaan darurat, misalnya dalam sebuah perang, karena sudah tidak ada jalan lain. Keadaan di Peru saat ini menyedihkan. Ekonominya tenggelam. Inflasinya membubung tinggi. Lebih dari sepuluh bulan pertama tahun 1989, masyarakat kehilangan daya beli. Kekerasan politik menjadi sangat menonjol. Sebaliknya di tengah krisis itu, muncul kemungkinan membuat perubahan besar menuju kebebasan demokrasi dan ekonomi. Kita bisa berpikir ulang tentang sistem kolektif, model negara sosial yang sudah dipakai di Peru sejak 1968. Kita tidak akan kehilangan kesempatan ini untuk memperbaiki apa yang sedang diperjuangkan selama tahun-tahun terakhir ini: merombak ke sistem liberal dan membolehkan sebuah bentuk ekonomi pasar bebas. Tak disebutkan pembaharuan budaya politik di Peru bertanggung jawab terhadap krisis yang menyapu negeri. Semua alasan ini mendorongku untuk mengatasi dengan segala upaya yang kupunyai dan mengundang keterlibatanku terhadap perjuangan politik – sebuah ilusi yang sangat naif dari seluruhnya.

Sebagai seorang penulis, apa yang Anda pikirkan, kualitasmu yang terkenal dan kesalahanmu yang terbesar?

Aku pikir kualitasku yang terkenal adalah ketekunanku: aku mampu kerja keras dan mendapatkan lebih dari apa yang aku tak terpikirkan. Kesalahanku, aku pikir karena kurang percaya diri, itu yang menyiksaku sekali. Memerlukan waktu 3 atau 4 tahun untuk menulis sebuah novel – dan aku menghabiskan sebagian waktu yang indah itu untuk meragukan diriku. Semakin hari bukan semakin baik, sebaliknya, aku pikir aku semakin lebih kritis dan kurang percaya diri. Mungkin itulah aku tidak sia-sia: kesadaranku begitu kuat. Tapi aku tahu aku akan menulis sampai suatu hari aku mati. Jika aku tidak menulis, aku akan memanjakan otakku, tanpa sebuah bayangan dan sebuah keraguan. Aku akan menulis banyak buku lagi dan yang lebih baik. Aku ingin punya petualangan yang indah dan menakjubkan lagi dari apa yang sudah kupunyai. Aku menolak mengakui kemungkinan bahwa tahun-tahun jayaku sudah lewat dan tidak akan ada, meskipun aku menghadapi bukti itu.

Kenapa Anda menulis?

Aku menulis karena aku tidak bahagia. Aku menulis karena itu sebuah cara melawan ketidakbahagiaan. ***

* Sumber: Ricardo A. Setti, The Paris Review, 116, 1990.

* Diterjemahkan oleh Sigit Susanto

src

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s